
Cara Mendukung Perkembangan Otak Anak lewat Asupan Gizi Sehari-hari
Perkembangan otak anak berlangsung secara bertahap sejak awal kehidupan dan terus berlanjut sepanjang masa kanak-kanak. Proses ini berkaitan dengan pembentukan koneksi saraf, kemampuan bahasa, perhatian, memori, kontrol emosi, kemampuan belajar, serta keterampilan memecahkan masalah sesuai usia.

Untuk mendukung proses tersebut, anak membutuhkan asupan gizi yang cukup dan seimbang setiap hari. Nutrisi yang berperan dalam perkembangan otak tidak hanya satu jenis, melainkan mencakup energi, protein, lemak sehat, zat besi, yodium, zinc, kolin, vitamin B, vitamin D, serta berbagai vitamin dan mineral lainnya.
Omega 3 dan Omega 6 dapat diperkenalkan sebagai salah satu zat gizi penting dalam pola makan anak. Keduanya termasuk asam lemak esensial yang dibutuhkan tubuh. Salah satu jenis Omega 3, yaitu DHA, merupakan komponen struktural penting pada jaringan otak dan retina.
Meski begitu, orang tua perlu memahami bahwa tidak ada satu makanan, minuman, atau zat gizi yang secara langsung membuat anak menjadi lebih pintar. Perkembangan otak anak dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk status gizi keseluruhan, stimulasi, tidur, aktivitas fisik, kesehatan, pola asuh, dan lingkungan belajar.
Mengapa perkembangan otak anak perlu didukung sejak dini?
Otak anak berkembang pesat pada masa awal kehidupan, lalu terus mengalami pematangan sepanjang masa kanak-kanak dan remaja. Pada periode ini, anak belajar mengenali suara, memahami bahasa, mengingat, mengatur emosi, mengikuti instruksi, memecahkan masalah, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Perkembangan otak tidak hanya terjadi saat anak belajar di sekolah. Aktivitas sehari-hari seperti bermain, berbicara dengan orang tua, membaca buku, menyusun balok, menggambar, bernyanyi, bergerak aktif, dan berinteraksi dengan teman juga ikut merangsang perkembangan otak.
Dari sisi medis, proses ini membutuhkan dukungan biologis yang baik. Tubuh anak memerlukan energi dan zat gizi untuk membentuk jaringan, menjalankan metabolisme, mendukung kinerja neurotransmiter, menjaga fungsi sel saraf, dan membantu pertumbuhan tubuh secara keseluruhan.
Karena itu, asupan gizi sehari-hari menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung perkembangan otak anak.
Apa hubungan nutrisi dengan perkembangan otak anak?

Nutrisi memengaruhi perkembangan otak melalui beberapa mekanisme. Zat gizi tertentu dibutuhkan untuk membentuk struktur otak, mendukung fungsi sel saraf, membantu pembentukan neurotransmiter, serta memastikan tubuh memiliki energi yang cukup untuk belajar dan beraktivitas.
Sebagai contoh, protein menyediakan asam amino yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk jaringan dan beberapa neurotransmiter. Zat besi berperan dalam pembentukan hemoglobin dan transport oksigen ke jaringan, termasuk otak.
Yodium berperan dalam pembentukan hormon tiroid yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf. Sementara itu, lemak sehat seperti Omega 3 dan Omega 6 menjadi bagian dari struktur membran sel.
Namun, perkembangan otak anak tidak bisa hanya dikaitkan dengan satu zat gizi tertentu. Pola makan yang tidak seimbang, kurang tidur, kurang stimulasi, stres, penyakit kronis, anemia, gangguan penglihatan atau pendengaran, serta masalah psikologis juga dapat memengaruhi kesiapan anak belajar.
Jadi, pendekatan terbaik adalah memenuhi kebutuhan gizi anak secara menyeluruh, sambil tetap memperhatikan faktor non-nutrisi seperti tidur, aktivitas fisik, dan stimulasi sesuai usia.
Nutrisi penting untuk mendukung perkembangan otak anak
Berikut beberapa zat gizi yang perlu diperhatikan orang tua dalam pola makan harian anak.
1. Energi yang cukup
Otak membutuhkan energi untuk bekerja. Pada anak, energi juga dibutuhkan untuk pertumbuhan, aktivitas fisik, bermain, dan proses belajar.
Sumber energi utama berasal dari karbohidrat, lemak, dan protein. Namun, kualitas sumber energi tetap penting. Energi sebaiknya diperoleh dari makanan bergizi, bukan hanya dari makanan atau minuman tinggi gula.
Sumber karbohidrat dapat berasal dari nasi, roti, kentang, ubi, jagung, oatmeal, pasta, atau makanan pokok lain sesuai kebiasaan keluarga. Karbohidrat ini sebaiknya dikombinasikan dengan protein, sayur, buah, dan sumber lemak sehat agar asupan anak lebih seimbang.
Jika anak sering melewatkan makan, tidak sarapan, atau hanya mengonsumsi makanan tinggi gula, ia mungkin cepat lapar kembali, mudah lelah, atau kurang siap mengikuti aktivitas belajar.
2. Protein untuk pertumbuhan dan fungsi tubuh
Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan, pembentukan jaringan, perbaikan sel, produksi enzim dan hormon, serta berbagai komponen sistem imun.
Dalam konteks perkembangan otak, protein juga menyediakan asam amino yang diperlukan tubuh untuk berbagai fungsi biologis, termasuk pembentukan beberapa neurotransmiter. Neurotransmiter adalah zat kimia yang membantu komunikasi antarsel saraf.
Sumber protein dapat berasal dari hewani dan nabati. Protein hewani meliputi telur, ikan, ayam, daging, susu, dan produk olahannya. Protein nabati meliputi tahu, tempe, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Orang tua sebaiknya memberikan variasi sumber protein agar anak mendapatkan asam amino, vitamin, mineral, dan lemak sehat yang lebih beragam.
3. Lemak sehat, termasuk Omega 3 dan Omega 6
Lemak sehat penting untuk anak karena berperan sebagai sumber energi, membantu penyerapan vitamin larut lemak, dan menjadi bagian dari struktur sel tubuh.
Omega 3 dan Omega 6 termasuk asam lemak esensial. Artinya, tubuh membutuhkannya, tetapi tidak dapat memproduksinya sendiri dalam jumlah yang cukup sehingga perlu diperoleh dari makanan dan minuman.
Omega 3 terdiri dari beberapa jenis, termasuk ALA, EPA, dan DHA. DHA merupakan komponen struktural penting pada jaringan otak dan retina. Sementara itu, Omega 6, seperti asam linoleat, berperan dalam fungsi sel dan pertumbuhan.
Sumber Omega 3 dapat diperoleh dari ikan, telur tertentu, kacang-kacangan, biji-bijian, minyak nabati tertentu, serta makanan atau minuman yang difortifikasi. Sumber Omega 6 dapat diperoleh dari minyak nabati, kacang-kacangan, biji-bijian, telur, tahu, tempe, dan beberapa makanan sehari-hari.
Meski penting, Omega 3 dan Omega 6 tidak bekerja sendiri. Keduanya perlu menjadi bagian dari pola makan yang seimbang, bukan satu-satunya zat gizi yang diandalkan untuk mendukung fungsi otak anak.
4. Zat besi untuk transport oksigen dan fungsi kognitif
Zat besi berperan penting dalam pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Otak membutuhkan suplai oksigen yang cukup untuk bekerja dengan baik.
Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. Pada anak, kondisi ini dapat menimbulkan gejala seperti pucat, mudah lelah, lemas, kurang nafsu makan, dan pada beberapa kasus dapat berkaitan dengan gangguan konsentrasi atau performa belajar.
Sumber zat besi heme dapat diperoleh dari daging merah, hati, ayam, dan ikan. Sumber zat besi non-heme dapat diperoleh dari tahu, tempe, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan makanan yang difortifikasi.
Untuk membantu penyerapan zat besi non-heme, anak dapat mengonsumsi makanan kaya vitamin C, seperti jeruk, jambu, stroberi, tomat, brokoli, atau buah dan sayur lainnya.
5. Yodium untuk hormon tiroid dan perkembangan saraf
Yodium dibutuhkan untuk membentuk hormon tiroid. Hormon tiroid berperan dalam metabolisme, pertumbuhan, serta perkembangan otak dan sistem saraf.
Pada anak, kekurangan yodium dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan. Salah satu cara membantu memenuhi kebutuhan yodium adalah menggunakan garam beryodium dalam jumlah wajar.
Namun, konsumsi garam tetap perlu dibatasi. Jadi, yang dianjurkan bukan menambah garam sebanyak-banyaknya, melainkan menggunakan garam beryodium secukupnya sebagai bagian dari pola makan keluarga.
6. Zinc untuk pertumbuhan dan fungsi imun
Zinc merupakan mineral yang berperan dalam pertumbuhan, fungsi imun, penyembuhan luka, dan metabolisme tubuh. Zinc juga berperan dalam banyak proses enzimatik yang penting untuk fungsi tubuh.
Kekurangan zinc pada anak dapat berkaitan dengan nafsu makan yang menurun, gangguan pertumbuhan, dan daya tahan tubuh yang kurang optimal.
Zinc dapat diperoleh dari daging, ayam, ikan, telur, susu, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Anak yang sangat pilih-pilih makanan atau jarang mengonsumsi lauk berprotein perlu mendapat perhatian lebih pada kecukupan zinc dan zat gizi lainnya.
7. Kolin untuk fungsi otak dan sistem saraf
Kolin merupakan zat gizi yang berperan dalam struktur membran sel dan pembentukan asetilkolin, yaitu salah satu neurotransmiter yang terlibat dalam fungsi saraf dan otot.
Kolin dapat diperoleh dari telur, daging, ikan, ayam, susu, kacang-kacangan, dan beberapa sayuran. Telur sering menjadi salah satu sumber kolin yang mudah diperoleh dan mudah diolah untuk anak.
Meski kolin penting, orang tua tetap perlu melihat pola makan secara keseluruhan. Kolin sebaiknya diperoleh sebagai bagian dari makanan bervariasi, bukan hanya dari satu jenis makanan.
8. Vitamin B kompleks untuk metabolisme energi dan fungsi saraf
Vitamin B kompleks berperan dalam metabolisme energi dan fungsi sistem saraf. Beberapa vitamin B, seperti vitamin B6, folat, dan vitamin B12, juga berperan dalam pembentukan sel darah merah dan berbagai proses neurologis.
Sumber vitamin B dapat diperoleh dari makanan pokok, telur, ikan, ayam, daging, susu, kacang-kacangan, sayur, dan makanan yang difortifikasi.
Anak dengan pola makan sangat terbatas dapat berisiko kurang mendapatkan variasi vitamin B. Oleh karena itu, variasi makanan tetap menjadi kunci.
9. Vitamin D dan kalsium untuk pertumbuhan tulang dan fungsi tubuh
Vitamin D dan kalsium lebih sering dibahas dalam konteks tulang dan gigi, tetapi keduanya tetap penting sebagai bagian dari kesehatan anak secara umum.
Vitamin D membantu penyerapan kalsium dan berperan dalam fungsi imun serta proses tubuh lainnya. Kalsium berperan dalam pembentukan tulang dan gigi, kontraksi otot, serta fungsi saraf.
Sumber kalsium dapat diperoleh dari susu dan produk olahannya, ikan bertulang lunak, tahu yang diproses dengan kalsium, sayuran hijau tertentu, serta makanan atau minuman yang difortifikasi.
Vitamin D dapat diperoleh dari paparan sinar matahari, ikan berlemak, telur, dan produk yang difortifikasi. Bila anak jarang terpapar sinar matahari atau memiliki risiko defisiensi vitamin D, konsultasikan dengan dokter.
10. Antioksidan dari sayur dan buah
Sayur dan buah mengandung vitamin, mineral, serat, dan senyawa antioksidan. Antioksidan membantu melindungi sel tubuh dari stres oksidatif.
Dalam pola makan anak, sayur dan buah juga penting untuk kesehatan saluran cerna dan membantu mencukupi kebutuhan mikronutrien.
Agar anak mendapatkan variasi zat gizi, orang tua dapat menyajikan sayur dan buah dengan warna berbeda. Misalnya, sayuran hijau, wortel, tomat, labu, jeruk, pisang, apel, pepaya, dan buah lain sesuai ketersediaan.
Selain diperoleh dari makanan, beberapa zat gizi juga dapat diperoleh dari minuman bernutrisi. Susu UHT yang mengandung omega 3 & 6 serta dilengkapi vitamin dan mineral dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu melengkapi asupan nutrisi anak selama masa pertumbuhan.
Kandungan nutrisi tersebut dapat melengkapi pola makan anak yang beragam, termasuk sebagai bagian dari asupan sehari-hari untuk mendukung aktivitas belajar dan bermain.
Namun, susu anak tetap bukan pengganti makanan utama. Anak tetap membutuhkan berbagai sumber makanan untuk mendapatkan nutrisi yang lengkap dan seimbang.
Bagaimana pola makan sehari-hari dapat mendukung perkembangan otak anak?

Pemenuhan nutrisi otak anak sebaiknya tidak dipahami sebagai “makanan khusus agar anak pintar“, melainkan sebagai pola makan harian yang seimbang dan konsisten.
Berikut cara yang dapat dilakukan orang tua.
1. Biasakan sarapan bergizi
Sarapan membantu anak mendapatkan energi sebelum memulai aktivitas. Anak yang berangkat sekolah atau beraktivitas dalam kondisi sangat lapar bisa lebih mudah lelah, tidak nyaman, atau sulit mengikuti kegiatan.
Sarapan sebaiknya mengandung karbohidrat, protein, dan bila memungkinkan, buah atau sayur. Berikut adalah beberapa contohnya.
- Roti isi telur dan buah.
- Nasi dengan telur, tempe, dan sayur.
- Oatmeal dengan susu dan buah.
- Kentang dengan ayam suwir dan buah.
- Jika anak belum terbiasa sarapan banyak, mulai dari porsi kecil. Yang penting, anak mendapat asupan sebelum aktivitas dimulai.
2. Sajikan lauk berprotein di setiap waktu makan utama
Protein perlu hadir secara konsisten dalam pola makan anak. Orang tua dapat menyediakan telur, ikan, ayam, daging, tahu, tempe, atau kacang-kacangan sebagai lauk.
Variasi protein juga membantu anak mendapatkan zat gizi lain. Misalnya, ikan dapat menyumbang Omega 3, telur dapat menyumbang kolin, daging dapat menyumbang zat besi dan zinc, sedangkan tahu dan tempe dapat menyumbang protein nabati.
3. Berikan ikan secara rutin
Ikan merupakan salah satu sumber Omega 3, protein, dan mikronutrien. Bila memungkinkan, orang tua dapat menyajikan ikan beberapa kali dalam seminggu.
Pilih ikan yang mudah didapat, sesuai anggaran keluarga, dan disukai anak. Ikan kembung, sarden, salmon, tuna, atau jenis ikan lain dapat menjadi pilihan sesuai ketersediaan.
Untuk anak kecil, pastikan ikan dimasak matang dan durinya dibersihkan dengan baik.
4. Tambahkan sayur dan buah setiap hari
Sayur dan buah membantu mencukupi kebutuhan vitamin, mineral, serat, dan antioksidan. Bila anak belum terbiasa makan sayur, mulai dari porsi kecil dan sajikan secara konsisten.
Sayur dapat dicampurkan dalam telur dadar, sup, nasi goreng, atau tumisan sederhana. Buah dapat diberikan sebagai camilan, bekal, atau pelengkap makan.
Anak sering membutuhkan paparan berulang sebelum menerima makanan baru. Jadi, penolakan pertama bukan berarti anak tidak akan pernah menyukainya.
5. Pilih camilan yang membantu melengkapi gizi
Camilan dapat menjadi bagian penting dari asupan anak, terutama bila anak aktif atau jarak antarwaktu makan cukup panjang.
Pilih camilan yang tidak hanya tinggi gula, garam, atau lemak. Contohnya buah potong, yoghurt, roti isi telur, telur rebus, tahu kukus, kacang-kacangan sesuai usia, atau makanan rumahan lain.
Camilan sehat untuk anak sebaiknya diberikan dalam porsi wajar agar tidak membuat anak terlalu kenyang dan menolak makanan utama.
6. Cukupi cairan
Hidrasi yang cukup membantu fungsi tubuh anak. Anak yang kurang minum dapat merasa lemas, sakit kepala, tidak nyaman, atau sulit berkonsentrasi.
Air putih tetap menjadi pilihan utama. Anak juga dapat memperoleh cairan dari buah, makanan berkuah, dan minuman bernutrisi sesuai kebutuhan.
Orang tua perlu lebih memperhatikan cairan bila anak aktif bermain di luar ruangan, banyak berkeringat, sedang demam, muntah, atau diare.
7. Batasi gula tambahan dan makanan ultra-proses
Makanan dan minuman manis sering disukai anak, tetapi konsumsi gula tambahan perlu dibatasi. Terlalu sering mengonsumsi makanan manis dapat membuat anak terbiasa dengan rasa yang sangat manis dan kurang tertarik pada makanan alami.
Makanan ultra-proses, seperti camilan kemasan tinggi garam, minuman berpemanis, dan makanan cepat saji, juga sebaiknya tidak menjadi pilihan utama harian.
Bukan berarti anak sama sekali tidak boleh mengonsumsi makanan manis, tetapi frekuensi dan porsinya perlu diatur.
Contoh menu sehari untuk mendukung perkembangan otak anak
Berikut contoh menu sederhana yang dapat disesuaikan dengan usia, kebutuhan energi, alergi, dan kebiasaan keluarga.
- Sarapan: nasi, telur dadar sayur, buah pisang, susu dan air putih. Menu ini mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, protein dari telur dan susu, serta vitamin dan serat dari sayur dan buah.
- Camilan pagi: buah potong atau roti kecil dengan selai kacang tipis, bila anak tidak alergi kacang. Camilan ini dapat membantu anak mendapatkan energi di sela aktivitas.
- Makan siang: nasi, ikan, sayur bening, tempe, dan buah. Menu ini memberikan kombinasi karbohidrat, protein hewani, protein nabati, serat, vitamin, mineral, dan lemak sehat.
- Camilan sore: yoghurt, telur rebus, tahu kukus, atau buah. Pilih camilan sesuai usia dan kemampuan mengunyah anak.
- Makan malam: kentang atau nasi, ayam, tumis sayur, dan air putih. Makan malam tetap perlu seimbang, tetapi porsinya dapat disesuaikan agar anak tidak terlalu kenyang menjelang tidur.
Apakah anak perlu suplemen untuk perkembangan otak?
Tidak semua anak membutuhkan suplemen. Bila anak sudah makan bervariasi, tumbuh sesuai kurva, aktif, dan tidak memiliki kondisi medis tertentu, kebutuhan nutrisinya umumnya dapat dipenuhi melalui makanan dan minuman sehari-hari.
Suplemen dapat dipertimbangkan bila ada indikasi khusus, seperti kekurangan zat gizi tertentu, pola makan sangat terbatas, kondisi medis yang memengaruhi penyerapan nutrisi, atau anjuran dokter berdasarkan pemeriksaan.
Pemberian suplemen, termasuk Omega 3, zat besi, vitamin D, atau multivitamin, sebaiknya tidak dilakukan sembarangan. Dosis yang tidak sesuai dapat menimbulkan efek samping atau tidak memberikan manfaat yang diharapkan.
Jika orang tua merasa anak membutuhkan suplemen, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.
Tanda pola makan anak mungkin belum mendukung tumbuh kembang optimal
Orang tua perlu memperhatikan pola makan dan kondisi anak sehari-hari. Beberapa tanda berikut dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi asupan anak.
- Anak sangat pilih-pilih makanan dalam waktu lama.
- Anak sering melewatkan makan utama.
- Anak jarang mengonsumsi sumber protein.
- Anak hampir tidak pernah makan sayur atau buah.
- Anak tampak mudah lelah, lemas, atau kurang bersemangat.
- Berat badan sulit naik atau turun tanpa sebab jelas.
- Tinggi badan tidak bertambah sesuai kurva pertumbuhan.
- Anak tampak pucat atau sering sakit.
- Anak mengalami sembelit, diare, muntah, atau nyeri perut berulang.
- Anak sulit fokus secara menetap, terutama bila disertai gangguan tidur, perubahan perilaku, atau penurunan performa belajar.
Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti anak kekurangan nutrisi tertentu. Namun, bila berlangsung terus-menerus, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Faktor lain yang mendukung perkembangan otak anak
Nutrisi sangat penting, tetapi bukan satu-satunya faktor. Perkembangan otak anak juga perlu didukung oleh kebiasaan dan lingkungan yang sehat.
1. Stimulasi sesuai usia
Stimulasi membantu anak membangun koneksi saraf dan mengembangkan kemampuan berpikir, bahasa, motorik, sosial, dan emosional.
Stimulasi dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana, seperti membacakan buku, mengajak anak berbicara, bermain puzzle, menggambar, bernyanyi, menyusun balok, bermain peran, atau berdiskusi tentang kegiatan sehari-hari.
2. Tidur yang cukup
Tidur berperan dalam pemulihan tubuh, regulasi emosi, dan pembentukan memori. Anak yang kurang tidur dapat lebih mudah rewel, mengantuk, sulit fokus, dan kurang siap belajar.
Orang tua dapat membuat rutinitas tidur yang konsisten, mengurangi paparan gawai menjelang tidur, dan menciptakan suasana tidur yang nyaman.
3. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik membantu mendukung kebugaran, koordinasi motorik, kesehatan metabolik, dan suasana hati anak.
Anak dapat diajak berjalan kaki, bermain di luar rumah, bersepeda, menari, atau melakukan aktivitas fisik lain yang sesuai usia dan minatnya.
4. Lingkungan emosional yang aman
Anak belajar lebih baik saat merasa aman, didukung, dan tidak terus-menerus tertekan. Pola asuh yang responsif, komunikasi hangat, dan apresiasi terhadap usaha anak dapat membantu membangun rasa percaya diri.
Hindari membandingkan anak secara berlebihan. Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda.
5. Batasi screen time
Paparan layar yang berlebihan dapat mengganggu tidur, aktivitas fisik, dan interaksi langsung dengan orang tua atau teman sebaya.
Orang tua perlu membuat aturan screen time anak, memilihkan konten yang berkualitas, dan tetap mengutamakan aktivitas interaktif di dunia nyata.
Kapan perlu berkonsultasi dengan dokter?
Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter bila anak mengalami sulit makan berkepanjangan, berat badannya sulit naik, tinggi badan tidak sesuai kurva, anak tampak lemas, sering sakit, atau memiliki keluhan pencernaan berulang.
Konsultasi juga diperlukan bila anak mengalami keterlambatan perkembangan, sulit fokus secara menetap, gangguan bicara, gangguan tidur berat, perubahan perilaku yang signifikan, atau penurunan kemampuan belajar.
Dokter dapat melakukan anamnesis pola makan, pemeriksaan fisik, penilaian status gizi, evaluasi kurva pertumbuhan, dan pemeriksaan perkembangan. Bila diperlukan, anak dapat dirujuk ke dokter spesialis anak, ahli gizi, psikolog, atau tenaga kesehatan lain sesuai kondisi.
Perkembangan otak anak perlu didukung oleh asupan gizi yang cukup dan seimbang setiap hari. Nutrisi yang berperan tidak hanya satu jenis, tetapi mencakup energi, protein, lemak sehat, zat besi, yodium, zinc, kolin, vitamin B, vitamin D, kalsium, sayur, buah, serat, dan cairan.
Omega 3 dan Omega 6 dapat menjadi salah satu bagian penting dalam pola makan anak. Keduanya termasuk asam lemak esensial yang mendukung fungsi tubuh. DHA, salah satu jenis Omega 3, merupakan komponen struktural penting pada jaringan otak dan retina.
Namun, tidak ada satu zat gizi yang dapat menjamin anak menjadi lebih pintar. Kemampuan belajar dan perkembangan otak anak juga dipengaruhi oleh stimulasi, tidur cukup, aktivitas fisik, pola asuh, kesehatan, dan lingkungan belajar.
Dengan memberikan makanan bervariasi, membiasakan sarapan, menyajikan sumber protein, sayur, buah, lemak sehat, serta memantau pertumbuhan anak secara berkala, orang tua dapat membantu mendukung perkembangan otak anak secara lebih menyeluruh.