Memanfaatkan Cahaya, Terapi Baru yang Terbukti Ampuh Obati Depresi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 11 April 2018 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Pernah dengar terapi cahaya? Ya, terapi ini mengandalkan cahaya yang langsung disorot ke bagian tubuh tertentu. Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa terapi cahaya adalah salah satu cara mengatasi depresi, jet lag, dan gangguan tidur. Lantas, mengapa bisa terapi cahaya menghilangkan depresi? Bagaimana caranya?

Terapi cahaya, cara mengatasi depresi yang baru

Sebuah penelitian yang diterbitkan di JAMA Psychiatry, membuktikan bahwa cahaya bisa digunakan untuk menghilangkan depresi. Cara mengatasi depresi seperti ini cukup ampuh, apalagi jika dikombinasikan dengan antidepresan.

Sebenarnya, penelitian ini dilakukan pada kelompok orang yang mengalamiĀ gangguan suasana hati musiman atau seasonal affective disorder (SAD). Gangguan depresi ini terjadi akibatĀ kurangnya terkena sinar matahari saat musim tertentu, misalnya cuaca dingin.

Kebanyakan orang dengan SAD merasa lebih baik setelah mereka menggunakan terapi cahaya. Hal ini mungkin dikarenakan terapi ini dapat menggantikan paparan sinar matahari yang tak di dapatkan selama cuaca tersebut terjadi.

Bahkan para ahli menyimpulkan bahwa terapi cahaya adalah cara mengatasi depresi yang lebih efektif untuk dilakukan ketimbang memberikan obat antidepresi. Meski begitu, penelitian ini memang harus dikaji dan ditelaah lebih lanjut untuk mendapatkan bukti yang lebih kuat.

Bagaimana menggunakan terapi cahaya untuk menghilangkan depresi?

Cara mengatasi depresi yang satu ini mungkin akan berkerja lebih efektif ketika Anda menggunakannya di pagi hari, saat bangun tidur. Namun bila dokter menyarankan Anda untuk melakukan terapi ini, maka dokter yang akan menjadwalkan kapan sebaiknya pengobatan dilakukan.

Dalam penelitian yang sebelumnya diketahui bahwa tubuh akan merespon terapi ini dalam dua sampai empat hari. Akan tetapi fototerapi biasanya akan tetap dilakukan selama tiga minggu hingga gejala depresi berkurang.

Tidak jelas seberapa baik terapi ini bekerja pada di waktu lain. Namun terapi cahaya sebaiknya dilakukan selama satu sampai dua jam sebelum tidur malam hari.

Apakah terapi cahaya aman untuk dilakukan?

Cara mengatasi depresi seperti ini umumnya aman dan dapat dilakukan bersama dengan perawatan lain. Jika gejala depresi tidak membaik, atau jika menjadi lebih buruk, segera hubungi dokter atau terapis Anda.

Efek samping yang paling umum dari terapi ini meliputi mata lelah atau gangguan penglihatan, sakit kepala, agitasi, mual, dan berkeringat. Anda dapat meringankan efek samping ini dengan mengurangi jumlah waktu yang Anda habiskan di bawah cahaya.

Orang yang sensitif pada mata atau kulit sebaiknya tidak menggunakan terapi ini tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Selalu beri tahu dokter jika Anda menggunakan terapi alternatif atau jika Anda berpikir untuk menggabungkan terapi alternatif dengan perawatan medis konvensional Anda.

Jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda terkait gejala yang Anda rasakan. Pasalnya, setiap orang akan membutuhkan pengobatan yang berbeda-beda dalam menghilangkan depresi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

    Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 19 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

    Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

    Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 18 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

    Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

    Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Parenting, Tips Parenting 14 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

    Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

    Setiap orang pernah mengalami stres. Tapi tidak semua orang mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Lalu, apa bedanya stres dan depresi serta kecemasan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Hidup Sehat, Psikologi 9 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Sinar Matahari Pagi, Siang, dan Sore: Mana yang Paling Sehat?

    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit
    berat badan turun akibat depresi

    Kenapa Berat Badan Turun Drastis Saat Sedang Depresi?

    Ditulis oleh: Theresia Evelyn
    Dipublikasikan tanggal: 22 November 2020 . Waktu baca 4 menit
    mengatasi patah hati

    5 Gangguan Kesehatan Akibat Patah Hati

    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
    minum antidepresan saat hamil

    Minum Antidepresan Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit