4 Ciri Orang Terdekat Anda Mengalami KDRT

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 04/03/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Terlepas dari status sosial, edukasi, maupun finansial, siapapun dapat menjadi korban kekerasan, baik itu dalam hubungan asmara, maupun pernikahan atau yang dikenal dengan sebutan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Menyelamatkan orang terdekat Anda dari kekerasan sangat penting untuk dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah dampak pada kehidupan dan masa depan mereka. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengerti dan mengetahui apabila teman Anda sedang menjadi korban kekerasan.

Namun harap diingat bahwa perilaku berikut dapat pula terkait pada faktor-faktor lain dan tidak dapat dianggap sebagai bukti bahwa kekerasan sedang terjadi.

Ciri dan tanda yang biasanya terjadi jika seseorang mengalami KDRT

1. Tanda-tanda emosional dari kekerasan

Tidak semua kekerasan bersifat fisik. Kekerasan emosional dapat membuat korban merasa tak berdaya, putus asa atau kehilangan harapan. Mereka mungkin berpikir bahwa mereka tidak akan keluar dari kendali pelaku kekerasan. Beberapa kekerasan emosional juga dapat membuat korban merasa tidak diinginkan dan tidak ada orang lain yang akan menyayangi mereka selain dari pelaku kekerasan.

Biasanya, ciri-ciri korban KDRT adalah mudah mengalami kelainan mental, seperti depresi, gangguan makan atau gangguan tidur. Tidur mereka sering terganggu karena perasaan was-was yang konstan di mana mereka tidak dapat bersantai dengan penuh.

Tanda-tanda emosional dari kekerasan lainnya dapat meliputi:

  • Harga diri yang rendah
  • Terlalu sering meminta maaf atau terlalu penurut
  • Cemas, gelisah, atau takut secara konstan
  • Mengalami masalah dengan obat-obatan atau alkohol
  • Kehilangan ketertarikan pada kegiatan sehari-hari
  • Membicarakan atau mencoba bunuh diri.

Gejala ini dapat menunjukkan kondisi atau faktor lainnya, namun gejala-gejala tersebut adalah ciri-ciri utama pada korban kekerasan dalam rumah tangga yang merasa terperangkap pada hubungan yang tidak sehat.

2. Menyendiri atau mendadak pendiam

Korban kekerasan cenderung pendiam dan menarik diri dari masyarakat. Jika teman Anda mengalami perubahan pada kepribadian mereka, dari orang yang suka bersosialisasi dan periang menjadi seseorang yang mengisolasi diri sendiri, hal tersebut dapat menjadi pertanda dari kekerasan dalam rumah tangga. Teman Anda mungkin sering terlambat saat kerja atau pertemuan, atau membatalkan janji secara mendadak.

Yang lebih parah, orang tersebut mulai memutus kontak dari teman-teman dan anggota keluarga serta mengisolasi diri mereka dari orang-orang terdekat. Apabila Anda menanyakan tentang kehidupan pribadi atau pasangan mereka, mereka berusaha untuk tidak menceritakan kepada Anda atau mengelak dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

3. Tanda-tanda ketakutan

Walau teman Anda mungkin tidak menceritakan kekerasan, mereka mungkin menyebutkan pelaku kekerasan “moody” atau “mudah marah”. Mereka juga mungkin mengatakan bahwa pasangan mereka menjadi pemarah setelah minum alkohol, sebagai contoh. Anda mungkin melihat teman Anda merasa tidak nyaman apabila berada jauh dari rumah. Mereka cenderung kaku dan malu saat berbincang-bincang. Ciri-ciri korban KDRT lainnya adalah mereka merasa cemas dalam usaha menyenangkan pasangan mereka. Kadang, apabila berada bersama dengan pelaku kekerasan, teman Anda merasa sangat ketakutan di mana ia tidak dapat bertindak atau mengambil keputusan.

4. Tanda-tanda dikendalikan

Teman Anda mungkin telah menyerahkan membiarkan hidup mereka dikontrol oleh pelaku kekerasan tersebut. Mereka takut berpergian atau mengambil keputusan tanpa izin. Jika seseorang adalah korban dari kekerasan, ia akan selalu meminta izin sebelum berpergian atau bertemu orang lain. Teman Anda mungkin menyebutkan pasangannya “sedikit cemburu” atau “sedikit posesif”.

Kendali dari pelaku juga berlaku pada aspek lainnya seperti hubungan dan keuangan. Mungkin teman Anda selalu memiliki uang yang sedikit atau tidak memiliki kendaraan pribadi. Mereka mungkin menyebutkan bahwa pasangan mereka yang mengatur keuangan dan mereka perlu memperhitungkan setiap pengeluaran. Hal ini membuat korban lebih mudah dikendalikan dan bergantung pada pelaku. Pelaku kekerasan mungkin sering menuduh korban memiliki hubungan lain.

Banyak korban kekerasan dalam rumah tangga akan menutupi atau mengelak, atau menunjukkan tanda-tanda bahwa sedang terjadi kekerasan. Namun, jika Anda menduga orang yang Anda kenal mengalami kekerasan, daftar ini dapat Anda gunakan sebagai petunjuk.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Mengapa Seseorang Bisa Terdorong untuk Menyakiti Orang Lain?

    Kekerasan ternyata tidak hanya ada dalam film. Di dunia nyata pun, manusia secara alamiah memiliki dorongan untuk menyakiti orang lain. Apa sebabnya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Hidup Sehat, Psikologi 24/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

    Pandemi COVID-19 memberikan dampak beragam, beberapa orang berisiko mengalami PTSD akibat melewati peristiwa mengguncang ini. Siapa saja yang berisiko?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Coronavirus, COVID-19 22/06/2020 . Waktu baca 4 menit

    Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

    Selain itu studi terbaru menunjukkan bahwa berpikir negatif (negative thinking) terus menerus bisa meningkatkan risiko demensia. Apa bisa dicegah?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Hidup Sehat, Fakta Unik 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit

    Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

    Sedang mengalami masa sulit yang seakan mengisap energi dan pikiran Anda ke dalam lubang hitam? Psikoterapi bisa membantu Anda mencari solusinya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    melatih otak agar percaya diri

    3 Cara Melatih Otak Supaya Lebih Percaya Diri

    Ditulis oleh: Theresia Evelyn
    Dipublikasikan tanggal: 20/07/2020 . Waktu baca 5 menit
    Konten Bersponsor
    tips menjaga kesehatan mental

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental untuk Melawan Penyakit Kritis

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Dipublikasikan tanggal: 13/07/2020 . Waktu baca 5 menit
    Konten Bersponsor

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental untuk Pebisnis Startup

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Dipublikasikan tanggal: 07/07/2020 . Waktu baca 5 menit
    pria tangguh bunuh diri

    Para ‘Pria Tangguh’ Lebih Berisiko Bunuh Diri, Mengapa Begitu?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Dipublikasikan tanggal: 04/07/2020 . Waktu baca 4 menit