Cara Menghindari Catfishing, Penipuan di Dunia Maya Berkedok Cinta

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 27/12/2019
Bagikan sekarang

Ungkapan “jodoh dalam genggaman” memang paling pas menggambarkan cara masyarakat modern menemukan tambatan hatinya. Anda bisa bertemu dengan sosok ideal yang selama ini dicari-cari hanya dengan mengandalkan media sosial, situs perjodohan, atau aplikasi kencan yang termuat dalam telepon genggam. Namun jika tidak berhati-hati, Anda bisa terperangkap dalam modus penipuan yang tidak hanya merugikan secara emosional namun juga materil, seperti pada fenomena catfishing.

Kencan online dan fenomena catfishing

Internet telah lama menjadi lahan basah untuk kasus penipuan. Anonimitas adalah privilese pengguna internet yang kerap disalahgunakan untuk mengeruk keuntungan secara ilegal.

Fenomena catfishing menggambarkan kasus penipuan di dunia maya yang dilakukan oleh orang yang berpura-pura menunjukkan ketertarikan kepada orang lain, namun memiliki maksud tersembunyi. Aksi catfishing ini biasa terjadi dalam kencan online.

Mereka tidak muncul dengan identitas asli. Pelaku catfishing kebanyakan mencuri identitas orang lain atau berbohong mengenai asal-usulnya.

Orang yang melakukan catfishing bisa didasari oleh motif yang berbeda-beda. Ada yang hanya iseng sekadar bermain-main, kurang percaya diri, membalaskan dendam pribadi atau adapula yang ingin memeras harta orang yang berhasil ia perdaya.

Mulanya pelaku akan menguji ketertarikan target pada dirinya dengan bersikap selayaknya orang yang sedang melakukan pendekatan secara romantis.  Apabila target memberi respons baik, pelaku kemudian melancarkan tipu muslihatnya.

Penipuan biasanya diawali dengan meminta hadiah atau perlakuan istimewa terlebih dahulu. Lama kelamaan pelaku akan mengeksploitasi kelemahan target lebih jauh sampai target benar-benar jatuh hati dan bersedia mempertaruhkan apapun untuk dirinya.

Kenapa orang mudah diperdaya?

Kasus penipuan di internet fenomena catfishing ini sebenarnya bukan lagi hal baru dan telah diwaspadai banyak orang. Namun, ternyata masih banyak orang yang terjebak, terlebih sampai merugi secara materil.

ScamWatch mencatat di tahun 2018 Australia menderita kerugian sekitar 25,5 juta dolar dari kasus penipuan berkedok pacar palsu di internet. Jumlah ini terhitung cukup besar melihat total kerugian yang disebabkan oleh kasus penipuan secara umum adalah 100, 7 juta dolar.

Bagaimana fenomena catfishing berhasil mengelabui banyak orang?

Orang yang memiliki hubungan emosional yang kuat dengan orang lain memang cenderung sangat mempercayai orang tersebut, apalagi ketika memiliki ketertarikan romantis.

Psikolog Edward Thorndike menyebut kondisi psikologis ini dengan istilah ‘halo effect’. Jika seseorang sudah memiliki rasa suka dari awal, ia akan terus memandang positif orang tersebut sekalipun orang yang disukainya telah melakukan perbuatan buruk.

Dalam fenomena catfishing, pelaku biasanya berhasil menarik perhatian target ketika memberikan impresi awal yang kuat. Kesan pertama yang berhasil menampilkan citra positif ini akan memperkuat pengaruh halo effect pada target.

Bagaimana cara menghindari catfishing?

Aksi catfishing mungkin memang sulit untuk dideteksi. Pasalnya, sulit untuk bisa memastikan bahwa seseorang serius memiliki ketertarikan kepada Anda. Apalagi saat komunikasi hanya terjalin di dunia maya, maka akan sulit menangkap kebohongan secara langsung.

Namun dalam setiap modus penipuan dengan motif romantis, biasanya pelaku menunjukkan beberapa perilaku aneh yang mencurigakan. Ia akan banyak beralasan dan terus menghindar jika diajak untuk bertemu secara langsung atau berkomunikasi melalui video chat.

Komunikasi yang dilakukan pun biasanya hanya dari satu platform media sosial saja. Anda juga bisa mengenali tanda-tanda kebohongannya melalui cerita dan penjelasannya yang tidak konsisten.

Trik pelacakan sederhana bisa dilakukan dengan mencari tahu sumber dari foto profil di halaman akun media sosialnya.

Terakhir, demi keamanan diri, setiap melakukan kencan online atau upaya pencarian jodoh lainnya, ada baiknya untuk skeptis terhadap maksud dan tujuan teman kencan Anda.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Tips Sukses Kencan Pertama Melalui Online Dating

Kencan pertama dengan orang yang Anda temui dari aplikasi online dating ternyata membutuhkan persiapan khusus. Apa saja tips untuk mempersiapkannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Pria Ternyata Lebih Lihai Berbohong Dibandingkan Wanita

Semua orang pernah berbohong. Namun siapa yang paling lihai? Berdasarkan hasil penelitian terbaru, pria lebih pandai berdusta dibandingkan wanita. Kenapa?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

5 Tanda Aplikasi Kencan Online Tidak Cocok untuk Anda

Aplikasi kencan online bisa menjadi pilihan alternatif mencari pasangan. Namun, tidak semua orang sukses menemukan pasangan idealnya melalui cara ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Mengatur Ekspektasi dalam Masa Pendekatan

Tips pendekatan dan ekspektasi perlu diketahui sebelum Anda melangsungkan ke tahap berikutnya, dengan mengenali makna antara kebutuhan dan keinginan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda

Direkomendasikan untuk Anda

alasan orang menggoda

Selain untuk PDKT, Inilah Alasan Seseorang Menggoda atau Flirting ke Orang Lain

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 06/06/2020
kencan online saat pandemi

Penyebab Kencan Online Selama Pandemi Begitu Diminati

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 06/05/2020
Mengatur ekspektasi dalam hubungan

Jangan Berharap Terlalu Muluk Jika Ingin Hubungan Terus Langgeng. Kenapa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 01/05/2020
catfishing

Kenapa Ada Orang Melakukan Catfishing di Media Sosial?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 27/02/2020