Makan daging yang tidak dimasak sampai matang atau produk susu yang tidak dipasteurisasi dapat meningkatkan risiko terjadinya brucellosis. Meski jarang terjadi, penyakit infeksi bakteri ini dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan baik.
Makan daging yang tidak dimasak sampai matang atau produk susu yang tidak dipasteurisasi dapat meningkatkan risiko terjadinya brucellosis. Meski jarang terjadi, penyakit infeksi bakteri ini dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan baik.

Brucellosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Brucella. Infeksi ini menyebar dari hewan ke manusia sehingga termasuk penyakit zoonosis.
Kebanyakan orang bisa terkena penyakit brucellosis setelah mengonsumsi daging mentah atau setengah matang serta susu yang tidak dipasteurisasi dari hewan yang terinfeksi.
Bakteri Brucella juga bisa menyebar lewat udara dan kontak langsung dengan hewan terinfeksi. Penularan penyakit infeksi ini dari manusia ke manusia jarang terjadi.
Penyakit ini menyerang pria dan wanita pada segala usia. Anda dapat mencegahnya dengan menghindari produk susu yang tidak dipasteurisasi dan berhati-hati saat bekerja dengan hewan.

Brucellosis biasanya sulit diidentifikasi karena kerap kali menyerupai infeksi lainnya, seperti flu.
Gejala penyakit ini butuh waktu 2–4 minggu atau lebih untuk muncul setelah Anda pertama kali terpapar oleh bakteri penyebabnya.
Beberapa tanda dan gejala umum dari brucellosis yakni:
Gejala infeksi bakteri ini dapat hilang dan timbul dalam waktu lama. Pengidap brucellosis kronis mungkin merasakan gejala selama bertahun-tahun, bahkan setelah menjalani pengobatan.
Tanda dan gejala jangka panjang dari penyakit ini antara lain:
Kemungkinan ada tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda merasa khawatir terhadap gejala tertentu, konsultasikan lebih lanjut dengan dokter Anda.

Brucellosis disebabkan oleh bakteri Brucella menyebar dari hewan ke manusia. Beberapa jenis bakteri Brucella yang dapat menginfeksi manusia adalah sebagai berikut.
Bakteri Brucella ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui mata, luka di kulit, dan selaput lendir (mukosa) pada rongga mulut atau hidung.
Penyakit infeksi bakteri ini bisa ditularkan dari hewan ke manusia lewat beberapa jalur penularan berikut ini.
Bakteri Brucella dapat hidup di dalam susu sapi, kambing, dan domba. Penularan penyakit dari hewan ke manusia bisa terjadi saat Anda mengonsumsi produk susu yang tidak dipasteurisasi.
Selain itu, bakteri juga dapat menyebar ketika Anda mengonsumsi daging mentah atau belum matang sempurna dari hewan yang terinfeksi.
Bakteri Brucella merupakan salah satu agen penyakit yang mudah menyebar di udara. Pertani, pemburu, atau teknisi laboratorium berisiko tinggi untuk menghirup bakteri tersebut.
Bakteri yang terdapat pada cairan tubuh hewan, seperti air liur, darah, urine, atau sperma, bisa masuk ke dalam aliran darah melalui luka yang terbuka.
Brucellosis umumnya tidak menular dari manusia ke manusia. Namun, pada kasus yang langka, wanita dapat menularkan penyakit ke bayi saat persalinan atau melalui ASI.
Infeksi bakteri ini juga bisa menyebar lewat aktivitas seksual, transfusi darah, dan transplantasi organ meski kasusnya jarang terjadi.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko Anda untuk terkena infeksi bakteri ini adalah sebagai berikut.
Artikel terkait
Brucellosis dapat menyerang bagian mana pun dalam tubuh Anda, termasuk sistem reproduksi, hati, jantung, dan sistem saraf pusat.
Beberapa komplikasi yang terkait dengan infeksi bakteri Brucella adalah sebagai berikut.
Penyebab kematian utama terkait brucellosis adalah endokarditis. Infeksi lapisan dalam jantung ini dapat mengancam nyawa bila tidak diobati dengan baik.
Radang sendi ditandai dengan nyeri, kaku, dan bengkak pada sendi. Bagian sendi yang sering terdampak, seperti lutut, pinggul, pergelangan kaki dan tangan, serta tulang belakang.
Bakteri Brucella bisa memicu infeksi epididimis, yakni tabung melingkar yang menghubungkan vas deferens dan testis. Infeksi juga bisa menyebar ke testis dalam beberapa kasus.
Brucellosis juga dapat menyerang limpa dan hati. Komplikasi ini menyebabkan organ tersebut bengkak dan membesar lebih dari ukuran normalnya.
Infeksi sistem saraf termasuk komplikasi infeksi bakteri Brucella yang berpotensi mengancam jiwa, seperti infeksi selaput otak (meningitis) dan otak (ensefalitis).
Dokter umumnya mendiagnosis brucellosis dengan menguji sampel darah atau sumsum tulang untuk mencari keberadaan bakteri Brucella.
Tes darah untuk memeriksa antibodi terhadap bakteri ini juga dapat dilakukan oleh dokter Anda.
Untuk membantu menegakkan diagnosis, Anda mungkin menjalani pemeriksaan lain seperti berikut.

Dokter akan meresepkan kombinasi setidaknya dua jenis obat antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri ini. Anda perlu minum obat ini selama enam hingga delapan minggu.
Beberapa jenis obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati brucellosis meliputi:
Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, Anda perlu memberi tahu dokter bila sedang hamil, memiliki alergi antibiotik, atau memiliki kekebalan tubuh yang lemah (imunosupresi).
Waktu penyembuhan infeksi bakteri ini bervariasi, tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan respons tubuh terhadap pengobatan.
Meskipun gejalanya bisa membaik setelah beberapa minggu, brucellosis memiliki risiko kekambuhan yang tinggi bila pengobatan tidak dilakukan sesuai anjuran dokter.
Anda dapat mengurangi risiko brucellosis dengan menerapkan langkah pencegahan di bawah ini.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai penyakit ini, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik masalah.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Brucellosis. (2020). World Health Organization. Retrieved November 15, 2024, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/brucellosis
Brucellosis. (2024). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved November 15, 2024, from https://www.cdc.gov/brucellosis/about/index.html
Brucellosis. (2023). The Center for Food Security and Public Health. Retrieved November 15, 2024, from https://www.cfsph.iastate.edu/Factsheets/pdfs/brucellosis.pdf
Brucellosis: Causes, symptoms, treatment & prevention. (2022). Cleveland Clinic. Retrieved November 15, 2024, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17886-brucellosis
Brucellosis. (2021). Mayo Clinic. Retrieved November 15, 2024, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/brucellosis/symptoms-causes/syc-20351738
Hayoun, M.A., Muco, E., & Shorman, M. (2023). Brucellosis. StatPearls Publishing. Retrieved November 15, 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441831/
Qureshi, K. A., Parvez, A., Fahmy, N. A., Abdel Hady, B. H., Kumar, S., Ganguly, A., Atiya, A., Elhassan, G. O., Alfadly, S. O., Parkkila, S., & Aspatwar, A. (2023). Brucellosis: epidemiology, pathogenesis, diagnosis and treatment-a comprehensive review. Annals of medicine, 55(2), 2295398. https://doi.org/10.1080/07853890.2023.2295398
Versi Terbaru
28/11/2024
Ditulis oleh Fajarina Nurin
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari
Ditinjau secara medis oleh
dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)