5 Gangguan Kesehatan Akibat Patah Hati

Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Patah hati tak hanya berdampak terhadap kondisi psikis seseorang. Kondisi ini juga bisa berdampak buruk terhadap fisik dan menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan.

Penelitian membuktikan bahwa patah hati dapat menyebabkan gangguan kesehatan tubuh. Bahkan masalah kesehatan yang timbul akibat patah hati bisa menjadi sangat serius di beberapa kasus. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh saat Anda patah hati?

Berikut 5 gangguan kesehatan yang dialami tubuh ketika patah hati.

1. Otak mengirimkan sinyal rasa sakit dan rasa rindu yang nyata

Galau dan kangen ternyata tidak hanya sebatas gombalan. Studi pada 2010 yang dimuat dalam Journal of Neurophysiology menyatakan, saat Anda dipaksa untuk berpisah setelah menghabiskan sebagian hidup dan terbiasa dengan kehadiran seseorang yang dicintai, otak akan mengirimkan sinyal rasa sakit ke sekujur tubuh dan menimbulkan berbagai gejala withdrawal serius, layaknya orang sakaw.

Penelitian dilakukan dengan mengharuskan 15 orang yang baru saja putus cinta untuk memandangi foto mantan pacar dan kemudian memecahkan soal matematika. Kemudian proses tersebut diulang kembali, namun menggunakan foto relasi terdekat yang tidak memiliki hubungan romantis apapun.

Hasil pindai otak dari para partisipan menunjukkan area tertentu dalam otak yang bisa memicu rasa sakit tampak teraktivasi saat melihat foto mantan mereka.

Sakit kepala mencengkeram, tidak nafsu makan, susah tidur, dan “mata panda” yang dialami akibat putus cinta bisa dibuktikan secara ilmiah. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar dopamine dan oxytocin, senyawa kimiawi yang membuat bahagia, tergantikan oleh kadar kortisol (hormon stress) yang melejit. Persis dengan gejala fisik akibat putus obat yang dialami oleh pengguna kokain.

2. Tubuh membangun respon fight or flight

Saat terancam, otomatis Anda akan melakukan berbagai macam cara demi bertahan hidup. Respon fight or flight merujuk pada reaksi fisiologis yang timbul akibat suatu pemicu stres, baik secara mental maupun fisik.

Sebagai respon stres, sistem saraf simpatetik dalam otak akan diaktifkan akibat pelepasan sejumlah hormon secara tiba-tiba. Sistem saraf akan menstimulasi kelenjar adrenalin yang memicu produksi catecholamine guna menyiagakan tubuh Anda untuk mengambil tindakan.

Akan tetapi, produksi hormon di saat tubuh tidak membutuhkannya akan membawa sejumlah masalah lain, seperti sesak napas dan badan linu (akibat produksi kortisol berlebih), jantung berdebar kencang (akibat produksi kortisol dan adrenalin), dan penumpukan lemak dalam tubuh.

Jika saat patah hati Anda merasa nafsu makan sangat jauh berkurang, ini adalah akibat dari produksi kortisol dalam tubuh yang meningkat. Kortisol yang diproduksi saat stres akan menghambat aliran darah masuk ke dalam saluran pencernaan. Akibatnya, produksi asam lambung pun meningkat dan memberikan rasa tidak nyaman dalam perut. Makanan yang masuk ke dalam tubuh pun terasa hambar dan tidak menggugah selera, membuat Anda makin ogah makan.

Dan menurut sebuah studi tahun 1994, stres bahkan dapat mempengaruhi distribusi lemak, karena kortisol mempromosikan pengendapan lemak terutama di daerah perut Anda.

3. Jerawatan dan rambut rontok

Lagi-lagi karena hormon. Sebuah studi tahun 2007 yang dimuat dalam The New York Post berhasil mengesampingkan faktor-faktor penyebab umum jerawat seperti polusi dan memastikan bahwa stres benar-benar dapat mengakibatkan peradangan jerawat.

Peneliti mengatakan, sebesar 23% kasus peradangan jerawat muncul saat orang-orang berada di bawah tekanan stress yang sangat tinggi, seperti saat sedang patah hati.

Stres ternyata juga mengakibatkan rambut rontok. Daniel K. Hall-Flavin, M.D, seorang konsultan kesehatan di mayoclinic.org, menyatakan, ada sejumlah alasan mengapa stress dapat mengakibatkan kerontokan rambut.

Produksi hormon akibat stres akan melonggarkan folikel rambut secara bertahap, menyebabkan helaian rambut rontok saat disisir atau saat Anda sedang mencuci rambut. Tidak hanya itu, stress akibat patah hati juga bisa memicu kebiasaan Anda untuk mencabut rambut dari kulit kepala (disebut trichotillomania). Hal itu timbul sebagai solusi sementara menghadapi perasaan kalut dan tidak nyaman akibat stres, kesepian, atau frustasi.

4. Tekanan darah tinggi

Menurut American Heart Association, tekanan darah dapat meningkat sementara saat Anda dilanda stres. Namun stres semata belum dapat dipastikan sebagai penyebab penyakit darah tinggi kronis. Jadi, tidak perlu (tambah) khawatir soal ini.

Akan tetapi, seseorang yang memiliki riwayat darah tinggi dan dilanda stres perlu berhati-hati. Peningkatan tekanan darah dalam waktu singkat bagi orang-orang dengan kondisi ini akan mendorong terjadinya krisis hipertensif yang menyebabkan gejala seperti sakit kepala, kesulitan bernapas, bahkan mimisan.

5. Sindrom patah hati

American Heart Association menjelaskan bahwa ketika di bawah stres berat (seperti saat patah hati), terkadang sebagian jantung Anda akan membesar sementara dan tidak dapat memompa darah dengan baik. Sementara fungsi bagian jantung lainnya bekerja dengan sangat baik, bahkan bisa berkontraksi dengan sangat kuat.

Kondisi ini bisa menyebabkan gagal otot jantung jangka pendek yang parah. Teknisnya, kondisi ini disebut sebagai kardiomiopati induksi stres, namun lebih sering disebut sebagai “sindrom patah hati”.

Kabar baiknya, sindrom patah hati termasuk kondisi medis yang sangat jarang terjadi dan mudah untuk diobati. Sebuah studi di Jepang pada 2014 memperkirakan hanya ada 2% kasus sindrom patah hati di dunia yang diikuti oleh masalah koroner akut.

Studi yang sama menemukan bahwa sindrom patah hati cenderung lebih memengaruhi wanita, dengan laporan kasus mencapai 80 persen hingga saat penelitian dilakukan. Beragam masalah kesehatan tersebut muncul akibat stres karena patah hati.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy

Yang juga perlu Anda baca

Bahayakah Tidur dengan Rambut Basah?

Sering tidur dengan kondisi rambut masih basah? Kebiasaan tersebut ternyata bisa menyebabkan masalah kesehatan. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 27 Agustus 2020 . Waktu baca 3 menit

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara masturbasi wanita

Panduan Masturbasi Aman untuk Perempuan, Bagaimana Caranya?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Psoriasis kulit kepala

Psoriasis pada Kulit Kepala

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit
minum antidepresan saat hamil

Minum Antidepresan Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
fantasi threesome; seks threesome

Kenapa Banyak Pria Punya Fantasi Seks Bercinta Bertiga (Threesome)?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 1 September 2020 . Waktu baca 5 menit