4 Risiko Komplikasi yang Mungkin Dihadapi Ibu Jika Hamil Lebih dari 42 Minggu (Hamil Postterm)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Seorang ibu hamil dikatakan postterm jika usia kehamilannya sudah melewati 42 minggu (294 hari) terhitung dari hari pertama haid terakhir atau lewat dari hari taksiran persalinan lebih dari 14 hari, tapi belum juga melahirkan. Kehamilan postterm dapat menimbulkan komplikasi baik bagi ibu maupun janin. Apa yang menyebabkan usia kehamilan 42 minggu belum melahirkan juga, dan apa bahayanya? Simak penjelasannya berikut.

Usia kehamilan 42 minggu belum melahirkan, kenapa?

Kehamilan postterm disebut juga kehamilan serotinus atau kehamilan lewat waktu. Penyebab terjadinya kehamilan post-term sampai saat ini belum dapat dipastikan.

Namun, salah satu faktor risiko paling umum dari kehamilan postterm adalah kekeliruan mengingat tanggal hari pertama haid terahir (HPHT). Padahal, HPHT tetap menjadi informasi yang penting bagi dokter untuk memperkirakan tanggal persalinan meski mereka akan memastikan kondisi janin serta usia kehamilan yang lebih akurat lewat USG di trimester pertama.

Beberapa hal lain yang turut menjadi faktor risiko kehamilan postterm adalah:

  • Ibu obesitas saat hamil.
  • Riwayat kehamilan postterm sebelumnya.
  • Defisiensi sulfat pada plasenta (kelainan genetik yang sangat jarang).

Apa komplikasi yang mungkin muncul dari kehamilan postterm?

Hasil data dari Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2010 menyebutkan bahwa angka kejadian kehamilan lewat waktu (lebih dari 42-43 minggu) di Indonesia kira-kira 10 persen.

Kehamilan postterm secara umum dapat meningkatkan risiko kematian ibu dan janin selama persalinan, akibat:

Makrosomia

Makrosomia adalah istilah medis untuk bayi yang lahir dengan berat badan lebih dari 4500 gram (>4 kg). Bayi yang terlalu besar butuh waktu yang lebih lama dan proses yang lebih rumit untuk dilahirkan. Ini dapat meningkatkan risiko distosia bahu bayi yang dapat menyebabkan cedera parah, asfiksia (tercekik karena kekurangan oksigen), hingga bahkan kematian.

Makrosomia juga sering kali dihubungkan dengan faktor risiko terjadinya penyakit kuning (jaundice), diabetes, obesitas, dan sindrom metabolik lainnya pada anak-anak.

Insufisiensi plasenta

Insufisiensi plasenta terjadi ketika kondisi plasenta tidak lagi dapat mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi pada janin. Plasenta akan mencapai ukuran paling maksimal pada usia kehamilan 37 minggu.

Jika usia kehamilan 42 minggu belum melahirkan juga, plasenta semakin lama akan mulai mengalami penurunan fungsi sehingga janin tidak bisa mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi yang mencukupi. Hal ini meningkatkan risiko janin mengalami masalah kesehatan di dalam kandungan. Kekurangan oksigen dapat menyebabkan terjadinya cerebral palsy dan gangguan tumbuh kembang.

Aspirasi mekonium

Aspirasi mekonium adalah kondisi medis yang cukup berbahaya ketika janin menghirup/memakan cairan ketuban serta feses pertamanya (mekonium) dalam kandungan.

Kondisi ini dapat menyebabkan bayi kekurangan oksigen dan mengalami infeksi serta peradangan pada paru-parunya. Walaupun jarang terjadi, aspirasi mekonium juga dapat menyebabkan kerusakan otak permanen dan hipertensi paru persisten pada bayi baru lahir (Persistent Pulmonary Hypertension of the Newborn/PPHN) akibat kekurangan oksigen.

Kematian ibu saat melahirkan

Kehamilan postterm adalah salah satu faktor risiko utama dari kematian ibu saat melahirkan akibat perdarahan berat atau infeksi sepsis.

Kehamilan postterm juga meningkatkan risiko melahirkan lewat caesar.

Bagaimana cara mencegah terjadinya kehamilan postterm?

Kehamilan postterm beserta segala kemungkinan risikonya dapat dicegah sejak dini dengan rutin memeriksakan kandungan sejak trimester pertama. Lakukan USG secara teratur agar Anda dapat mengetahui perkembangan bayi dan usia bayi dengan lebih pasti.

Apabila terdapat perbedaan antara perkiraan usia janin dengan perhitungan tanggal dokter dan USG, gunakanlah usia kehamilan yang ditentukan berdasarkan hasil USG.

Selain itu, sebaiknya usahakan untuk selalu mencatat tanggal siklus haid Anda sejak sebelum merencanakan kehamilan. Catatan ini akan berguna bagi dokter memperkirakan tanggal taksiran persalinan, juga untuk mengetahui apakah Anda memiliki gangguan siklus haid atau tidak.

Apa yang harus saya lakukan apabila mengalami kehamilan postterm?

Apabila usia kehamilan Anda sudah lebih dari 42 minggu tapi belum melahirkan, jangan panik dan segera konsultasikan ke dokter mengenai kondisi Anda.

Dokter dapat menyarankan untuk mulai menginduksi persalinan atau melahirkan lewat caesar jika memungkinkan, terutama setelah mengecek kondisi cairan ketuban makin sedikit dan pergerakan janin mulai melemah.

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenali Linea Nigra, Garis Hitam “Khas” di Perut Ibu Hamil

Saat hamil, Anda mungkin akan menemukan garis hitam di perut pada usia kehamilan yang mulai besar. Tapi, tidak semua ibu hamil punya garis ini. Mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Trimester 2, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Ciri-Ciri Hamil dari yang Paling Sering Muncul Sampai Tak Terduga

Telat haid dan mual-mual adalah tanda-tanda hamil yang paling umum. Namun, tahukah Anda, mimisan dan sakit kepala juga termasuk ciri-ciri hamil muda?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19 Januari 2021 . Waktu baca 13 menit

Kapan Kehamilan Bisa Mulai Terdeteksi dengan Test Pack?

Meski Anda mungkin sudah hamil dua hari setelah berhubungan seks, beberapa test pack pengecek kehamilan mungkin belum bisa langsung mendeteksinya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Kesuburan, Kehamilan 18 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Cara Menggugurkan Kandungan Ketika Kehamilan Bermasalah

Aborsi boleh saja dilakukan apabila ada indikasi medis. Apa saja pilihan cara menggugurkan kandungan yang aman? Simak selengkapnya di halaman ini. 

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 15 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bayi tumbuh gigi

11 Ciri Bayi Tumbuh Gigi yang Perlu Diketahui Orangtua

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
cat kuku kutek

Informasi Seputar Cat Kuku dan Dampaknya untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
bercak darah tanda hamil atau menstruasi

Apa Bedanya Bercak Darah Tanda Hamil atau Menstruasi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
program dan cara cepat hamil

7 Cara Cepat Hamil yang Perlu Dilakukan Anda dan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit