Bisakah Polip dan Kanker Kolorektal Dideteksi Sejak Dini?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019
Bagikan sekarang

Pemeriksaan kesehatan secara teratur sering dapat mendeteksi kanker usus besar sejak dini, sehingga masih sangat mungkin untuk disembuhkan. Pada banyak orang, skrining juga bisa sepenuhnya mencegah kanker usus besar. Ini dikarenakan beberapa polip, atau pertumbuhan massa, bisa ditemukan dan diangkat sebelum memiliki kesempatan untuk berubah menjadi kanker.

Apa saja tes skrining yang tersedia untuk mendeteksi kanker usus besar?

Tes skrining yang digunakan untuk mendeteksi kanker usus besar meliputi:

  • Tes darah samar Guaiac (gFOBT) dan tes imunokimia feses (FIT): Sampel tinja (feses) diperiksa untuk keberadaan darah, yang bisa menjadi tanda polip atau kanker.
  • Tes DNA feses: Sampel tinja diperksa untuk bagian abnormal tertentu pada DNA (materi genetik) sel kanker atau polip.
  • Sigmoidoskopi: Selang tipis dan fleksibel dimasukkan ke dalam rektum dan usus besar bagian bawah untuk memeriksa adanya polip dan kanker.
  • Kolonoskopi: Selang panjang dan fleksibel digunakan untuk memeriksa keseluruhan usus besar dan rektum.
  • Enema barium dengan kontras ganda: Ini merupakan tes x-ray usus besar dan rektum.
  • CT kolonografi (kolonoskopi virtual): Ini merupakan CT scan untuk memindai gambar usus besar dan rektum.

Tes gFOBT, FIT, dan DNA feses paling sering mendeteksi kanker usus besar, tetapi juga bisa menemukan beberapa polip.

Sigmoidoskopi, kolonoskopi, enema barium dengan kontras ganda, dan CT kolonografi baik dalam menemukan kanker dan polip. Polip yang ditemukan sebelum berubah menjadi kanker bisa diangkat, sehingga tes-tes ini bisa mencegah kanker kolorektal. Inilah mengapa tes-tes ini akan lebih dipilih jika tersedia dan Anda bersedia untuk melakukannya.

Kapan harus menjalani skrining kanker usus besar?

Organisasi yang berbeda telah menetapkan rekomendasi yang berbeda untuk skrining kanker kolorektal. Dua contoh rekomendasi akan dijelaskan di bawah ini. Konsultasikan pada dokter tentang tes terbaik dan waktu jeda antara tes berdasarkan riwayat kesehatan dan resiko pribadi terkait kanker.

Dimulai di usia 50 tahun, baik pria maupun wanita dengan resiko menengah harus mengikuti salah satu jadwal tes berikut ini.

Tes berikut mendeteksi baik polip dan kanker:

  • Sigmodoiskopi fleksibel, setiap 5 tahun
  • Kolonoskopi, setiap 10 tahun
  • DCBE, setiap 5 tahun
  • CT kolonografi, setiap 5 tahun

Tes berikut utamanya mendeteksi kanker:

  • gFOBT, setiap tahun
  • Tes imunokimia feses, setiap tahun
  • Tes DNA darah, sesering anjuran dokter

U.S Preventive Health Service Task Force (USPSTF) juga memiliki panduan untuk skrining kanker usus besar, yang sedikit berbeda dari yang disebutkan di atas. USPSTF menganjurkan salah satu metode tes berikut:

  • FOBT dengan sensitivitas tinggi, setiap tahun
  • Sigmoidoskopi, setiap 5 tahun, dengan tes FOBT di antara jeda tes
  • Kolonoskopi, setiap 10 tahun

Selain itu, organisasi ini berpikir bawah tidak ada cukup bukti manfaat atau kerugian untuk merekomendasikan kolonografi virtual dan tes DNA feses.

Menurut USPSTF, orang dewasa antara usia 76 sampai 85 tahun tidak boleh melakukan skrining rutin karena risikonya lebih besar daripada manfaatnya, dan lansia di atas usia 85 tahun bisa menghindari skrining kanker kolorektal. Namun, orang dengan riwayat polip atau kanker usus besar lebih berisiko untuk terkena penyakit ini, dan skrining masih bisa dianjurkan pada usia lebih lanjut.

Penting untuk diingat bahwa terlepas dari tes dan jadwal skrining, setiap tes yang mengindikasi adanya kelainan harus ditindak lanjuti dengan kolonoskopi.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bolehkah Kita Donor Darah Saat Puasa? Apa Saja Risikonya?

Donor darah sebaiknya dilakukan teratur. Tapi bagaimana jika jadwal donor darah Anda selanjutnya jatuh di bulan Ramadan? Bolehkah donor darah saat puasa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 02/05/2020

4 Penyebab Sakit Kepala Saat Puasa dan Cara Mengatasinya

Sakit kepala saat puasa tentu sangat mengganggu. Nah, kira-kira apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Ini dia jawabannya!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hari Raya, Ramadan 27/04/2020

7 Cara Cepat Menghilangkan Bau Mulut Saat Puasa

Bau mulut adalah masalah yang umum terjadi selama puasa. Tenang saja, Anda bisa menghilangkan bau mulut saat puasa dengan cara alami berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Hari Raya, Ramadan 24/04/2020

Menyiasati Jadwal Minum Obat saat Puasa Ramadan

Puasa di bulan Ramadan wajib bagi umat muslim. Keharusan minum obat secara rutin bisa disiasati agar tetap bisa menjalankan puasa dengan tenang.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Hari Raya, Ramadan 19/04/2020

Direkomendasikan untuk Anda

resep membuat bakwan

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
sakit perut setelah buka puasa

Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 07/05/2020
maag saat puasa obat Omeprazole

4 Tips Mencegah Maag Kambuh Saat Puasa

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 07/05/2020
tekanan darah tinggi saat puasa

5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 04/05/2020