home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sembarangan Terapi Sengat Lebah untuk Obati Rematik Bisa Berakibat Fatal

Sembarangan Terapi Sengat Lebah untuk Obati Rematik Bisa Berakibat Fatal

Dulu dihindari, kini sengatan lebah banyak dicari sebagai terapi akupunktur untuk pengobatan nyeri sendi dan rematik. Namun tunggu dulu. Meski dipercaya bermanfaat, terapi sengat lebah bisa menimbulkan risiko berbahaya bila dilakukan sembarangan.

Terapi sengat lebah tingkatkan risiko syok anafilaktik

Sengatan lebah mengandung racun yang dapat menyebabkan reaksi alergi, mulai dari kulit memerah dan bengkak terasa panas hingga gatal-gatal pada titik sengatan. Bagi kebanyakan orang, reaksi alergi yang terjadi akibat disengat lebah hanya bersifat sementara dan tidak berbahaya.

Meski begitu, efek sengatan lebah dapat berpotensi fatal pada beberapa orang yang memiliki riwayat alergi, jika memakai banyak sengatan dalam satu kali sesi, atau jika terapi tersebut dilakukan berulang beberapa kali. Reaksi alergi parah yang terjadi akibat sengatan lebah bisa berujung pada syok anafilaktik.

Pertama kali Anda terkena zat pemicu alergi, dalam hal ini adalah racun lebah, sistem kekebalan tubuh Anda akan belajar untuk mengenali dan melawannya dengan memproduksi antibodi. Namun, paparan berulang membuat residu racun lebah menumpuk dalam tubuh selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, racun tersebut bisa berbalik menyebabkan sistem kekebalan tubuh Anda memunculkan respon berlebihan yang memengaruhi seluruh tubuh dan dapat menempatkan hidup Anda dalam bahaya.

Hal inilah yang terjadi pada seorang wanita paruh baya asal Spanyol yang meninggal dunia setelah menjalani terapi sengat lebah. Padahal, ia sebelumnya sudah bertahun-tahun menjalani terapi ini tanpa ada keluhan apa-apa.

Gejala syok anafilaktik yang harus diwaspadai

Gejala syok anafilaktik umumnya termasuk kulit gatal atau bercak gatal; pilek atau bersin-bersin; mulut, lidah, dan bibir bengkak yang bikin sulit bernapas dan sulit menelan; lengan atau kaki bengkak; perut kram atau diare; hingga muntah-muntah. Gejalanya mungkin mulai dalam hitungan detik dan dapat berkembang dengan cepat.

Pada kasus yang sudah parah, syok anafilaktik dapat menyebabkan sesak napas atau suara mengi, tekanan darah merosot amat rendah, nyeri dada, hingga kehilangan kesadaran.

Syok anafilaktik adalah kondisi gawat darurat yang harus mendapatkan pengobatan medis secepat mungkin, maksimal 30-60 menit setelah gejala awal muncul. Umumnya, reaksi anafilaktik bisa cepat tertangani dengan suntikan epinefrin (EpiPen). Jika terlambat atau tidak tertangani dengan baik, syok anafilatik dapat menyebabkan kematian.

Karena risiko kesehatannya sangat tinggi, terapi sengat lebah tidak boleh dilakukan sembarangan. Carilah tempat praktik yang bersertifikat dengan tenaga ahli yang profesional di bidangnya. Jangan lupa juga untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum Anda berniat untuk menjalani terapi tersebut.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dangers of bee acupuncture  https://www.healthline.com/health-news/bee-acupuncture-dangers#1 Diakses pada 04 Juni 2018.

 

A Woman Has Died After Getting ‘Acupuncture’ From Live Bee Stings https://www.sciencealert.com/a-woman-has-died-after-undergoing-bee-sting-acupuncture-apitherapy Diakses pada 04 Juni 2018.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal diperbarui 24/06/2018
x