Masih Pacaran Sudah Melakukan Kekerasan, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 06/01/2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Kekerasan tidak hanya ada di dalam rumah tangga saja, tapi juga bisa muncul dalam dunia pacaran. Kekerasan dalam pacaran bisa terjadi pada pasangan remaja dan tidak menutup kemungkinan kalau hubungan asmara orang dewasa juga mengalaminya. Apa yang menjadi penyebab kekerasan dalam pacaran? Mari simak penjelasannya di bawah ini.

Apa itu kekerasan dalam pacaran?

Kekerasan dalam pacaran bisa diartikan sebagai kekerasan fisik, seksual, psikologis, atau emosional dalam berpacaran. Kekerasan pada hubungan asmara ini juga termasuk, jika pasangan Anda termasuk menguntit (stalking). Menguntit yang dimaksud bukan hanya stalking di media sosial, tapi juga diam-diam mengikuti pasangannya dan terus memantau kegiatannya secara langsung. 

Kekerasan dalam pacaran juga bisa diwujudkan dengan tindakan membatasi pasangannya secara berlebihan. Misalnya melarang korban pergi tanpa dirinya, melarang korban untuk berteman dengan lawan jenis, dan sebagainya.

Apa yang menjadi penyebab kekerasan dalam pacaran?  

1. Tingkat kepercayaan diri pelaku rendah

Kepercayaan diri yang rendah atau rasa tidak aman (insecure) dapat membuat salah satu pasangan dalam hubungan asmara memperlakukan pasangannya dengan penuh kekerasan. Pelaku kekerasan dalam pacaran akan berusaha mengendalikan perilaku pasanganya. Ia pun akan merasa tidak percaya, kalau ada orang yang bisa mencintai dan mau menghabiskan waktu dengan si pelaku. Maka tak jarang, hal ini menjadi penyebab kekerasan dalam pacaran, sebagai alat untuk membuat korban setia dan takut untuk meninggalkannya.

2. Belum memahami seperti apa pacaran yang sehat

Banyak remaja mengalami kekerasan ketika menjalin hubungan asmara. Hal ini biasanya disebabkan karena mereka belum memahami dengan baik apa makna dari sebuah hubungan asmara dan apa saja batas-batas pacaran yang wajar dan tidak wajar.

Terlebih, ketika dua remaja yang tidak memiliki pengalaman dalam hubungan mulai menghabiskan waktu satu sama lain. Mereka pun akan mulai membentuk definisi mereka sendiri tentang bagaimana hubungan asmara berjalan, apa yang bisa diterima, dan apa yang tidak boleh dilakukan. Bahkan pada beberapa pasangan baru, pelecehan dan kekerasan dalam pacaran bisa mereka terima sebagai salah satu bagian yang normal (padahal tentu tidak). 

3. Pernah mengalami atau menyaksikan kekerasan di masa lalu

Pengalaman menyaksikan adanya kekerasan dalam hubungan asmara atau rumah tangga bisa memberikan dampak dan gambaran negatif bagi pelakunya. Pelaku kekerasan bisa mulai percaya, bahwa sebuah hubungan memang seharusnya terdiri dari kendali atas pasangan, makian, penghinaan, atau bahkan kekerasan fisik. Dengan begitu, pelaku kemudian akan melanjutkan ingatan mereka dan membiarkannya terjadi dalam hubungan yang dijalani. 

4. Ingin membangun citra tertentu di depan orang lain

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat mengatakan, pada diri seseorang bisa saja ada tuntutan untuk menampilkan citra atau image tertentu di depan orang lain. Hal inilah yang bisa menjadi suatu awal dari penyebab kekerasan dalam pacaran.

CDC mencatat bahwa image atau citra yang ingin ditunjukkan misalnya bagaimana ia mampu mengendalikan kekasihnya dengan mempermalukannya, membatasi, atau menyiksa secara fisik.

5. Tidak bisa mengelola emosi

Beberapa orang, termasuk orang dewasa, masih memiliki emosi yang belum matang. Mereka cenderung belum bisa mengendalikan emosinya. Inilah yang bisa memicu kekerasan, karena ia tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaan negatif secara sehat.

Contohnya, seseorang yang tidak tahu bagaimana mengomunikasikan perasaannya dengan baik tentang rasa cemburu mungkin menemukan cara lain untuk mengungkapkan perasaannya. Salah satunya dengan kekerasan yang dilakukan pada pasangannya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Minum Madu Setelah Minum Obat, Boleh atau Tidak?

Minum obat terus minum madu? Boleh atau tidak? Baiknya Anda simak penjelasan di sini mengenai bahaya dan anjuran saat minum madu.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat, Fakta Unik 27/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Menguak Manfaat Power Nap dan Bedanya Dengan Tidur Siang Biasa

Badan lemas, ngantuk, dan mata berat? Itu tandanya Anda butuh tidur siang! Yuk, intip trik power nap ini agar tidur siang lebih berkualitas dan bermanfaat.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Fakta Unik 23/07/2020 . Waktu baca 4 menit

5 Manfaat Buah Melon yang Menyehatkan Tubuh

Suka makan buah melon? Tapi, tahukah Anda kalau manfaat buah melon sangat baik untuk kesehatan tubuh manusia? Apa saja manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Fakta Unik 22/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Penyebab Demam Naik Turun Pada Bayi (dan Cara Mengatasinya)

Semua orangtua mungkin panik dan takut menghadapi bayi demam naik turun. Sebenarnya apa yang menyebabkan bayi demam naik turun? Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan Anak, Parenting 21/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

lemak paha sulit dihilangkan

Lemak Paha Anda Sulit Dihilangkan? Ini Penyebabnya

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 4 menit
penyakit menular seksual

7 Penyakit Kelamin yang Sering Menular Lewat Seks Tanpa Kondom (Plus Gejalanya untuk Diwaspadai)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 13 menit
cara tahan lama

Berbagai Cara Agar Pria Tahan Lama Saat Berhubungan Seks

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 28/07/2020 . Waktu baca 3 menit
tidur pakai bra

Tidur Sebaiknya Pakai Bra atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 28/07/2020 . Waktu baca 4 menit