Mengapa Seseorang Bisa Terdorong untuk Menyakiti Orang Lain?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Anda mungkin sudah tak asing dengan adegan kekerasan di dalam film. Perilaku seperti ini ternyata tidak hanya ada dalam film. Di dunia nyata pun, manusia secara alamiah memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan. Hal ini terkadang bisa berubah menjadi dorongan untuk menyakiti orang lain.

Sebenarnya, dari mana asalnya dorongan tersebut?

Alasan ilmiah di balik dorongan menyakiti orang lain

korban bullying

Kekerasan, baik secara fisik maupun emosional, pada dasarnya merupakan bagian dari kepribadian yang membentuk manusia. Memang sulit diakui, tapi diskriminasi, bully, dan segala macam interaksi yang bisa memicu konflik juga tidak dapat lepas darinya.

Perilaku ini dikenal sebagai agresi dalam dunia psikologi. Pencetus teori psikoanalisis, Sigmund Freud, menyatakan bahwa agresi berasal dari dorongan dalam diri seseorang. Dorongan ini menjadi motivasi dan muncul dalam bentuk perilaku tertentu.

Sayangnya, agresi memunculkan perilaku yang tujuannya merusak seperti intimidasi, ancaman, cemoohan, bahkan sesimpel kebiasaan bergosip tentang orang lain. Perilaku ini tidak hanya menghancurkan orang lain, tapi juga orang yang melakukannya. 

Salah satu bentuk agresi yang paling ekstrem adalah dorongan untuk menyakiti orang lain. Seperti perilaku agresi lainnya, keinginan untuk menyakiti orang lain mempunyai beberapa tujuan, seperti:

  • mengungkapkan amarah dan permusuhan
  • menunjukkan kepemilikan
  • menunjukkan dominasi
  • mencapai tujuan tertentu
  • bersaing dengan orang lain
  • sebagai respons dari rasa sakit atau takut

Melansir laman Pijar Psikologi, Freud menggambarkan kekerasan sebagai nafsu yang sifatnya manusiawi. Nafsu tersebut menuntut agar dipenuhi, sama seperti nafsu makan maupun gairah untuk berhubungan seksual.

Jika dirunut dari zaman sebelum peradaban, manusia harus berjuang untuk mendapat makanan serta melindungi diri, keluarga, dan kelompoknya. Sering kali mereka harus melakukan kekerasan untuk mencapai tujuan tersebut.

Perilaku kekerasan terekam dalam genetik dan menjadi naluri yang tertanam sampai sekarang. Namun, peradaban manusia membuat kekerasan jadi tidak masuk akal lagi. Kekerasan kini dilihat sebagai hal yang tidak manusiawi dan tidak rasional.

Dorongan untuk menyakiti orang lain tetap ada, tapi Anda terlatih untuk menyimpannya. Bahkan, Anda bisa saja tidak sadar memilikinya. Keinginan tersebut mungkin baru akan muncul saat Anda menghadapi konflik yang menimbulkan emosi negatif.

Mengapa manusia tidak saling menyakiti

memaafkan orang yang dibenci

Freud mencetuskan konsep bahwa kehidupan memiliki tiga tingkatan kesadaran, yaitu sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Menurutnya, sebagian besar perilaku manusia dikendalikan oleh tingkatan kesadaran tersebut.

Dalam tingkatan kesadaran tersebut, ada tiga unsur kepribadian yang disebut id, ego, dan superego. Id adalah bagian dari alam bawah sadar yang menginginkan kepuasan dan kesenangan, contohnya Anda makan ketika merasa lapar.

Ego bertugas untuk memenuhi keinginan id dengan cara yang aman dan diterima oleh masyarakat. Jika Anda ingin makan, tentu Anda tidak asal mengambil makanan orang lain. Menurut Freud, egolah yang mengatur hal tersebut.

makanan untuk herpes oral

Sementara itu, superego adalah unsur kepribadian yang memastikan Anda mengikuti aturan dan prinsip moral yang ada. Superego menjaga Anda agar bersikap baik dan bertanggung jawab pada masyarakat yang memiliki tatanan.

Hal yang sama juga terjadi saat Anda merasakan dorongan untuk menyakiti orang lain. Misalnya, Anda marah ketika seseorang menabrak Anda di jalan. Id ingin memuaskan keinginannya dengan bertindak kasar. Anda ingin memukul orang tersebut.

Namun, superego ‘melarang’ Anda untuk melakukan kekerasan. Walaupun kekerasan membuat Anda merasa lebih baik, superego menahan Anda agar tidak melakukannya. Ia juga mengingatkan Anda akan hukuman yang menanti dari tindakan ini.

Pada akhirnya, ego berperan sebagai penengah antara id dan superego. Ia muncul agar Anda dapat mengungkapkan amarah tanpa melakukan kekerasan seperti yang diinginkan id. Dengan cara ini, Anda bisa mengendalikan emosi.

Mengendalikan dorongan untuk menyakiti orang lain

cara mengendalikan emosi

Meskipun secara alamiah ada dalam kepribadian seseorang, keinginan untuk menyakiti orang lain tidak bisa dibenarkan. Tindakan ini juga ilegal dan akan merugikan diri Anda. Jika Anda sering merasakan dorongan tersebut, berikut beberapa tips mengontrolnya.

  • Pikirkan tentang situasi dan orang yang membuat Anda mudah marah. Bayangkan apa saja pemicunya sehingga Anda bisa menghindarinya.
  • Jauhi situasi yang membuat Anda marah sebelum Anda melakukan sesuatu.
  • Bila Anda tahu akan menghadapi situasi yang memicu amarah, coba pikirkan respons apa yang akan Anda berikan.
  • Bicarakan dengan orang terdekat yang mau berusaha memahami Anda.
  • Dalam kondisi tenang, pikirkan kembali apakah tindakan Anda berakibat buruk bagi orang yang Anda sayangi atau hubungan Anda dengan lain.

Dorongan untuk menyakiti orang lain adalah bagian dari naluri seseorang. Perilaku ini muncul akibat banyak faktor yang kadang tak terhindarkan. Walaupun memendamnya tidak mudah, Anda bisa berlatih mengendalikannya sedikit demi sedikit.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Mengetahui Jika Anda Berada Dalam Hubungan yang Abusive

Banyak yang tak sadar bahwa ia dan pasangannya terlibat dalam hubungan abusive (abusive relationship) yang penuh kekerasan, baik fisik maupun emosional.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Hubungan Harmonis 1 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Jenis Kekerasan pada Anak plus Ciri-Ciri yang Terlihat

Tanpa disadari, orangtua mungkin pernah melakukan kekerasan pada anak. Dampak kekerasan ini bisa berkepanjangan, bahkan sampai anak berusia dewasa.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 14 November 2020 . Waktu baca 10 menit

Tanda yang Muncul Jika Anak Anda Jadi Korban Bullying

Bullying bisa terjadi pada siapa saja termasuk anak Anda. Kenali tanda saat anak menjadi korban bullying dalam ulasan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 1 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Penyebab Meningkatnya Kasus KDRT Selama COVID-19 dan Cara Menanganinya

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata ada bahaya lain selama pandemi coronavirus berlangsung, yaitu peningkatan kasus KDRT.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 April 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kekerasan dalam rumah tangga

Pahami Apa Itu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Cara Tepat Menghadapinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
kekerasan emosional

8 Tanda Anda Mengalami Kekerasan Emosional Dalam Hubungan Asmara

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 19 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
KDRT konflik rumah tangga

Melepaskan Diri dari Jeratan Hubungan Abusive

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 8 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit