Sudah Jujur Saja, Tak Apa Mengakui Kebohongan pada Pasangan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 27/06/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Ada kalanya seorang pasangan berbohong karena terpaksa menutupi hal yang bisa memicu pertengkaran. Kebohongan yang bertumpuk bisa membuat pikiran jadi terbebani. Maka itu, pikirkan apakah saatnya Anda kini berkata jujur dan mengakui kebohongan yang selama ini ditutupi pada pasangan.

Sudah saatnya berkata jujur dan mengakui kebohongan pada pasangan

ayah ibu depresi postpartum

Cepat atau lambat kebenaran akan terungkap. Bisa saja kita yang mengutarakan kebenaran itu, orang lain, atau pasangan. Begitu juga kebenaran atas hal yang selama ini ditutupi.

Hampir semua orang pernah berkata tidak jujur. Berbohong dilakukan dalam kondisi yang terpaksa atas reaksi yang tidak diinginkan. Dalam sebuah hubungan, kebohongan menjadi sebuah alasan untuk tidak menyakiti pasangan.

Di satu sisi mungkin Anda tak ingin melihat pasangan marah, menangis, atau melontarkan beragam pertanyaan. Tujuan tidak menyakiti pasangan memang baik, tetapi sikap ini cenderung memberikan perlindungan diri sendiri. Di sisi lain kebohongan adalah sebuah sikap yang egois.

Namun, tidak apa-apa, cobalah persiapkan diri untuk berkata jujur dengan mengakui kebohongan pada pasangan. Psychology Today mengatakan, kebohongan menjadi jurang kehancuran atas kepercayaan yang telah dibangun. Dari suatu kebohongan kecil bisa berlanjut menjadi kebohongan besar. 

Di dalam artikel tersebut juga dikatakan dari kebohongan-kebohongan yang telah tercipta bisa membuat dampak negatif pada orang tersebut. Selain pikiran tidak ingin menyakiti pasangan, ada sikap defensif yang memicu ia berperilaku manipulatif dan penuh kontrol. 

mengakui kebohongan pada pasangan

Misalnya, dalam sebuah hubungan pasangan A dan B. Akhir-akhir ini B pulang larut malam terus, tanpa mengabari A dan dikontak pun begitu sulit. Sewajarnya, A bertanya kepada B alasannya pulang terus larut. Namun, B marah dan selalu bilang ada pekerjaan tambahan.

Pada kenyataannya, B berbohong pada pasangan. Ia bermain dengan teman-temannya dan memiliki kekasih baru. Perasaan B juga dilanda rasa cemas, sehingga ia tidak berkata jujur pada A dengan alasan takut menyakiti pasangan terkasih. B meminta tak perlu menayakannnya lagi, ketika belum sampai rumah di atas jam tujuh malam artinya ia sedang lembur.

Ini hanya salah satu contoh. Mungkin Anda memiliki pengalaman yang berbeda. Mengakui kebohongan pada pasangan bukanlah hal yang mudah.

Pertama, Anda harus siap dengan diri sendiri untuk jujur seutuhnya mengungkapkan apa yang selama ini ditutupi. Kedua, Anda harus siap dengan reaksi pasangan yang bisa sesuai atau di luar dugaan.

Berkata jujur dan mengakui kebohongan pada pasangan memang akan menyakiti perasaannya. Tindakan ini benar bagaimanapun reaksinya. Sementara itu, berkata tidak jujur memang tak akan menyakiti perasaan pasangan, tetapi kebiasan ini membawa kehancuran sebuah hubungan.

Meski hati tersayat, jujur adalah kunci hubungan langgeng

pasangan butuh sendiri

Apa yang Anda bayangkan ketika berkata jujur pada pasangan dan mengakui kebohongan yang selama ini disimpan? Marah besar, berteriak, menangis, pingsan, atau lainnya? Wajar ada banyak hal yang berkecamuk di dalam pikiran Anda.

Namun, belum tentu bicara jujur membuat pasangan bereaksi demikian. Siapa tahu dengan berkata apa adanya, ini akan membangun kepercayaan dan ikatan emosional yang lebih kuat. Ketika keduanya terbentuk kuat, sesungguhnya itulah yang diinginkan banyak pasangan saat berkata jujur.

Mungkin tak banyak yang sadar, tumpukan kebohongan bisa membuat skenario terburuk dalam kehidupan. Belum lagi jika menunda berkata jujur, bisa saja pasangan akan melihat kebenaran itu sendiri sebelum keluar dari mulut Anda.

Pilihan dan skenario ada di tangan Anda, apakah lebih baik mengakui kebohongan pada pasangan sekarang atau mungkin ada kalanya nanti?

Ketika pasangan menemukan kebenaran atas kebohongan, bisa jadi timbul trauma kepercayaan dalam dirinya. Jika ini terjadi, sulit baginya untuk mempercayai Anda kembali. Bahkan di lain waktu, ia jadi sulit mempercayai orang lain. 

Menurut Good Therapy, berkata jujur bisa menyayat hati pasangan. Namun dampaknya pun tidak lebih dalam ketika pasangan mengungkapkan kebenaran sendiri yang pada akhirnya lebih menyakitkan.

dimanfaatkan oleh pasangan

Tak ada salahnya berkata jujur dan berterus terang. Di dalam jurnal Culture, Health & Sexuality disebutkan bahwa kepercayaan terkait erat dengan kesetiaan, kerapuhan, dan keintiman secara emosional. Memahami segala hal dan persoalan yang terjadi, dapat mendukung sebuah hubungan percintaan yang sehat.

Jujur dengan mengakui kebohongan pada pasangan bisa memberikan ruang untuk mengembalikan kepercayaan pada pasangan. Meskipun ada rasa takut yang membekas, setiap pasangan berharap bahwa kesetiaan akan tetap berlanjut setelah kebenaran terungkap. Proses membangun kepercayaan kembali memang tidak mudah. Kita perlu sadari setiap tindakan akan menuai risiko. Pilihannya, di tangan Anda. Bersiaplah dan ketahui risiko yang mungkin terjadi.

Lebih baik hindari kebohongan sebisa mungkin. Kejujuran adalah cara hidup, bukan sekadar sikap. Bersikap jujur akan membawa kenyamanan pada diri Anda dan pasangan, meskipun harus melalui proses yang berat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Direkomendasikan untuk Anda

hubungan asmara penderita adhd

Selain Hubungan Seks, Ada Masalah Hubungan Asmara pada Penderita ADHD

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit
pasangan menjadi sahabat

Manfaat Pasangan Menjadi Sahabat dalam Hubungan Asmara

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 06/06/2020 . Waktu baca 4 menit
jujur pada pasangan

Perlukah Jujur Pada Pasangan Soal Hubungan Masa Lalu?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 23/10/2019 . Waktu baca 3 menit