Memberi Pendidikan Seks untuk Anak dan Praremaja, Bagaimana Caranya?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Tidak sedikit orangtua yang menyepelekan pentingnya memberikan pendidikan seks untuk anak dan praremaja. Padahal, seharusnya, anak dan praremaja sudah mulai diberikan pemahaman tentang seksualitas, hubungan dengan lawan jenis, serta segala hal yang menyangkut sistem reproduksi pria dan wanita.

Jangan sampai anak Anda terlanjur mendapatkan informasi yang kurang tepat seputar seks dari sumber yang tidak dapat dipercaya, misalnya teman sebaya atau internet. Anak Anda juga perlu tahu bahwa sebagai orangtua, Anda bisa diajak berdiskusi seputar topik tersebut. Namun, bagaimana memberikan pendidikan seks untuk anak dan praremaja?

Pendidikan seks untuk anak dan praremaja

Melansir Mayo Clinic, dibandingkan balita atau anak yang belum sekolah, anak yang telah memasuki usia sekolah biasanya memiliki pertanyaan yang lebih spesifik tentang seks. Oleh sebab itu, jika Anda sudah pernah memberikan pendidikan seks kepada anak pada saat masih balita, mungkin ada masa-masa tertentu untuk ‘memperbarui’ pengetahuan anak tentang seks berdasarkan umur.

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai pendidikan seks untuk anak berdasarkan usianya.

Pendidikan seks untuk anak-anak

Tentu Anda harus membedakan informasi yang hendak Anda sampaikan saat memberikan pendidikan seks untuk anak, praremaja, dan remaja. Ada informasi-informasi yang masih terlalu sulit untuk dipahami anak, sehingga bisa Anda sampaikan saat anak sudah beranjak remaja.

Saat memberikan pendidikan seks untuk anak-anak, informasi yang diberikan biasanya meliputi:

Bagian-bagian tubuh dan cara menghargai bagian tubuh tersebut

Memasuki usia sekolah, pada usia 6-8 tahun, Anda mungkin bisa memberikan pendidikan seksual mengenai bagian tubuh yang berhubungan dengan seks. Sebagai contoh, Anda mungkin bisa mengenalkan fungsi vagina atau penis, payudara, dan berbagai bagian tubuh lainnya.

Di samping itu, sampaikan pada anak bahwa tidak ada yang boleh menyentuhnya tanpa izin, baik teman sebaya, guru, atau orang dewasa lainnya. Tak lupa, beri tahu anak bahwa bagian-bagian tubuh tertentu sebaiknya tidak disentuh oleh siapa pun.

Kekerasan atau pelecehan seksual

Memasuki usia sekolah, anak Anda mungkin akan menghabiskan sebagian waktunya tanpa Anda. Saat berada di sekolah, anak Anda harus tahu cara melindungi dirinya sendiri. Maka itu, penting bagi Anda menyampaikan bahwa mungkin, di luar sana, ada orang yang memiliki niatan jahat pada anak.

Agar anak bisa melindungi diri dari kekerasan atau pelecehan seksual saat tidak bersama Anda, penting bagi Anda menyampaikan tentang bagaimana kekerasan atau pelecehan seksual terjadi. Dengan menyampaikan materi tersebut dalam pendidikan seks yang Anda berikan untuk Anda, diharapkan anak bisa lebih menjaga diri.

Di samping itu, mungkin saja anak bisa membantu teman yang mengalami kekerasan atau pelecehan seksual di lingkungan sekolah.

Hubungan seks

Anda juga bisa memberi tahu anak tentang hubungan seks. Namun, beri tahu anak mengenai informasi ini jika anak Anda terlihat sudah siap. Sampaikan informasi ini dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. Biasanya, saat menyampaikan informasi mengenai hubungan seks yang dilakukan oleh orang dewasa, Anda bisa memberikan informasi mengenai pubertas.

Gejala awal pubertas

Salah satu materi pendidikan seks untuk anak usia 6-8 tahun adalah pubertas. Sebelum memasuki masa pubertas, ada baiknya jika Anda mengenalkan mengenai pubertas kepada anak. Gunakan bahasa yang baik dan mudah dipahami, sehingga anak bisa menerima informasinya dengan tepat.

Dalam memberikan pendidikan seks untuk anak, beberapa aspek mungkin akan lebih mudah disampaikan jika Anda menggunakan alat bantu, misalnya buku. Jika beruntung, Anda mungkin bisa menemukan buku yang tepat yang bisa membantu Anda memberikan gambaran yang lebih jelas dan mudah dipahami mengenai pubertas dan hubungan seks.

Pendidikan seks untuk praremaja

Sementara itu, untuk anak di usia praremaja, Anda bisa meningkatkan level informasi yang Anda sampaikan saat memberikan pendidikan seks. Memasuki usia 9-11 tahun, anak sudah dianggap sebagai praremaja. Pada saat itu, pendidikan seks yang bisa Anda berikan kepada anak Anda mungkin meliputi informasi berikut ini.

Mengalami pubertas

Jika sebelumnya Anda sudah pernah mengenalkan anak terhadap pubertas, kini saatnya bagi Anda untuk menjelaskan lebih detil mengenai apa yang akan dialami anak pada masa puber. Apalagi, pada usia 9-11 tahun, sebagian besar anak sudah mulai mengalami perubahan pada tubuhnya sebagai ciri pubertas.

Pada anak perempuan, sampaikan bahwa anak akan mengalami pertumbuhan payudara, sehingga ukuran payudara akan membesar. Begitu juga pertumbuhan rambut pada beberapa bagian tubuh seperti ketiak dan area vagina. Sementara, pada anak laki-laki, selain pertumbuhan penis dan testis, anak laki-laki juga akan mengalami perubahan suara, dan pertumbuhan rambut di area wajah, ketiak, dan area penis.

Tidak hanya itu, saat memasuki masa puber, mungkin akan timbul jerawat di wajah dan beberapa bagian tubuh lain, lebih mudah berkeringat, dan tinggi anak perempuan akan mengalami peningkatan lebih pesat dibanding anak laki-laki.

Merawat diri pada masa puber

Saat menjelaskan masa puber pada pendidikan seks untuk anak di usia praremaja, ajarkan pentingnya merawat diri. Sebagai contoh, bantu anak cegah bau badan dengan selalu mengganti pakaian kotor yang telah penuh dengan keringat. Lalu, dorong anak untuk lebih rajin mandi, khususnya jika baru melakukan aktivitas di luar rumah.

Di samping itu, ajarkan anak untuk bercukur, dan rajin membersihkan wajah agar debu dan kotoran yang menempel tidak memicu timbulnya jerawat dan komedo. Perawatan ini termasuk ke dalam menjaga kebersihan agar menjadi kebiasaan hingga dewasa nanti.

Mimpi basah dan masturbasi

Tidak ada salahnya mengenalkan anak terhadap berbagai istilah seksual. Sebagai contoh, kenalkan pada anak mengenai ereksi, ejakulasi, mimpi basah, hingga masturbasi. Pendidikan seks untuk anak usia praremaja sudah boleh membahas informasi mengenai hal-hal tersebut.

Apalagi, pada anak laki-laki, mimpi basah mungkin saja dialaminya pada masa remaja. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya mengenalkan kepada anak terlebih dahulu sebelum ia mengalaminya nanti.

Aktivitas seksual

Jika pada usia sebelumnya Anda belum menjelaskan apa yang terjadi pada saat orang dewasa melakukan hubungan seks, ini mungkin saat yang tepat. Memberi tahu kepada anak mengenai berbagai aktivitas seksual adalah materi yang bisa Anda sampaikan pada pendidikan seks untuk anak di usia praremaja.

Sebagai contoh, beri tahu bahwa berciuman dan berpelukan sudah termasuk ke dalam aktivitas seksual yang dilakukan oleh orang dewasa. Selain itu, sampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami aktivitas seksual apa saja yang akan dilakukan oleh orang dewasa saat berhubungan seks.

Tak lupa, sampaikan pada anak bahwa aktivitas tersebut hanya boleh dilakukan saat sudah dewasa, dan anak seusianya tidak sepatutnya melakukan aktivitas seksual. Jika perlu, sampaikan risiko yang mungkin dialami oleh anak seusianya jika melakukan aktivitas tersebut.

Menjalin hubungan dengan lawan jenis

Pada usia ini, anak Anda mungkin sudah mulai menaruh perhatian terhadap lawan jenis. Maka itu, sudah sepatutnya bagi Anda mulai mengajarkan kepada anak mengenai hubungan dengan lawan jenis. Ya, materi ini juga penting untuk disampaikan pada pendidikan seks untuk anak usia praremaja. Sampaikan kepada anak, bagaimana cara memperlakukan teman lawan jenis.

Lebih dari itu, sampaikan juga bahwa sikap-sikap tertentu sebaiknya tidak dilakukan kepada teman lawan jenisnya karena mungkin sudah dianggap melebihi batasan wajar. Selain itu, sampaikan apa itu pengertian pacaran dan batasan apa yang sebaiknya dipahami anak.

Anak perempuan usia 9-10 tahun juga banyak mengkhawatirkan berbagai perubahan fisik yang akan terjadi ketika puber. Jangan lupa untuk membahas hal-hal berikut bersama anak perempuan Anda.

Tips memberikan pendidikan seks untuk anak dan praremaja

Ketika mendengar soal pendidikan seks untuk anak dan praremaja, hal pertama yang mungkin terlintas di benak Anda adalah rasa canggung. Sebagai orangtua, pahamilah bahwa perkembangan diri, kesehatan, dan pertumbuhan anak jauh lebih penting dari rasa canggung yang muncul. Untuk membantu Anda memberikan pendidikan seks untuk anak dan praremaja, simak tips-tips pintar berikut ini.

Membelikan buku

Jika Anda merasa kesulitan memberikan pendidikan seks untuk anak dan praremaja dengan bahasa Anda sendiri, Anda mungkin bisa menjelaskannya dengan bantuan buku. Belilah buku yang membahas soal pubertas, menstruasi, dan seksualitas khusus untuk anak seusianya.

Saat ini sudah banyak tersedia di toko buku berbagai literatur bergambar seputar pendidikan seks yang bisa dipahami anak dengan mudah. Letakkan buku-buku tersebut di kamar anak. Lalu katakan, “Ayah/ Ibu punya buku bagus yang penting untuk kamu baca. Tolong dibaca baik-baik, nanti kalau ada pertanyaan langsung tanya pada Ayah/ Ibu, ya.”

Ciptakan suasana yang nyaman untuk berdiskusi

Sebagai orangtua, Anda adalah orang dewasa yang memiliki kewajiban sebagai teman diskusi anak mengenai berbagai hal, termasuk seks. Maka itu, saat memberikan pendidikan seks kepada anak dan praremaja, ciptakan suasana yang nyaman.

Sebagai contoh, sampaikan pendidikan seks untuk anak dan praremaja saat suasana hatinya sedang baik. Pasalnya, saat suasana hati sedang kalut, anak justru sulit menangkap informasi yang Anda sampaikan. Jika Anda merasa canggung untuk memulai, cobalah untuk memulai dengan pengantar yang baik.

Untuk permulaan, tanyakan kepada anak, apa saja yang sudah dipelajari di sekolah mengenai pendidikan seks. Dari pertanyaan tersebut, biarkan pembicaraan tentang topik ini mengalir dengan alami. Untuk memancing perhatian anak, dalam memberikan pendidikan seks, coba sampaikan pengalaman pribadi yang menarik, sehingga anak merasa lebih ‘familiar’ dengan cerita yang disampaikan.

Jangan berbelit-belit

Saat memberikan seks untuk anak dan praremaja, usahakan untuk tidak berbelit-belit. Mengapa? Saat Anda sendiri kebingungan untuk menyampaikan informasi mengenai topik ini, anak mungkin kehilangan minat, bahkan salah tangkap.

Di samping itu, bisa saja anak salah paham dengan berpikir bahwa membicarakan seks dengan Anda adalah hal yang tabu dan tidak pantas. Hal ini mungkin memicu anak, suatu hari nanti, untuk mencari tahu sendiri dari sumber yang belum tentu dapat memberikan informasi yang tepat.

Saat menjelaskan apa itu seks, Anda bisa bilang, “Seks terjadi ketika dua orang dewasa sudah siap (atau sudah menikah) dan saling mencintai. Penis laki-laki akan masuk ke dalam vagina wanita. Kemudian penis akan mengeluarkan cairan yaitu sperma. Sperma akan bertemu dengan sel telur wanita dalam rahim. Kalau ini terjadi, wanita akan hamil.”

Memberikan pendidikan seks secara berkala

Tak perlu menjejali anak dengan berbagai hal dalam sekali diskusi. Usahakan untuk membicarakan satu topik tertentu dalam setiap kesempatan. Dengan begitu, anak jadi punya kesempatan untuk menyerap dan mengingat informasi yang didapat.

Jangan berlebihan

Apabila suatu hari anak bertanya soal seks dan Anda terkejut, jangan tunjukkan rasa kaget atau amarah Anda pada anak. Anak akan merasa terancam dan segan untuk bertanya pada Anda di kesempatan berikutnya.

Tetap tenang dan tanyakan baik-baik dari mana anak mendengar hal tersebut, jangan gunakan nada yang menuduh atau menginterogasi. Kemudian, berikan penjelasan yang memadai. Setelah itu pastikan bahwa anak sudah memahami jawaban Anda.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 13, 2017 | Terakhir Diedit: April 2, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca