Mengenal Trauma Melahirkan (Postpartum PTSD), Akibat Pengalaman Melahirkan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 April 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Menjadi orangtua adalah batu lompatan besar yang menantang, bahkan di saat-saat terbaiknya. Untuk beberapa orang, momen perubahan besar ini akan lebih disulitkan oleh sejumlah tantangan yang mungkin menanti di masa pascamelahirkan, mulai dari baby blues, depresi postpartum (PPD), dan psikosis postpartum. Akan tetapi, ada satu masalah unik yang diderita oleh sejumlah ibu yang mengalami gejala mirip seperti depresi postpartum, tetapi tidak benar-benar sesuai dengan profil itu. Para ahli berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh trauma melahirkan.

Bagaimana mungkin sesuatu yang sangat umum seperti melahirkan, dapat menciptakan reaksi fisiologis pada ibu, lengkap dengan insomnia, mimpi buruk, atau teror kilas balik? Untuk beberapa, mungkin saja.

Dilansir dari Today’s Parent, sekitar sepertiga dari wanita setelah melahirkan menunjukkan beberapa kecenderungan post traumatic stress disorder (PTSD), dan tiga sampai tujuh persen menderita gejala pasti dari PTSD, mulai dari jantung berdebar-debar, insomnia, hingga fobia (ketakutan irasional untuk melahirkan lagi).

Perhatian selalu ditujukan pada proses persalinan yang sukses dan kesejahteraan bayi yang sehat, sementara kadang, kondisi ibu justru terbengkalai.

“Selama melahirkan, banyak wanita mengalami ancaman nyata mengenai kerusakan fisik atau kematian untuk diri mereka sendiri atau bayi mereka,” ungkap Inbal Shlomi-Polchek, seorang psikiater dan co-penulis studi Tel Aviv. “Selama kelahiran yang menyakitkan, banyak wanita percaya bahwa tubuh mereka telah dikoyak atau hancur sama sekali.”

Kenapa seseorang bisa mengalami trauma melahirkan?

Trauma melahirkan terjadi sebagai akibat dari trauma (atau yang dianggap sebagai trauma) selama proses persalinan, sementara depresi pasca melahirkan terjadi karena perubahan hormon dalam tubuh ibu sebagai reaksi alami dari proses melahirkan. Namun demikian, kedua kondisi ini sering dihubungkan satu sama lain, dan tentu saja dapat memperburuk satu sama lain. Sangat penting untuk bisa membedakan keduanya sehingga Anda dapat mencari cara pengobatan yang paling efektif.

Istilah Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), mengacu pada gangguan yang dialami seorang individu setelah mengalami dan/atau menyaksikan peristiwa yang mengancam jiwa. Kita biasanya mengenali peristiwa seperti serangan teroris, kecelakaan serius, atau aksi kekejaman personal sebagai peristiwa pemicu yang mampu menyebabkan trauma tersebut, sehingga telah terbukti sulit untuk sebagian besar orang untuk memahami bahwa proses ‘alami’ seperti melahirkan juga dapat memicu trauma berat.

Faktanya, peristiwa traumatis dapat benar-benar menjadi pengalaman yang melibatkan ancaman jiwa, atau kematian, atau cedera serius kepada individu atau orang lain yang dekat dengan mereka (misal, bayi mereka), misalnya dengan caesar darurat; intervensi medis saat melahirkan normal yang mungkin mulai dengan induksi; proses persalinan oleh tim dokter yang tidak disukai; realitas nyeri saat melahirkan; hilangnya kontrol diri yang dapat terjadi bagi banyak wanita, terutama mereka yang memiliki riwayat trauma atau penyalahgunaan; bayi prematur atau bayi dengan masalah medis yang berujung pada NICU; dan kematian bayi selama melahirkan, atau segera setelah kelahiran. Hal-hal ini dapat terjadi, tidak peduli seberapa siap fisik dan mental calon ibu, serta para petugas medis yang bersangkutan.

Gejala trauma melahirkan

Wanita yang menderita depresi postpartum (PPD) umumnya mengalami mood depresif, kelelahan, insomnia, dan keraguan, sementara  PTSD memiliki gejala yang berbeda. Dokter memiliki daftar dari elemen kunci untuk membedakan penderita PTSD dari ibu yang mengalami kecemasan atau depresi, termasuk:

  • Mengalami satu atau beberapa peristiwa yang melibatkan ancaman cedera serius atau kematian (untuk dirinya sendiri atau bayi mereka).
  • Respon perasaan takut, tidak berdaya, atau horor yang mengikuti pengalaman tersebut.
  • Teror kilas balik, mimpi buruk, kenangan mengganggu, dan halusinasi yang berulang dan kembali dari waktu ke waktu. Ia biasanya akan merasa tertekan, cemas, atau mengalami serangan panik saat teringat hal-hal yang mengingatkan mereka tentang acara tersebut.
  • Sikap menghindari apapun yang mengingatkan mereka terhadap peristiwa melahirkan traumatis, termasuk berbicara mengenai trauma tersebut hingga menghindari untuk berinteraksi dan/atau melihat bayi mereka. Kadang, seorang ibu pengidap trauma mungkin justru akan membicarakan pengalaman menyakitkan tersebut terus menerus sehingga menyelimuti mereka dengan obsesi.
  • Pengingat konstan terhadap kenangan buruk dan kebutuhan untuk menghindar seringnya akan berakibat pada sulit tidur dan berkonsentrasi. Penderita juga mungkin merasa marah, mudah tersinggung, dan sangat waspada (merasa gelisah atau waspada sepanjang waktu).

Apa dampak dari trauma melahirkan?

Akan ada konsekuensi nyata bagi ibu yang mengalami trauma setelah melahirkan, jika tidak segera mendapatkan bantuan medis yang dibutuhkan. Ibu penderita postpartum PTSD akan lebih kecil kemungkinannya untuk ingin hamil dan melahirkan lagi; mereka kurang mungkin untuk menerima perawatan medis tindak lanjut; mereka cenderung untuk tidak menyusui (karena sakit, perasaan tersakiti, pasokan susu rendah, keraguan diri, dan kurang percaya diri, dan/atau pengingat yang menyakitkan terhadap melahirkan); mereka lebih cenderung memiliki tantangan keterikatan dengan bayi mereka (sekali lagi, sering karena memicu pengingat peristiwa); dan mereka lebih mungkin untuk mengalami konflik dalam pernikahan mereka/hubungan lainnya, dan mengalami disfungsi seksual. Ibu yang menderita Postpartum PTSD juga lebih mungkin untuk juga menderita depresi.

Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi trauma melahirkan?

Kita tahu bahwa faktor risiko seperti depresi antenatal, kurang dukungan sosial, sejarah trauma sebelumnya, tantangan menyusui, dan tantangan fisik setelah melahirkan dapat meningkatkan reaksi trauma. Tapi kita juga tahu bahwa langkah-langkah pencegahan seperti strategi manajemen stres mapan, mempromosikan kesehatan mental, seperti tidur yang cukup, gizi, dan olahraga, dan kesempatan untuk berdiskusi mengenai pengalaman melahirkan dapat mengurangi risiko seorang ibu untuk PTSD. Dengan kata lain, dengan usaha, beberapa gejala PTSD postpartum dapat dikurangi.

Kabar baiknya, trauma setelah melahirkan bersifat sementara dan dapat diobati. Kuncinya adalah untuk mendapatkan bantuan profesional yang kompeten sedini mungkin. Sangat penting untuk mengobati PTSD sebelum mulai bermanifestasi sebagai sesuatu yang sulit untuk ditangani — seperti gangguan makan, kecanduan, perilaku kompulsif, gangguan panik kronis, atau kecenderungan bunuh diri. Jika ragu, hubungi penyedia layanan kesehatan untuk bantuan segera.

Dalam banyak kasus trauma setelah melahirkan, perawatan depresi lebih diutamakan, sehingga gejala PTSD mereka tidak ditangani (ingat, kebanyakan wanita dengan PTSD juga akan mengalami depresi). Jika seorang ibu tidak diajukan pertanyaan yang tepat dan jika ia tidak menceritakan seluruh cerita, ia mungkin akan menjalankan perawatan untuk waktu yang lama bantuan yang diinginkan.

Ibu penderita postpartum PTSD membutuhkan dukungan untuk meniti ulang pengalaman melahirkan yang menyebabkan trauma tersebut; membantu memahami mengapa ia menimbulkan reaksi seperti itu; dalam memahami faktor apa saja yang mempengaruhinya. Wanita-wanita ini mendapatkan keuntungan yang besar dari memiliki kesempatan untuk kembali menata ulang dan lebih memahami pengalaman kelahiran mereka untuk apa itu-mereka. Bagi banyak wanita, terapi spesifik di sekitar trauma diperlukan.

Selain itu, kelilingi diri Anda dengan orang-orang terdekat yang mendukung dan mencintai Anda, yang mampu merawat dan memelihara Anda. Beri tahu orang-orang yang perlu tahu bahwa Anda mengalami waktu yang sulit dan mintalah dukungan. Dapatkan bantuan ekstra untuk merawat bayi, jika memungkinkan. Merawat bayi yang secara tidak langsung bertanggung jawab atas cobaan yang telah Anda lalui bisa sulit. Anda mungkin tidak memiliki perasaan atau memiliki perasaan yang sangat negatif terhadap bayi Anda. Jangan salahkan diri Anda. Pahami bahwa perasaan Anda tentang bayi Anda akan berubah dan menjadi lebih positif secara bertahap. Beri diri Anda waktu untuk pulih. Menjadi seorang ibu adalah transformasi indah tapi bisa menjadi tantangan sulit. Anda telah melalui satu dari masa terburuk Anda. Anda juga butuh kasih sayang dan perhatian.

Psikoterapi reguler adalah bagian lain dari teka-teki pengobatan trauma setelah melahirkan; biasanya termasuk pengembangan keterampilan relaksasi, membangun strategi mengelola kecemasan dan mood depresif, dan melaksanakan sistem dukungan. Pada akhirnya, terapis akan memfokuskan terapi pada perencanaan perilaku untuk membantu Anda lebih nyaman dan terlibat dengan bayi Anda. Obat-obatan, umumnya, adalah jalan keluar terakhir.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

Masturbasi Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

Masturbasi saat hamil kabarnya mampu memberikan kenikmatan yang lebih memuaskan daripada hubungan seksual. Namun, apakah aman?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 12 Agustus 2020 . Waktu baca 3 menit

Kenali Perubahan Gairah Seks Ibu Hamil di Trimester Ketiga, Plus Tips Seks yang Aman

Jika biasanya nafsu seks ibu hamil menurun di trimester pertama, bagaimana ketika sudah memasuki kehamilan trimester ketiga?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Hidup Sehat, Seks & Asmara 15 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit

Tidak Menikmati Pekerjaan di Masa Muda, Bisa Membahayakan Kesehatan di Masa Depan

Apakah Anda puas dengan pekerjaan yang sekarang ini? Jika tidak Anda harus hati-hati, sebab rasa tidak puas dengan pekerjaan bisa membahayakan kesehatan.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 14 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental untuk Melawan Penyakit Kritis

Mental yang sehat mendukung kesehatan tubuh secara fisik. Ketika dilanda penyakit kritis, Anda tetap perlu menjaga kesehatan mental untuk dukung pemulihan.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Konten Bersponsor
tips menjaga kesehatan mental
Hidup Sehat, Tips Sehat 13 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pantangan makan setelah melahirkan

4 Jenis Makanan yang Harus Dihindari Dulu Setelah Melahirkan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
minum antidepresan saat hamil

Minum Antidepresan Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
apa itu depresi

Penyakit Mental

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 17 September 2020 . Waktu baca 9 menit
kecemasan ibu hamil menjelang persalinan

Menghadapi 7 Kecemasan Ibu Hamil Menjelang Persalinan

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10 September 2020 . Waktu baca 5 menit