7 Penyebab Infeksi Vagina Jika Belum Pernah Berhubungan Seks

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Infeksi vagina biasanya ditandai dengan rasa gatal, panas, nyeri di vagina atau sekitar vagina Anda, atau masalah dengan cairan vagina Anda (keputihan). Dari hasil browsing dan tanya kanan-kiri, Anda tahu bahwa tanda-tanda ini mungkin menunjukkan penyakit kelamin seperti herpes, HPV, dan gonore. Yang bikin Anda makin garuk-garuk kepala, Anda belum pernah berhubungan seksual sama sekali. Bagaimana bisa kena infeksi vagina?

Ternyata, walaupun gejalanya sebelas-dua belas, tak semua infeksi vagina disebabkan oleh kontak seksual. Masalah pada vagina juga tak selalu terkait dengan penyakit kelamin.

Mengapa bisa terkena infeksi vagina padahal belum pernah berhubungan seks?

Dua infeksi vagina paling umum adalah bacterial vaginosis dan infeksi ragi. Dua infeksi ini biasanya dapat timbul tanpa kontak seksual apapun. Infeksi ragi adalah pertumbuhan berlebih dari jamur, alias ragi, yang biasanya bersemayan dalam tubuh Anda. Sementara itu, bacterial vaginosis terjadi ketika ada ketidakseimbangan antara bakteri jahat dan bakteri baik dalam vagina.

Kedua infeksi ini menyebabkan keputihan yang beda dari biasanya, putih kental seperti susu, atau keabuan. Jika ada bau amis yang menyertainya, mungkin bacterial vaginosis adalah biang kerok masalah Anda. Tapi jika keputihan Anda tampak menggumpal menyerupai bongkahan, kemungkinan besar penyebabnya adalah infeksi ragi. Keduanya juga dapat menyebabkan gatal dan sensasi terbakar saat buang air kecil.

Berikut adalah tujuh cara Anda bisa mendapatkan infeksi vagina tanpa berhubungan seks:

1. Minum antibiotik

Antibiotik (seperti amoksisilin atau obat-obatan steroid) mengobati infeksi dengan memerangi bakteri. Di sisi lain, obat ini dapat memakan waktu lama untuk membedakan mana bakteri jahat dan bakteri baik. Jadi, meski antibiotik bekerja menumpas bakteri jahat, dalam prosesnya beberapa bakteri baik mungkin ikut dimatikan.

Bakteri baik dalam vagina memiliki fungsi sebagai penyeimbang populasi jamur vagina — disebut candida. Tanpa bakteri baik, jamur akan sangat cepat melipatgandakan populasinya dan menjajah ekosistem dalam vagina Anda.

2. Merokok

Tak hanya kesehatan jantung dan paru yang akan terancam jika Anda adalah perokok berat, namun juga vagina Anda. Wanita yang merokok dua kali lebih mungkin untuk alami bacterial vaginosis daripada non-perokok. Meskipun belum ditentukan bahwa merokok adalah penyebab langsung dari infeksi ini, studi menunjukkan bahwa merokok dikaitkan dengan penurunan populasi Lactobacillus spp dalam vagina. Bakteri baik ini kemudian digantikan dengan bakteri jahat, umumnya Gardnerella.

3. Memakai pakaian yang tidak menyerap keringat

Bakteri dan jamur akan panen raya dalam lingkungan tertutup yang hangat dan lembap. Sayangnya, terus mengenakan skinny jeans, celana ketat atau legging, atau bahkan berlama-lama memakai baju renang basah dapat menyebabkan jamur vagina Anda untuk membuas sehingga menyebabkan infeksi jamur.

Solusinya sederhana: Biarkan vagina Anda “bernapas”. Mulai kenakan celana longgar dan lebih baik untuk tidak memakai pakaian dalam saat tidur, kecuali jika Anda perlu. Selain itu, pilih bahan kain yang terbuat dari katun untuk memudahkan kulit Anda bernapas. Jangan lupa juga untuk sering-sering ganti celana dalam.

4. Membersihkan vagina dengan douching

Tak seperti apa kata iklan, vaginal douching, alias alat penyemprot vagina, sebenarnya buruk untuk kesehatan vagina Anda. Cairan douching dapat membilas bersih populasi bakteri baik dan mengubah keseimbangan pH vagina Anda sehingga memicu pertumbuhan bakteri jahat berlebih, yang pada akhirnya menyebabkan bacterial vaginosis.

Solusinya? Stop douching. Vagina tak perlu harum semerbak kebun bunga. Kecuali diikuti oleh gejala lainnya, bau vagina Anda normal, dan akan berbeda untuk setiap wanita.

5. Alergi terhadap produk kebersihan pribadi

Kadang, keluhan gatal, sensasi panas terbakar, dan bahkan keputihan abnormal bisa terjadi tanpa adanya infeksi. Paling sering, masalah vagina ini terjadi sebagai reaksi alergi atau iritasi dari bahan kimia dalam produk-produk kebersihan pribadi, seperti deterjen pakaian, cairan pelembut kain, sabun wangi, pembalut berparfum, atau bahkan bahan pakaian. Semua ini akan menyebabkan iritasi kulit jika bersentuhan dengan kulit vagina yang super sensitif.

Jika Anda mengalami gatal atau sensasi terbakar di bawah sana, pertimbangkan untuk menghentikan beberapa produk alergen yang mungkin memicu masalah Anda sebelum buru-buru pergi ke dokter.

6. Anda mengidap diabetes yang tak terkontrol

Jika Anda memiliki diabetes, perhatikan tanda-tanda infeksi jamur, seperti keputihan abnormal dan vagina yang terasa gatal atau terbakar. Gula darah yang tidak terkontrol dapat memicu peningkatan pertumbuhan jamur, jadi jika Anda memiliki diabetes dan rentan terhadap infeksi ragi, pertimbangkan untuk menghubungi dokter; pengobatan diabetes dapat disesuaikan dengan kondisi Anda.

7. Sebab lainnya

Infeksi vagina yang bukan dari kontak seksual juga bisa berasal dari penurunan hormon menjelang menopause; ovarium Anda diangkat (sebagai salah satu metode KB); atau Anda menggunakan pil KB yang memiliki dosis estrogen tinggi. Bacterial vaginosis juga umum terjadi di kalangan wanita hamil.

Berbagai cara mengobati infeksi vagina

Infeksi vagina dapat diobati dengan obat nonresep yang banyak dijual di apotek dalam bentuk krim, salep, tablet, atau alat yang dimasukkan ke dalam vagina Anda. Tapi selalu lebih baik untuk terlebih dulu berkonsultasi dengan dokter jika Anda memiliki rasa sakit, gatal, atau gejala lainnya di sekitar vagina, dan sebisa mungkin tidak mencoba untuk main hakim sendiri. Jangan merisikokan kesehatan Anda dengan berbuat teledor. Kunjungi dokter atau ahli kesehatan lain yang dapat mengetahui penyebab dan pengobatan yang tepat.

Kunci untuk mengobati infeksi vagina secara efektif adalah mendapatkan diagnosis yang tepat. Perhatikan benar apa gejala yang Anda miliki dan kapan keluhan mulai. Bersiaplah untuk menggambarkan warna, tekstur, bau, dan banyaknya keputihan Anda. Jangan douching sebelum berkunjung ke dokter; hal ini akan membuat hasil diagnosis akurat sulit atau tidak mungkin. Beberapa dokter akan meminta Anda untuk tidak berhubungan seks selama 24-48 jam sebelum janji Anda.

Jangan menggaruk untuk meringankan gatal. Anda mungkin secara tidak sengaja akan membuat sobekan mikroskopik pada kulit yang memungkinkan bakteri atau virus penyebab penyakit menular seksual masuk ke tubuh Anda dengan lebih mudah di masa depan.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 2, 2017 | Terakhir Diedit: Maret 2, 2018

Sumber
Yang juga perlu Anda baca