Kekerasan tidak hanya ada di dalam rumah tangga saja, tapi juga bisa muncul dalam dunia pacaran. Kekerasan dalam pacaran bisa terjadi pada pasangan remaja dan tidak menutup kemungkinan kalau hubungan asmara orang dewasa juga mengalaminya. Apa yang menjadi penyebab kekerasan dalam pacaran? Mari simak penjelasannya di bawah ini.

Apa itu kekerasan dalam pacaran?

Kekerasan dalam pacaran bisa diartikan sebagai kekerasan fisik, seksual, psikologis, atau emosional dalam berpacaran. Kekerasan pada hubungan asmara ini juga termasuk, jika pasangan Anda termasuk menguntit (stalking). Menguntit yang dimaksud bukan hanya stalking di media sosial, tapi juga diam-diam mengikuti pasangannya dan terus memantau kegiatannya secara langsung. 

Kekerasan dalam pacaran juga bisa diwujudkan dengan tindakan membatasi pasangannya secara berlebihan. Misalnya melarang korban pergi tanpa dirinya, melarang korban untuk berteman dengan lawan jenis, dan sebagainya.

Apa yang menjadi penyebab kekerasan dalam pacaran?  

1. Tingkat kepercayaan diri pelaku rendah

Kepercayaan diri yang rendah atau rasa tidak aman (insecure) dapat membuat salah satu pasangan dalam hubungan asmara memperlakukan pasangannya dengan penuh kekerasan. Pelaku kekerasan dalam pacaran akan berusaha mengendalikan perilaku pasanganya. Ia pun akan merasa tidak percaya, kalau ada orang yang bisa mencintai dan mau menghabiskan waktu dengan si pelaku. Maka tak jarang, hal ini menjadi penyebab kekerasan dalam pacaran, sebagai alat untuk membuat korban setia dan takut untuk meninggalkannya.

2. Belum memahami seperti apa pacaran yang sehat

Banyak remaja mengalami kekerasan ketika menjalin hubungan asmara. Hal ini biasanya disebabkan karena mereka belum memahami dengan baik apa makna dari sebuah hubungan asmara dan apa saja batas-batas pacaran yang wajar dan tidak wajar.

Terlebih, ketika dua remaja yang tidak memiliki pengalaman dalam hubungan mulai menghabiskan waktu satu sama lain. Mereka pun akan mulai membentuk definisi mereka sendiri tentang bagaimana hubungan asmara berjalan, apa yang bisa diterima, dan apa yang tidak boleh dilakukan. Bahkan pada beberapa pasangan baru, pelecehan dan kekerasan dalam pacaran bisa mereka terima sebagai salah satu bagian yang normal (padahal tentu tidak). 

3. Pernah mengalami atau menyaksikan kekerasan di masa lalu

Pengalaman menyaksikan adanya kekerasan dalam hubungan asmara atau rumah tangga bisa memberikan dampak dan gambaran negatif bagi pelakunya. Pelaku kekerasan bisa mulai percaya, bahwa sebuah hubungan memang seharusnya terdiri dari kendali atas pasangan, makian, penghinaan, atau bahkan kekerasan fisik. Dengan begitu, pelaku kemudian akan melanjutkan ingatan mereka dan membiarkannya terjadi dalam hubungan yang dijalani. 

4. Ingin membangun citra tertentu di depan orang lain

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat mengatakan, pada diri seseorang bisa saja ada tuntutan untuk menampilkan citra atau image tertentu di depan orang lain. Hal inilah yang bisa menjadi suatu awal dari penyebab kekerasan dalam pacaran.

CDC mencatat bahwa image atau citra yang ingin ditunjukkan misalnya bagaimana ia mampu mengendalikan kekasihnya dengan mempermalukannya, membatasi, atau menyiksa secara fisik.

5. Tidak bisa mengelola emosi

Beberapa orang, termasuk orang dewasa, masih memiliki emosi yang belum matang. Mereka cenderung belum bisa mengendalikan emosinya. Inilah yang bisa memicu kekerasan, karena ia tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaan negatif secara sehat.

Contohnya, seseorang yang tidak tahu bagaimana mengomunikasikan perasaannya dengan baik tentang rasa cemburu mungkin menemukan cara lain untuk mengungkapkan perasaannya. Salah satunya dengan kekerasan yang dilakukan pada pasangannya.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca