Risiko Kematian Akibat Kanker Prostat Meningkat Pada Pria Obesitas

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 18/12/2017
Bagikan sekarang

Berat badan berlebih atau bahkan obesitas tidak hanya meningkatkan risiko Anda terhadap berbagai penyakit jantung dan diabetes. Kenaikan berat badan tenyata juga membuat pria lebih rentan terkena kanker prostat. Bahkan, pria obesitas ternyata berpeluang lebih besar untuk meninggal akibat kanker prostat ganas daripada pria yang memiliki berat badan normal. Waduh! Apa alasannya?

Semakin lebar lingkar pinggang seorang pria, semakin besar risikonya terkena kanker prostat ganas

Pernyataan di atas disimpulkan oleh sebuah penelitian yang diterbitkan dalam BMC Medicine setelah melibatkan pengamatan terhadap 141.896 pria obesitas dari 8 negara: Denmark, Italia, Belanda, Spanyol, Swedia, Inggris, Jerman, dan Yunani. Peneliti menemukan dari total partisipan tersebut, sekitar 7 ribu orang mengalami kanker prostat ganas, 700 orang berisiko tinggi, dan lebih dari 900 orang meninggal karenanya.

Penelitian lainnya yang diterbitkan New England Journal of Medicine juga menemukan bahwa kanker prostat cenderung lebih mematikan pada pria yang kelebihan berat badan atau obesitas.

Selama ini, peningkatan risiko kanker prostat dianggap berasal dari kadar lemak total dalam tubuh atau berat badan secara keseluruhan. Namun ternyata, peneliti menemukan bahwa peningkatan risiko kanker prostat agresif pada pria obesitas lebih dipengaruhi oleh ukuran lingkar pinggang, pinggul, dan perut.

Setiap tambahan 10 cm pada lingkar pinggang dilaporkan meningkatkan risiko kanker prostat ganas hingga 13 persen, dan risiko kematian akibatnya ikut meningkat hingga 18 persen. Itu sebabnya, semakin lebar ukuran pinggang seorang pria, peluangnya untuk terkena kanker prostat ganas akan semakin tinggi pula.

Mengapa obesitas meningkatkan risiko kanker prostat?

Hubungan sebab-akibat antara berat badan berlebih dan risiko kanker prostat belum dapat dipastikan. Namun, para peneliti menduga bahwa penumpukan lemak di area pinggang, pinggul, dan perut berkaitan erat dengan pertumbuhan sel kanker di kelenjar prostat.

Peneliti juga berpendapat bahwa peningkatan berat badan dapat menyebabkan peradangan kronis di seluruh tubuh sehingga mengganggu kadar hormon. Perubahan kadar hormon diduga dapat meningkatkan risiko perkembangan kanker prostat agresif.

Selain itu, pria yang obesitas memiliki konsentrasi antigen prostat yang lebih rendah. Mereka juga cenderung memiliki jumlah sel yang lebih banyak dan ukuran prostat yang lebih besar. Ini menyebabkan sel tubuh mereka lebih rentan terhadap mutasi sel penyebab kanker, serta membuat sel kanker lebih sulit untuk dideteksi sehingga kemungkinan besar akan ditemukan terlambat pada stadium akhir yang mematikan.

Menjaga berat badan ideal adalah kunci mencegah kanker

Tentu tak semua pria bertubuh besar pasti berisiko tinggi untuk menghadapi kematian akibat kanker prostat ganas. Mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat dan menghindari atau berhenti merokok adalah kunci utama untuk menurunkan risiko kanker prostat, sekaligus menekan risiko kematian akibatnya hingga bertahun-tahun kemudian.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Manfaat Tak Terduga Nanas untuk Mencegah Perkembangan Penyakit Kanker

Kanker merupakan salah satu penyakit mematikan. Studi menunjukkan bahwa nanas memiliki manfaat untuk menghambat sel kanker. Benarkah demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Nutrisi, Hidup Sehat 13/12/2019

3 Manfaat Penting Buah dan Sayur Bagi Anak yang Sayang Jika Dilewatkan

Makanan tinggi serat penting untuk tumbuh kembang anak. Memang, apa saja manfaatnya makan sayur dan buah untuk bayi yang perlu orangtua tahu?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Cara Mengukur Lingkar Perut yang Benar

Kesehatan tubuh bisa dideteksi lewat seberapa lebar lingkar perut Anda, lho! Yuk, cari tahu cara mengukur lingkar perut yang benar di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Kanker Tenggorokan Stadium 4: Gejala, Harapan Hidup, Cara Mengobati, dan Perawatannya

Banyak pasien baru berobat ke dokter ketika kanker tenggorokan sudah masuk stadium 4. Lantas, apa artinya bila kanker sudah masuk stadium 4?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Direkomendasikan untuk Anda

dampak obesitas terhadap kesehatan mental anak

Obesitas pada Anak Berisiko Terhadap Depresi dan Stres Saat Dewasa

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 09/05/2020
infertilitas pada pria akibat kanker prostat

Benarkah Pria Tidak Subur atau Infertil Setelah Operasi Kanker Prostat?

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 01/04/2020
bahaya bubble tea

Benarkah Ada Bahaya Minum Bubble Tea untuk Kesehatan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 11/03/2020
perkembangan otak anak obesitas

Obesitas Pada Anak Bisa Memengaruhi Perkembangan Otaknya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 22/01/2020