Orang yang Suka Baca Buku Hidup Lebih Bahagia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Januari 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

90 persen orang Indonesia tidak suka baca buku. Mengejutkan?

Membaca buku memang belum menjadi gaya hidup yang ditekuni oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pada saat yang bersamaan, televisi lebih mudah diterima dan dijangkau oleh semua kalangan, merebut perhatian setiap orang, tanpa kontrol dan filter. Buku pun semakin terlihat tidak menarik dan tergeser dengan semarak hiburan layar kaca.

Padahal, bukan berita baru lagi bahwa membaca memiliki banyak manfaat. Yang mungkin Anda tidak ketahui, peran buku ternyata jauh lebih dalam dari sekadar memperkaya informasi dan pengetahuan baru.

Sains membuktikan, membaca meningkatkan aktivitas otak dan kemampuan analisis yang mencerminkan bagaimana seseorang berperilaku dan mengelola emosinya

Perbedaan aktivitas otak pada orang yang hobi membaca

Studi tahun 2013 di Emory University membandingkan hasil scan otak antara orang yang hobi membaca dan yang tidak, setelah sebelumnya meminta masing-masing partisipan untuk membaca buku literatur klasik. Terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua gambar tersebut. Partisipan yang hobi membaca menunjukkan aktivitas otak yang lebih giat di sejumlah area tertentu dalam otak mereka.

Secara khusus, peneliti menemukan hubungan yang meningkat di korteks temporal kiri, bagian dari otak yang biasanya terkait dengan pemahaman bahasa. Para peneliti juga menemukan konektivitas meningkat pada sulkus sentral dari otak, daerah sensorik primer yang membantu otak memvisualisasikan gerakan. Bayangkan Anda sedang menyelam di laut biru lepas, ditemani dengan ikan berwarna-warni dan dialasi oleh hamparan terumbu karang indah yang berdiri kokoh. Sensasi yang Anda rasakan (dan pikirkan) seperti Anda sedang benar-benar menyelam, bukan? Proses yang sama juga terjadi ketika Anda membayangkan diri Anda sebagai karakter dalam sebuah buku: Anda dapat berempati dengan emosi yang mereka rasakan.

Hal ini dibuktikan lebih mendalam pada sebuah studi oleh Matthijs Bal dan Martijn Verltkamp, masih di tahun yang sama. Keduanya menyelidiki transportasi emosional, yang bisa menunjukkan bagaimana seseorang bisa menjadi sangat sensitif terhadap perasaan orang lain. Bal dan Verltkamp menilai emosi yang terbawa dengan meminta para partisipan berbagi cerita yang dibaca bisa sampai sejauh mana mempengaruhi mereka secara emosional pada skala lima poin. Misalnya, bagaimana perasaan mereka ketika karakter utama mencapai suatu keberhasilan, dan bagaimana mereka merasa kasihan atau sedih untuk karakter.

Dalam studi tersebut, empati hanya tampak dalam kelompok orang yang membaca fiksi dan yang terbawa oleh alur cerita secara emosional. Sementara itu, kelompok partisipan yang tidak suka membaca menunjukkan penurunan empati.

Literatur klasik dan Harry Potter

Khususnya pada pembaca literatur klasik, otak mereka menunjukkan tingkat empati yang lebih tinggi saat dibandingkan dengan pembaca literatur modern.

Sastra klasik mengharuskan pembaca untuk membedah lebih dalam setiap karakternya, karena penulis klasik meramu tokoh dengan faktor-faktor penentu yang lebih kompleks, manusiawi, ambigu, dan lebih sulit untuk dipahami. Proses pemahaman karakter-karakter, emosi yang dibawa, dan motif yang melatarbelakangi setiap aksi mereka adalah sama dalam hubungan manusia dengan satu sama lain di dunia nyata.

Prinsip bawaan emosional yang ditemukan oleh Bal dan Verltkamp juga lebih lanjut diteliti dalam studi yang diketuai oleh Loris Vezalli tahun 2014. Ia bersama sejumlah peneliti lain menemukan bahwa penggemar buku seri Harry Potter cenderung menjadi orang yang lebih bijak dan toleran dalam kehidupan, menurut sebuah studi yang dimuat dalam The Journal of Applied Social Psychology (2014).

Setelah melakukan tiga penelitian berbeda dalam kelompok partisipan yang berbeda pula, peneliti dapat menyimpulkan bahwa buku-buku karya J.K Rowling ini berhasil mempertajam kemampuan pembacanya untuk memiliki perspektif yang lebih luas terhadap kasus-kasus imigran dan grup yang termajinalisasi, termasuk pemahaman dan empati yang lebih mendalam terhadap kelompok LGBT dan aksi-aksi kebencian (bigot) di dunia nyata yang dimuat di media mainstream.

Singkatnya, pembaca literatur fiksi adalah orang-orang terbaik untuk dijadikan teman, karena mereka cenderung lebih sensitif dan bisa terlibat dengan emosi orang lain.

Orang yang tidak suka baca berisiko memiliki penyakit otak

Ini adalah salah satu manfaat buku yang seringnya terlewati oleh mereka yang ogah baca buku.

Membaca bisa memberikan ketenangan dan menurunkan tekanan darah; menyajikan sebuah dunia imajiner alternatif sebagai pelarian sementara dari masalah dunia nyata. Oleh sebab itu, baca buku bisa mencegah seseorang mengalami stress dan depresi.

Selain itu, membaca sama saja dengan melatih kemampuan konsentrasi dan fokus seseorang sehingga bisa mempermudah mereka melakukan multitasking dan menajamkan kekuatan otak dalam kemampuan mengingat dan menganalisis. Maka dari itu, orang yang rajin membaca diketahui memiliki risiko yang jauh lebih rendah terhadap macam-macam penyakit otak, seperti dementia dan Alzheimer.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Penyakit Mental

    Pahami semua tentang penyakit mental mulai dari penyebab, faktor risiko, gejala, hingga bagaimana cara mengatasinya dalam ulasan berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 17 September 2020 . Waktu baca 9 menit

    Mengapa Ada Orang yang Nyetrum Ketika Disentuh?

    Pernah merasa seperti tersengat listrik saat bersentuhan dengan orang lain? Ini dia penjelasan kenapa orang tertentu nyetrum ketika disentuh.

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Sudah Minum Kopi Tapi Masih Ngantuk, Apa Penyebabnya?

    Gen ternyata berperan penting untuk mencerna kafein dari kopi Anda, lho. Tak percaya? Langsung simak dua alasan sudah minum kopi masih ngantuk berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 14 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    6 Manfaat Susu Kefir yang Ternyata Menyehatkan

    Kefir bukan hanya digunakan sebagai masker kecantikan saja. Kefir juga diproduksi sebagai susu yang menyehatkan. Apa saja manfaat susu kefir?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Fakta Unik 14 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    melihat bullying

    5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
    terapi urine minum air kencing

    Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit
    ciri-ciri dan gejala alergi dingin

    Gejala Alergi Dingin Ringan Hingga Berat yang Wajib Anda Kenali

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit
    mencium spidol

    Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit