Penggunaan Masker yang Benar untuk Mencegah Infeksi Coronavirus

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/06/2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Salah satu cara untuk mencegah tertular infeksi novel coronavirus adalah menggunakan masker. Namun masker seperti apa yang sebaiknya dipakai? Apakah jenis masker bedah biasa atau masker jenis N95 yang berfungsi mencegah partikel?

Hingga tanggal 24 Januari 2020, virus yang dapat menyebabkan penyakit pneumonia ini sudah menelan sebanyak 26 korban jiwa dengan lebih dari 800 orang yang terinfeksi di China. Sejumlah imbauan pun terus disampaikan oleh pemerintah Indonesia agar masyarakat waspada, salah satunya menggunakan masker.

Berikut ulasan mengenai masker yang benar untuk mencegah infeksi coronavirus.

Penggunaan masker sebagai pencegahan infeksi coronavirus

Masker merupakan salah satu alat perlindungan diri yang dapat menghalangi tubuh dari paparan polusi udara dan debu. Penggunaan masker juga sudah menjadi upaya pencegahan primer dari berbagai risiko penyakit yang tersebar lewat partikel-partikel di udara.

Keefektifan masker untuk melindungi dari risiko penyebaran virus turut dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada International Journal of Infectious Disease. Penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan masker yang benar dapat menurunkan risiko terdiagnosis penyakit seperti flu sebanyak 80% lebih rendah.

Jika bercermin pada kasus merebaknya Novel coronavirus, sebenarnya para ahli belum mengetahui persis bagaimana virus ditularkan. Namun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika menyarankan kepada tenaga medis untuk memperlakukannya seperti patogen yang dapat menyebar lewat partikel di udara. Oleh sebab itu, penggunaan masker untuk perlindungan dari Novel coronavirus pun dilakukan.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

132,816

Terkonfirmasi

87,558

Sembuh

5,968

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Dampaknya, masyarakat turut menggunakan masker setiap bepergian sebagai upaya mengurangi risiko terinfeksi Novel coronavirus. Terdapat dua jenis masker yang banyak dipilih, yaitu masker bedah dan masker N95.

Surgical mask atau face mask adalah jenis masker sekali pakai yang sering digunakan oleh tenaga medis saat menangani pasien. Surgical mask mudah ditemukan dan harganya terjangkau sehingga lebih banyak orang yang menggunakan masker ini untuk penggunaan sehari-hari.

Jenis masker ini akan bantu melindungi Anda dengan mencegah paparan partikel besar di udara yang mungkin mengandung virus. Selain itu, masker ini juga menghalangi Anda dari percikan cairan tubuh orang lain yang dikeluarkan saat bersin atau batuk.

Sedangkan, N95 adalah jenis masker yang dibuat untuk menghalangi partikel besar maupun partikel kecil di udara yang mengandung virus. Nama N95 berasal dari kemampuannya yang dapat menyaring 95% partikel di udara.

Tidak hanya untuk pencegahan penyakit, masker N95 juga sering digunakan oleh para pekerja saat berkutat di area yang penuh dengan paparan zat berbahaya. Hal ini membuat masker N95 kerap dianggap sebagai perlindungan yang lebih ekstra.



Apakah masker N95 terbukti lebih ampuh untuk cegah coronavirus?

masker

Meski masker sudah disarankan sebagai salah satu upaya pencegahan coronavirus, para ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang jenis masker manakah yang sebaiknya digunakan.

Melihat dari cara kerjanya, masker jenis N95 mungkin lebih direkomendasikan penggunaannya untuk pencegahan coronavirus. Masker N95 dirancang khusus dan lebih ketat dengan menyesuaikan ukuran pada sekitar hidung dan mulut.

Keunggulan masker N95 yang tidak dimiliki oleh masker bedah juga ada pada kemampuan filtrasinya yang dapat menyaring partikel-partikel kecil.

Namun, penggunaan masker N95 sebagai pencegahan coronavirus tidak disarankan untuk pemakaian sehari-hari. Jenis masker N95 lebih sulit digunakan dan akan membuat ruang bernafas lebih terbatas.

Masker N95 biasanya hanya dianjurkan untuk para pekerja kesehatan yang merawat pasien dengan coronavirus, itu pun harus benar-benar mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Pengguna masker N95 juga harus melalui fit test untuk memastikan bahwa masker yang digunakan sudah tepat.

Mendukung pernyataan ini, Leo Yee Sin, direktur eksekutif Pusat Nasional untuk Penyakit Menular di Singapura, mengatakan kepada The Straits Times bahwa ketika Anda menggunakan masker N95 dan masih bisa bernafas lega, itu artinya Anda tidak menggunakannya dengan tepat.

Masker N95 belum disarankan untuk publik

Belum ada anjuran penggunaan masker jenis N95 sebagai pencegahan Novel coronavirus untuk publik, terutama di Indonesia yang sejauh ini masih belum dikonfirmasi akan adanya wabah tersebut. Urgensi untuk menggunakan masker ini hanya meningkat di situasi tertentu seperti polusi kabut asap.

Memang, jika dibandingkan dengan N95, masker bedah tidak akan memberikan proteksi yang sempurna. Masker bedah hanya akan melindungi Anda dari percikan cairan yang masih terlihat oleh mata. Masker ini masih terasa longgar di wajah, terutama di empat tepinya. Ada kemungkinan partikel udara masih masuk tanpa tersaring ke dalam hidung.

Meski demikian, masker bedah masih memiliki kemampuan untuk menghindari Anda dari risiko berbagai penyakit yang mungkin akan menjauhkan Anda dari risiko Novel coronavirus.

Hal ini juga dibuktikan dalam sebuah studi, di mana  anggota keluarga yang mengenakan masker bedah saat merawat anak yang sakit di rumah memiliki risiko yang lebih sedikit untuk tertular penyakit.

Jenis masker lainnya yang juga banyak digunakan untuk mencegah coronavirus adalah masker dari kain yang bisa digunakan berulang-ulang. Sayangnya, masker ini juga kurang direkomendasikan karena jika tidak sering dicuci, kelembaban masker yang meningkat akan menjadi tempat berkembang biak bagi patogen.

Karena alasan itulah masker bedah masih menjadi rekomendasi jika tujuannya untuk pencegahan infeksi coronavirus. Agar lebih efektif, Anda bisa mengganti masker dengan yang baru selama beberapa jam sekali atau ketika masker sudah terasa lembab.

Cara menggunakan masker yang benar

Cara Anda saat memakai dan melepas masker juga dapat berpengaruh pada kerja masker untuk melindungi dari bahaya coronavirus.

Sebaiknya, cuci tangan terlebih dahulu sebelum memakai masker. Jika masker yang digunakan memiliki warna yang berbeda di kedua sisinya, sisi yang berwarna putih adalah bagian yang menyentuh kulit. Sedangkan yang berwarna hijau atau biru adalah sisi yang di luar.

Pada masker karet, Anda cukup mengaitkan tali karet di belakang telinga. Untuk masker tali, posisikan dahulu bagian masker yang berkawat pada hidung dengan jari. Ikat dua tali yang ada di sisi atasnya. Setelah menggantung, tarik masker sampai menutupi dagu dan ikat tali di sisi bawahnya pada tengkuk Anda.

Ketika ingin melepasnya, tarik tali yang menggantung di telinga dari belakang untuk melepas masker. Jika Anda menyentuh bagian depan masker sebelum melepasnya, Anda malah akan memindahkan kontaminan ke tangan Anda.

Seperti Ini Rute Penyebaran COVID-19 Hingga ke Seluruh Dunia

Hal yang harus dilakukan untuk cegah COVID-19 selain pakai masker

mencegah infeksi

Apapun jenis masker yang Anda gunakan, bergantung pada satu jenis pencegahan saja tidak akan memberi hasil perlindungan yang maksimal. Berikut adalah berbagai upaya selain menggunakan masker yang akan menjauhkan Anda dari infeksi Novel coronavirus:

  • Minum suplemen atau multivitamin sebanyak dua kali sehari atau sesuai dengan anjuran.
  • Cuci tangan dengan sabun dan air setiap beberapa kali sehari, pastikan juga untuk membersihkan area di sela-sela jari. Jika tidak tersedia, gunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60 persen.
  • Hindari menyentuh wajah, terutama pada area mata, hidung, dan mulut.
  • Jalani pola makan sehat dengan konsumsi makanan yang mengandung antioksidan untuk melindungi tubuh dari virus dan bakteri.
  • Istirahat yang cukup. Jam tidur yang baik akan meningkatkan imunitas tubuh agar lebih kebal terhadap infeksi penyakit.

Meski risiko penularan Novel coronavirus di Indonesia masih rendah, ada baiknya juga Anda tidak lengah untuk selalu menjaga kesehatan. Masih banyak penyakit lainnya yang dapat mengintai Anda seperti flu dan batuk, apalagi Indonesia juga sudah memasuki musim penghujan. Bila perlu, lakukan suntik vaksin influenza.

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Waspadai Hubungan Erat Sakit Jantung dan COVID-19 Selama Pandemi

COVID-19 dianggap sebagai penyakit pernapasan yang menyerang paru-paru, tapi bahayanya pada jantung juga sesuatu yang patut diwaspadai.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit

Klaster-klaster Penularan COVID-19 Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Memasuki new normal, angka penularan COVID-19 klaster perkantoran terus bertambah. Data terbaru mencatat setidaknya ada 90 klaster perkantoran di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit

Inilah Alasan Vaksin COVID-19 Sinovac Uji Klinis di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China akan diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Adakah alasan tertentu dalam pemilihan negara ini?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan

Vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh University of Oxford, Inggris berhasil memicu terbentuknya antibodi dan sel-T pada peserta uji klinis.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

suplemen lipi covid-19

LIPI Lakukan UJi Klinis Kandidat Suplemen Herbal COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 13/08/2020 . Waktu baca 4 menit
dampak covid-19 otak

COVID-19 Picu Kerusakan Saraf dan Otak Jangka Panjang

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 11/08/2020 . Waktu baca 4 menit
ibu terinfeksi covid-19 bisa menyusui langsung tidak asi perah

Ibu Positif COVID-19 Bisa Menyusui Tanpa Menularkan ke Bayi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 08/08/2020 . Waktu baca 4 menit
pasien kanker terinfeksi covid-19

Pasien Kanker Selama Pandemi: Cegah COVID-19, Rawat Kankernya

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 07/08/2020 . Waktu baca 6 menit