home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Catat Baik-Baik, Ini Tanda dan Gejala DBD yang Perlu Anda Waspadai

Catat Baik-Baik, Ini Tanda dan Gejala DBD yang Perlu Anda Waspadai

Memasuki musim hujan, bukan hanya flu atau pilek yang umum terjadi. Penyakit lain yang cukup serius, seperti demam berdarah juga mulai mewabah. Anda mungkin melihat banyak beritanya di siaran televisi, tentang banyaknya pasien DBD yang memenuhi rumah sakit. Selain itu, pemerintah juga gencar mengimbau masyarakat untuk mencegah penularannya dan mengamati gejala demam berdarah lebih dini. Sebenarnya, seperti apa gejala demam dengue ini? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Penyakit demam berdarah dan penularannya

nyamuk demam berdarah

Demam berdarah atau dikenal dengan DBD adalah penyakit menular akibat gigitan nyamuk yang membawa virus dengue. Ada dua jenis nyamuk yang menjadi kurir penyebaran virus dengue, yaitu Aedes aegypty dan Aedes albocpictus. Namun, jenis nyamuk yang paling sering menyebarkan penyakit ini di Indonesia adalah nyamuk betina jenis Aedes aegypty.

Meski disebut penyakit menular, penyakit DBD tidak ditularkan dari orang ke orang, seperti flu atau pilek. Virus dengue membutuhkan perantara, yaitu nyamuk untuk mematangkan virus. Kemudian, ketika nyamuk pembawa virus ini menggigit kulit manusia, virus akan berpindah dari lewat gigitan tersebut.

Orang yang sudah terinfeksi virus dengue dapat menularkan infeksi selama 4 hingga 5 hari setelah gejala DBD pertama muncul. Bahkan, bisa terus menyebarkan infeksi virus hingga 12 hari.

Cara penyebaran virusnya, yakni orang yang terinfeksi digigit nyamuk. Kemudian, virus berpindah ke tubuh nyamuk dan berinkubasi selama 4 hingga 10 hari. Selanjutnya, jika nyamuk tersebut menggigit orang yang sehat, maka virus akan berpindah dan menyebabkan infeksi.

Ini tanda dan gejala demam berdarah

anak demam akibat parvovirus adalah

Demam berdarah adalah penyakit yang gejala awalnya menyerupai flu. Namun, lebih berat dan menimbulkan gejala lain yang “melumpuhkan” aktivitas orang yang mengalaminya.

Pada anak-anak yang sebelumnya tidak pernah terinfeksi virus dengue, gejala DBD yang ditimbulkan cenderung lebih parah dibanding orang yang lebih dewasa. Pada kasus parah, komplikasi dapat terjadi dan berpotensi menyebabkan kematian.

Untuk mencegah komplikasi penyakit DBD, Anda tidak boleh mengabaikan tanda dan gejalanya. Virus dengue memengaruhi beberapa sistem tubuh, mulai dari sistem imun, sistem hati, hingga pembuluh darah. Itulah sebabnya, jika seseorang terinfeksi virus ini, maka pasien akan mengalami beberapa fase demam berdarah, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase penyembuhan.

Nah, setiap fase menunjukkan gejala yang berbeda-beda. Berikut panduan bagi Anda dan keluarga supaya bisa mewaspadai gejala demam dengue lebih dini berdasarkan fase-fasenya.

Gejala demam dengue pada fase demam

1. Demam tinggi mendadak

Demam adalah kondisi yang umum terjadi. Baik itu pada anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia. Hampir semua penyakit yang menyebabkan infeksi pada tubuh akan menimbulkan gejala demam, termasuk demam berdarah. Demam ini menandakan bahwa tubuh sedang berusaha melawan infeksi dari virus dengue. Sayangnya, banyak orang yang tidak bisa membedakan demam biasa dengan demam dari gejala penyakit DBD.

Saat demam biasa terjadi, Anda biasanya tahu pemicunya. Contohnya, demam akibat virus flu biasanya terjadi setelah Anda kehujanan. Sementara demam DBD terjadi secara mendadak tanpa Anda tahu pemicunya.

Kemudian, demam akibat flu juga diikuti gejala lain seperti bersin, batuk, dan hidung terus meler sedangkan demam DBD tidak demikian. Demam biasa akan membaik dalam satu atau dua hari. Beda dengan demam karena virus dengue yang biasanya terjadi selama 2 sampai 7 hari.

Perlu Anda catat baik-baik, demam DBD bisa mencapai 40º Celcius. Suhu tubuh tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan demam biasa. Selain itu, gejala ini juga menyebabkan tubuh Anda mengeluarkan banyak keringat dan menggigil. Pada anak-anak atau bayi, fase demam berdarah ini sering kali menyebabkan mereka kekurangan cairan (dehidrasi).

2. Sakit kepala parah

Beberapa jam setelah mengalami demam, gejala DBD yang akan muncul selanjutnya adalah sakit kepala. Namun, sakit kepala akibat DBD lagi-lagi berbeda dengan sakit kepala biasa.

Sakit kepala biasa umumnya menimbulkan rasa berdenyut di sisi kanan, kiri, atau kedua sisi kepala. Sementara sakit kepala yang terjadi akibat demam berdarah, biasanya menimbulkan rasa sakit di sekitar dahi. Bahkan, hingga menembus ke bagian belakang mata.

3. Nyeri tubuh, mual, dan muntah

Selain sakit kepala, gejala demam berdarah yang terjadi setelah demam adalah nyeri pada bagian otot dan sendi. Kondisi ini tentu membuat Anda tidak bisa bergerak dengan bebas dan hanya ingin berbaring di atas kasur.

Pada beberapa orang, masalah pencernaan mungkin juga terjadi, contohnya mual dan muntah. Rasa tidak nyaman pada perut ini juga menjalar hingga area punggung. Biasanya gejala ini akan terjadi selama 2 hingga 4 hari.

4. Kelelahan

Sebagian besar penyakit memang membuat tubuh lemah tidak berdaya, termasuk demam berdarah. Semua gejala seperti demam selama beberapa hari, diikuti nyeri tubuh pasti akan membuat tubuh pasien lemah.

Selain itu, gejala demam berdarah, seperti mual dan muntah juga bisa membuat nafsu makan menurun. Akibatnya, asupan nutrisi jadi berkurang, energi dalam tubuh akan merosot, dan sistem kekebalan tubuh semakin melemah.

Gejala demam dengue pada fase kritis

1. Ruam merah pada kulit

Salah satu gejala khas dari demam berdarah selain demam tinggi mendadak, yakni munculnya ruam pada kulit. Munculnya ruam menandakan bahwa pasien telah memasuki fase kritis. Pada tahap ini, lebih baik jika pasien segera mendapatkan perawatan medis.

Ruam demam berdarah biasanya muncul pada area wajah, kemudian menyebar hingga ke bagian leher, dan dada. Namun, bisa juga muncul di area telapak tangan, bawah kaki, dan bagian tubuh lainnya.

Jika diperhatikan dengan jelas, ruam DBD terlihat seperti gigitan nyamuk. Bintik merah tersebut tidak berair maupun menonjol, seperti cacar air dan akan berkurang pada hari ke-4 dan ke-5 hingga akhirnya hilang pada hari ke-6.

2. Perdarahan dan plasma leaked

Saat virus dengue masuk ke tubuh, secara otomatis sistem imun akan menghancurkan virus tersebut. Sayangnya, sistem imun tidak mampu melawan virus dengue. Hal ini menyebabkan sistem imun mengaktifkan sel endotel—lapisan tunggal yang membungkus pembuluh darah.

Awalnya, celah sel endotel berukuran sangat kecil. Namun, karena sistem imun secara terus-menerus diaktif, celahnya akan semakin membesar. Akibatnya, plasma darah, glukosa, dan nutrisi lainnya keluar dari celah tersebut. Kondisi ini disebut juga dengan plasma leakage atau kebocoran plasma.

Kebocoran plasma ini bisa menyebabkan aliran darah jadi lebih lambat. Sel-sel dalam tubuh pun tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen yang cukup. Jika tidak diobati, kondisinya akan semakin parah. Mulai dari pembesaran hati, kegagalan sistem peredaran darah, perdarahan hebat, syok, hingga kematian bisa terjadi.

Beberapa tanda dan gejala DBD pada fase kritis yang sangat butuh pertolongan perawatan dokter, antara lain:

  • Nyeri hebat pada perut
  • Muntah secara terus-menerus
  • Pendarahan dari hidung atau gusi
  • Muntah darah
  • Feses berwarna hitam
  • Kulit pucat dan terasa dingin ketika disentuh
  • Mengalami kesulitan bernapas
  • Trombosit menurun

Jika diobati, pasien akan mengalami fase penyembuhan

gejala demam berdarah

Pada fase demam maupun fase kritis yang ditangani segera dengan baik, akan membuat kondisi pasien menjadi lebih baik. Ini dikenal dengan fase penyembuhan, yang artinya pasien berhasil melewati fase kritis. Pada fase ini, pasien biasanya akan mengalami demam lagi. Namun, Anda tidak perlu khawatir sebab trombosit akan perlahan naik dan normal kembali.

Selain trombosit yang kembali normal, fase penyembuhan juga ditandai dengan gejala nyeri perut yang mulai hilang, fungsi diuretik yang membaik, serta nafsu makan pasien juga meningkat. Jumlah sel darah putih dalam tubuh pasien juga akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah trombosit.

Bagaimana mengobati penyakit DBD?

Hingga kini belum ditemukan pengobatan khusus untuk menyembuhkan demam berdarah. Namun, upaya yang dilakukan tenaga medis untuk mengurangi gejala demam berdarah supaya tidak semakin parah adalah menjadi kebutuhan cairan tubuh pasien. Mengapa?

Gejala demam berdarah seperti demam tinggi mendadak, menyebabkan pasien mengeluarkan banyak keringat. Meningkatnya suhu tubuh tersebut bisa mengurangi kadar cairan air dalam tubuh.

Ditambah dengan gejala mual dan muntah, yang sebagian besar membuat makanan atau minuman yang sudah tertelan keluar dari tubuh. Apalagi jika kebocoran plasma terjadi. Plasma yang mengandung 91% air, darah, dan glukosa bisa keluar dari pembuluh darah. Inilah sebabnya pemenuhan kebutuhan cairan adalah kunci untuk memulihkan kesehatan pasien.

Nah, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang, pasien tak hanya butuh air putih saja. Pasalnya, air putih tidak mengandung nutrisi lengkap yang bisa menggantikan plasma darah yang bocor. Pasien membutuhkan cairan elektrolit yang tidak hanya terdiri dari air saja, tapi juga natrium, kalium, klorin, magnesium, kalsium, dan mineral penting lainnya bagi tubuh.

Cairan elektrolit yang biasanya diberikan pada pasien, meliputi minuman bergula, minuman elektrolit, oralit, susu, jus buah, cairan infus, atau cucian air beras.

Perlukah pasien DBD dirawat di rumah sakit?

pasien DBD harus rawat inap

Meski penyakit demam berdarah termasuk penyakit yang berbahaya, tidak semua pasien yang mengalami penyakit ini harus dirawat inap (opname). Pasien harus lebih dulu menjalani tes kesehatan, seperti mengevaluasi gejala yang muncul dan tes darah.

Ketika hasil pemeriksaan kesehatan sudah muncul, barulah dokter menegakkan diagnosis bahwa pasien memang benar terkena DBD. Kemudian, berdasarkan evaluasi ini tersebut juga, dokter bisa menentukan bahwa pasien harus menjalani opname atau tidak.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) pasien dengan gejala demam berdarah yang serius wajib menjalani rawat inap. Pasalnya, masa-masa kritis akan dilewati pasien selama 24 hingga 48 jam. Ini merupakan penentu pasien dapat bertahan hidup atau tidak.

Nah, tanda-tanda pasien DBD yang harus mendapatkan rawat inap adalah pasien yang mengalami beberapa gejala dari fase kritis, seperti ruam di kulit, perdarahan, dan terus mual dan muntah. Di rumah sakit, pasien akan menerima cairan infus yang mengandung elektrolit, pemeriksaan tekanan darah secara berkala, hingga transfusi darah jika pasien membutuhkan darah akibat perdarahan.

Sebaliknya, untuk pasien yang tidak diwajibkan menjalani rawat inap, bukan berarti mereka bebas dari pengawasan dokter dan mengandalkan pengobatan rumahan. Pasien ini hanya disarankan untuk menjalani rawat jalan.

Pertimbangan dokter bagi pasien DBD untuk rawat inap

periksa ke dokter

Selain kondisi kesehatan pasien, beberapa pertimbangan yang dokter ajukan pada keluarga pasien sebelum mengizinkan pasien DBD bisa melakukan rawat jalan, meliputi:

  • Persediaan cairan elektrolit di rumah memadai
  • Keluarga mampu mengecek suhu tubuh pasien dengan termometer dengan rutin
  • Kepastian bahwa makanan yang dikonsumsi pasien dapat dicerna dengan mudah
  • Kesanggupan anggota keluarga untuk menjaga pasien sepanjang hari

Jika anggota keluarga tidak memenuhi pertimbangan tersebut, biasanya dokter lebih menyarankan pasien untuk melakukan rawat inap. Termasuk jika pasien selalu menolak atau sulit untuk makan atau minum apa pun.

Selain itu, usia pasien pun turut menjadi pertimbangan dokter untuk menentukan rawat inap atau opname. Terutama pada anak-anak dan bayi. Mereka cenderung mengalami gejala demam berdarah yang lebih parah dibanding orang dewasa. Apalagi, anak-anak dan bayi sangat rentan mengalami dehidrasi.

Orang dewasa biasanya lebih mudah ditangani dan dibujuk untuk minum obat, istirahat yang cukup, minum cairan elektrolit, dan makan ketimbang anak-anak.

Cara mencegah penularan penyakit DBD

tanaman pengusir nyamuk

Penyakit DBD tidak ditularkan melalui kontak langsung dengan pasien, melainkan gigitan nyamuk yang membawa virus. Jadi, kunci untuk mencegah penularan penyakit DBD adalah membasmi nyamuk pembawa virus. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan, yakni:

1. Melakukan gerakan 3M

Gerakan 3M adalah upaya yang digalakkan oleh pemerintah untuk memusnahkan nyamuk pembawa virus dengue. Gerakan ini terdiri dari 3 tindakan, yaitu menguras, menutup, dan mengubur.

Nyamuk pembawa virus berkembang biak dengan baik pada genangan air yang tenang dan bersih. Itu artinya, nyamuk bisa berada di dalam rumah dan di lingkungan tempat tinggal Anda, misalnya bak mandi, vas bunga, tempat minum burung, atau kaleng dan botol yang tidak terpakai.

Supaya nyamuk tidak berkembang biak, Anda harus rajin menguras dan membersihkan wadah-wadah tersebut. Kemudian, tutup tempat penampungan air supaya nyamuk tidak dapat masuk ke dalamnya. Selanjutnya, pastikan lingkungan bebas sampah kaleng atau botol bekas dengan cara menguburnya di halaman belakang atau melakukan daur ulang.

2. Gunakan tanaman pengusir nyamuk

Selain gerakan 3 M, Anda juga bisa menggunakan menghiasi rumah dengan tanaman pengusir nyamuk, seperti lavender, tapak dara (geranium) bunga kenikir, daun mint, tanaman jeruk, dan sereh.

Tanaman tersebut memiliki aroma yang khas yang dibenci oleh nyamuk. Selain membuat rumah Anda tampak lebih cantik, tanaman tersebut juga mampu mengusir nyamuk dari rumah Anda.

3. Manfaatkan wadah yang menjadi sarang nyamuk

Jika Anda memiliki kolam kecil yang tidak terpakai, genangan air yang ada bisa menjadi sarang bagi nyamuk pembawa virus dengue. Supaya nyamuk tidak tinggal di sana, manfaatkan kembali kolam tersebut.

Caranya dengan membersihkan, mengisinya kembali dengan air bersih, dan masukkan ikan pemakan jentik nyamuk, seperti ikan cupang, ikan cere, atau ikan mas.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dengue Fever. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/dengue-fever-reference#1. Diakses pada 5 Agustus 2018.

Dengue Fever. https://www.emedicinehealth.com/dengue_fever/article_em.htm#what_are_symptoms_and_signs_of_dengue_fever. Diakses pada 5 Agustus 2018.

Symptoms and What To Do If You Think You Have Dengue. https://www.cdc.gov/dengue/symptoms/index.html. Accessed on March 26th, 2019.

Dengue and severe dengue. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue. Accessed on March 26th, 2019.

Dengue and Severe Dengue. https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue. Accessed on March 26th, 2019.

Clinical Guidance. https://www.cdc.gov/dengue/clinicallab/clinical.html. Accessed on March 26th, 2019.

Kementerian Kesehatan RI. (2010). Buletin Jendela Epidemiologi | Demam Berdarah Dengue di Indonesia Tahun 1968-2009, vol. 02. Accessed on March 26th, 2019.

Kementerian Kesehatan RI. (2013). Buku Saku Pengendalian DBD. Accessed on March 26th, 2019.

 

Foto Penulis
Ditulis oleh Aprinda Puji pada 24/08/2018
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x