Mengungkap Mitos dan Fakta Seputar Masalah Cacingan

Ini adalah artikel sponsor. Informasi selengkapnya mengenai Kebijakan Pengiklan dan Sponsor kami, silakan baca di sini.

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Infeksi cacing kerap dianggap sepele karena banyaknya mitos yang beredar mengenai masalah ini. Faktanya, cacingan tidak boleh dianggap sebuah masalah kecil karena beberapa hal. Simak mitos dan fakta seputar cacingan serta cara saling menjaga sesama dari masalah cacingan di sini.

Mitos dan fakta seputar cacingan

Infeksi cacing merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit, seperti cacing gelang, tambang, kremi, dan lainnya. Cacing-cacing tersebut dapat hidup di dalam usus. Yuk, cek fakta seputar cacingan untuk mematahkan mitos yang kerap beredar mengenai kondisi ini.

Cacingan tidak berbahaya

cacingan pada anak

Cacingan tidak berbahaya merupakan sebuah mitos yang harus dipatahkan dari awal. Infeksi cacing justru berbahaya apabila dibiarkan. Salah satu kesimpulan dari studi berjudul Parasitic Colitis adalah infeksi cacing pada saluran pencernaan dapat menghambat perkembangan fisik dan kognitif seseorang, termasuk stunting.

Cacingan menghambat perkembangan fisik dengan menyerap sejumlah nutrisi yang Anda makan. Salah satu contohnya adalah cacing menggunakan vitamin A untuk bertahan hidup. Jadi, nutrisi dari makanan yang dimakan mungkin akan diserap sebagian oleh parasit tersebut. Parasit di dalam sistem usus juga dapat menyebabkan anemia.

Kemudian, anak dengan cacingan pun memiliki daya konsentrasi yang mudah terganggu. Alhasil, sejumlah anak dengan gangguan cacingan tak mampu menyerap informasi dengan baik.

Kuku panjang memicu cacingan

Ada hal yang harus diluruskan dari mitos ini. Ukuran panjang kuku seberapa pun dapat menjadi media seseorang mengalami cacingan. Salah satu penyebab cacingan adalah kontak antara tangan dengan permukaan yang tidak disadari adanya telur cacing.

Telur cacing secara tidak disadari dapat menempel pada kuku berukuran panjang atau pendek. Misalnya, ketika seorang anak kecil menggaruk bagian tubuh yang dicemari oleh telur cacing. Jadi, fakta seputar cacingan yang harus diingat adalah segala ukuran panjang kuku dapat memicu cacingan apabila ada telur cacing yang menetap di sana.

Makan kelapa parut akan mengundang parasit ke dalam usus

Apakah betul makan kelapa parut akan menyebabkan cacingan? Ya, apabila telur cacing atau cacing yang masih kecil terdapat di kelapa parut. Apabila tidak ada telur cacing yang mencemari, makan kelapa parut saja tidak akan membuat seseorang mengalami cacingan.

Harap diingat, sajian apa pun dapat mengundang cacing ke dalam usus jika telah terkontaminasi telur cacing. Daging salmon di kedai makanan khas Jepang favorit memiliki kemungkinan tercemar oleh bayi cacing. Begitu juga dengan bistik sapi setengah matang yang suka disantap di restoran, seperti yang dilaporkan oleh National Health Security (NHS).

Perut buncit pertanda infeksi cacing

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tanda-tanda cacingan bersifat tidak spesifik, seperti:

  • Mual
  • Kelelahan
  • Sakit perut
  • Nafsu makan menurun

Tanda cacingan yang terlihat nyata dan spesifik, seperti perut buncit, bisa menjadi pertanda bahwa infeksi justru telah berkembang menjadi parah. Jadi, betul, perut buncit merupakan fakta seputar cacingan. Akan tetapi, patut diingat bahwa infeksi ini mungkin sebaiknya segera dievaluasi oleh dokter supaya tidak berkembang menjadi komplikasi.

Cacingan hanya masalah anak kecil

cacingan

Masalah infeksi cacing dapat menyerang tanpa pandang bulu, baik itu anak kecil atau orang dewasa. Dengan begitu, tidak benar apabila cacingan hanya mengganggu anak kecil.

Bahkan, saat seseorang di rumah mengalami masalah cacingan, seluruh anggota keluarga yang berada dalam satu rumah disarankan untuk minum obat cacing. Tak peduli berapa pun usianya dan menunjukkan gejala atau tidak, setiap anggota keluarga disarankan untuk mengonsumsi obat cacing untuk mencegah infeksi cacing terjadi kembali di keluarga tersebut.

Infeksi cacing tidak menular

Fakta seputar cacingan adalah, infeksi cacing justru dapat menular di mana saja. Penularan terjadi dalam lingkungan yang tidak bersih, tanpa peduli lingkungan berada di tempat orang berpenghasilan tinggi atau rendah.

Contohnya, orang dewasa menyentuh permukaan yang terkontaminasi telur cacing dengan tangannya dan diikuti makan menggunakan tangan yang telah dicemari tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Tambahan lagi, telur cacing kremi dapat mudah menempel pada permukaan barang-barang di rumah. Sebut saja pada mainan anak, gagang pintu, pakaian, dan tempat tidur.

Saat anak kecil dengan kebiasaan menggigit kuku menyentuh permukaan yang tercemar lalu kembali melakukan kebiasaannya, penularan dapat terjadi. Dengan begitu, infeksi cacing tak menular hanyalah sebuah mitos.

Ayo saling jaga sesama dari cacingan

anak cuci tangan

Ayo, saling jaga sesama dari bahaya infeksi cacing dengan menjaga kebersihan. Jangan lupa cuci tangan sebelum makan dan mengajarkan anak tentang cara menjaga kebersihan. Basmi cacing di dalam tubuh dengan mengonsumsi obat cacing yang mengandung Pyrantel Pamoate.

Obat bebas terbatas untuk infeksi cacing ini dapat dikonsumsi oleh anak dan orang dewasa dengan berbagai pilihan rasa dan bentuk (tablet maupun cairan) yang sesuai selera. Apabila tinggal di lingkungan dengan tingkat cacingan yang tinggi, konsumsi obat cacing 2 kali setahun untuk mengurangi risiko cacingan, seperti anjuran dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

Selain makanan dan debu, ada pemicu reaksi alergi lain yaitu golongan obat antibiotik. Cari tahu penjelasan lengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Cara Mengatasi Alergi Obat yang Tepat dan Perawatannya

Jangan biarkan alergi mengganggu aktivitas harian Anda. Ketahui cara cepat mengatasi alergi obat yang kambuh sekaligus perawatan kondisinya di rumah.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Alergi Softlens: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Pakai lensa kontak kadang membuat mata merah dan berair, terlebih bagi yang punya alergi. Cari tahu lebih jauh tentang alergi softlens di sini!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Alergi, Alergi Hidung dan Mata 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

Aroma menyengat spidol mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Padahal, kebiasaan mencium spidol menyimpan segudang bahaya untuk tubuh.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kencing berdiri

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
rematik kambuh akibat cuaca Etoricoxib obat

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit
efek samping paracetamol ibuprofen

Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit
alergi paracetamol

Alergi Paracetamol

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit