home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Anak Tidak Mau Sekolah Karena Takut Ditinggal Ortu? Ini Siasatnya!

Anak Tidak Mau Sekolah Karena Takut Ditinggal Ortu? Ini Siasatnya!

Ketika si kecil tidak mau sekolah dan alasan utamanya adalah karena tidak mau berpisah dengan Anda, Anda harus memikirkan beberapa kemungkinan, apakah si kecil mengalami kecemasan saat berpisah.

Kecemasan saat berpisah, atau yang dikenal dengan sebutan Separation Anxiety Disorder (SAD) merupakan suatu keadaan di mana si kecil mengalami rasa khawatir ketika berpisah dengan sosok yang melekat pada dirinya, misalnya orangtua, kakek, nenek, atau pengasuhnya. Kecemasan ini bahkan bisa menyebabkan si kecil mengalami ketakutan yang tidak realistis.

Selain cemas saat harus berpisah, si kecil sering kali juga takut akan penolakan di sekolah, takut tidur sendirian, mengalami mimpi buruk, dan gangguan-gangguan fisik lainnya.

Kapan si kecil bisa dikatakan mengalami gangguan ini?

Si kecil dapat dikatakan memiliki SAD bila sudah mengalami hal ini dalam kurun waktu minimal empat minggu (satu bulan). Gejala-gejalanya meliputi:

  • Kecemasan yang berlebihan saat harus keluar dari rumah dan berpisah dari orangtua.
  • Kekhawatiran yang disebabkan oleh pemikiran dan ketakutan yang tidak realistis akan kehilangan orangtua (misalnya anak takut nanti tidak akan dijemput lagi sepulang sekolah).
  • Kekhawatiran yang tidak realistis akan kejadian buruk yang bisa menimpa orangtua (misalnya anak takut orangtua lupa jalan pulang, tersesat, hilang, dan akhirnya tak akan bisa bertemu lagi dengan anak).
  • Tidak mau sekolah atau pergi ke tempat lain karena tidak ingin berpisah.
  • Tidak mau melakukan sesuatu seorang diri, kecuali bila ditemani atau didampingi oleh sosok orang dewasa.
  • Tidak mau tidur sendirian.
  • Mengalami mimpi buruk dengan tema perpisahan.
  • Mengalami keluhan fisik ketika terjadi perpisahan seperti sakit kepala, sakit perut, mual, dan muntah.

Mengapa si kecil bisa mengalami kecemasan seperti itu?

Terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan adanya kecemasan seperti ini pada si kecil, antara lain:

1. Faktor genetik

Adanya riwayat pernah mengalami gangguan panik, kecemasan, dan depresi pada orangtua bisa meningkatkan kemungkinan si kecil mengalami gangguan kecemasan ini. Orangtua yang memiliki masalah serupa waktu kecil juga lebih mungkin memiliki anak dengan kondisi yang sama. Selain itu, rendahnya rasa kepercayaan diri pada si kecil juga akan semakin meningkatkan adanya kecemasan berlebih ini.

2. Tingkat emosi si kecil

Kemampuan mengatur emosi merupakan salah satu kunci penting dalam mengurangi kecemasan. Pada mereka yang dapat mengalami kecemasan seperti ini, mereka tidak dapat mengatur emosi mereka. Bahkan mereka sering kali tidak menyadari kalau apa yang mereka bayangkan tidak realistis.

3. Pola asuh orangtua

Pola asuh yang terlalu sering mengkritik dan terlalu bersifat protektif terhadap si kecil dapat membatasi kebebasan diri si kecil dan membuatnya tidak percaya diri. Hal ini akan membuat anak terus ingin menempel pada orangtuanya.

4. Perubahan pada lingkungan hidup

Perubahan lingkungan, adanya kenangan buruk, atau trauma psikologis akan membuat si kecil mengalami hal ini. Misalnya, adanya pengalaman orangtua yang meninggal, perceraian orangtua, atau adanya kematian dari orang yang sangat dicintainya di luar orangtuanya (misalnya saudara kandung, kakek, nenek, atau sahabatnya).

Apa yang harus dilakukan bila si kecil tidak mau sekolah?

Hal ini umumnya terjadi saat si kecil mulai masuk sekolah pada hari dan minggu pertama. Berikut beberapa tips yang dapat Anda lakukan ketika anak tidak mua sekolah.

  • Datanglah ke sekolah beberapa hari atau minggu sebelum si kecil akan sekolah. Beri tahu bahwa si kecil sering mengalami kecemasan pada gurunya.
  • Ajak si kecil mengobrol soal hal-hal positif di sekolah.
  • Tenangkan si kecil dengan mengatakan misalnya, “Ayah akan selalu menjemput kamu sepulang sekolah, jam 12 tepat. Jadi kamu tidak perlu khawatir, ya.”
  • Berikan foto atau pesan singkat kepada si kecil yang bisa dimasukkan ke dalam tas si kecil. Hal ini akan membuatnya tenang dan nyaman karena merasa ada sosok diri Anda dalam foto atau pesan yang anda berikan. Dalam beberapa kasus, membawa boneka kesayangan atau mainan favorit anak pun bisa membantu.
  • Pastikan si kecil tidur yang cukup.
  • Ajak si kecil bermain di tempat bermain di sekolahnya. Jadikan sekolah sebagai tempat yang seru dan menyenangkan bagi si kecil.

Apa yang harus dilakukan bila si kecil masih tidak mau sekolah?

Bila si kecil masih tetap khawatir, berikan gambaran-gambaran menarik dan menyenangkan dari sekolah. Anda juga dapat menyampaikan kata-kata penenang kepada si kecil. Misalnya, “Ibu tahu kamu pasti bisa melewati ini semua karena kamu pemberani!”.

Anda juga dapat mencoba memberikan stiker yang berbentuk lucu dan katakan pada si kecil, setiap kali dirinya teringat Anda dan merasa khawatir, tataplah stiker lucu tersebut dan ingatlah bahwa Anda juga akan mengingat si kecil dan semua akan baik-baik saja. Anda juga dapat memberikan foto atau pesan penyemangat yang dapat si kecil lihat setiap kali si kecil merasa cemas.

Jangan lupa untuk memberikan pelukan dan ciuman kepada si kecil saat akan berangkat sekolah. Saat si kecil pulang sekolah, ajaklah si kecil berbicara mengenai apa saja pengalaman menyenangkan dan seru yang sudah dialaminya di sekolah.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Allen J, et al. DSM-IV criteria for childhood separation anxiety disorder: Informant, age, and sex differences. Journal of Anxiety Disorders. 2010 (24): 946-952

Gold S, Miller L, Jitilina K. Separation Anxiety, During The First Day Of Kindergarten. Anxiety BC . 1-3

Maslim R. Penggolongan Diagnosis & Kriteria Diagnostik & Perubahan Perkembangan DSM-5. 2013. 31

Dabkowska M, et al. Separation Anxiety in Children and Adolescents. Research Gate. 2011: 313-328

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh dr. Ivena
Tanggal diperbarui 31/12/2017
x