7 Jenis Asma yang Paling Umum, Plus Perbedaan Gejalanya Masing-Masing

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Asma adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh peradangan dalam saluran pernapasan. Peradangan inilah yang membuat saluran pernapasan menjadi bengkak dan sensitif. Ada banyak jenis asma yang digolongkan berdasarkan penyebabnya. Ketahui jenis asma yang berbeda-beda agar bisa mengetahui cara terbaik untuk mengatasinya.

Tujuh jenis asma yang harus Anda ketahui

1. Asma alergi

Jenis asma yang satu ini merupakan yang paling banyak dialami oleh pengidap asma. Pasalnya, alergi dan asma saling berkaitan satu sama lain.

Rhintis alergi merupakan penyakit alegi kronis paling umum yang menyebabkan peradangan pada lapisan dalam hidung. Orang yang mengalami kondisi ini sensitivitasnya terhadap alergi meningkat. Akibatnya, sel-sel imun (kekebalan tubuh) melepaskan histamin sebagai respon terhadap kontak dengan zat penyebab alergi (alergen).

Nah, hisatmin bersama dengan bahan kimia lainnya inilah yang menimbulkan gejala alergi. Biasanya, alergen akan memasuki tubuh melalui proses pernapasan.

Mereka yang mengalami rhintis alergi akan merasakan beberapa gejala seperti pilek yang terjadi tiba-tiba, bersin tanpa henti, saluran hidung bengkak, mata berair, dan tenggorokan gatal. Beberapa pemicu asma alergi yang paling umum adalah jamur, debu, tungau, dan bulu binatang.

Obat dengan resep dokter merupakan solusi terbaik untuk mengendalikan alergi agar batuk dan gejala asma lainnya segera mereda.

2. Asma olahraga

Ini adalah jenis asma yang bisa muncul karena Anda melakukan olahraga atau aktivitas fisik. Kebanyakan orang dengan penyakit asma mengalami gejala asma saat mereka melakukan aktivitas olahraga. Namun, ada juga beberapa orang yang tidak memiliki asma, termasuk atlet olimpiade, yang justru mengembangkan gejala asma hanya saat mereka berolahraga.

Asma jenis ini akan membuat saluran pernapasan menyempit pada puncaknya dalam kisaran  5 sampai 20 menit setelah olahraga, sehingga membuat seseorang akan kesulitan untuk bernapas.

Gejalanya biasanya dimulai dengan batuk dan mengi (napas yang berbunyi seperti siulan lirih). Penggunaan inhaler asma sebelum memulai olahraga bisa jadi salah satu cara mencegah terjadinya serangan asma ketika berolahraga.

Penting untuk diketahui bahwa olahraga tidak menyebabkan asma. Tapi, olahraga bisa jadi salah satu pemicu gejala asma pada pasien tertentu.

3. Asma batuk

Selain asma alergi, asma batuk juga merupakan jenis asma yang banyak dialami orang. Pada jenis ini, batuk berat dan parah merupakan gejala paling dominan yang sering terjadi.

Tidak hanya itu, beberapa penyebab batuk ini bisa disebabkan karena postnasal drip, rhinitis kronis, sinusitis (radang sinus), ataupun karena penyakit refluks asam lambung (GERD atau heartburn).

Asma batuk sangat kurang terdiagnosis dan sulit diobati. Pemicu asma batuk biasanya adalah infeksi saluran pernapasan dan olahraga. Jika Anda mengalami batuk yang berkepanjangan, segera lakukan pengecekan ke dokter penyakit dalam spesialis paru-paru. Pengobatan yang biasanya dilakukan adalah tes fungsi paru-paru guna melihat kinerja paru-paru Anda.

4. Asma karena pekerjaan tertentu

Asma jenis ini merupakan asma yang diakibatkan oleh pemicu di tempat kerja. Apabila Anda mengalami kondisi ini, Anda mungkin akan mengalami kesulitan bernapas dan mengembangkan gejala asma saat Anda sedang bekerja.

Banyak orang yang mengalami asma kerja mengalami pilek, hidung tersumbat, iritasi mata, mata berair, dan batuk mengi.

Orang yang paling rentan mengalami asma kerja adalah mereka para pekerja konstruksi, peternak hewan, perawat, tukang kayu, petani, dan pekerja lain yang dalam kesehariannya mengalami paparan polusi udara, zat kimia, asap mesin, dan rokok yang bisa menimbulkan gejala asma.

5. Asma malam hari (nokturnal)

Asma malam hari, atau yang biasa disebut juga sebagai asma nokturnal adal jenis penyakit penyakit yang timbul hanya di saat malam hari atau saat tidur. Pasalnya, asma jenis ini sangat dipengaruhi oleh jam biologis manusia (ritme sirkandian).

Penelitian menunjukkan bahwa kematian terbanyak terkait asma terjadi pada malam hari. Kondisi ini terjadi dikarenakan meningkatknya paparan alergen (pemicu asma), suhu udara, posisi tidur yang berbaring, atau bahkan produksi hormon tertentu yang mengikuti jam biologis tubuh.

Selain itu, umumnya gejala sinusitis dan asma sering muncul di malam hari, terutama apabila tetesan postnasal memicu gejala seperti batuk.

Selalu menyediakan obat asma di samping tempat tidur adalah kunci utama untuk mengatasi asma malam hari dan mendapatkan tidur yang berkualitas.

6. Asma obat

Kebanyakan orang tidak pernah mengira bahwa obat tanpa resep bisa memperburuk gejala asma. Aspirin dan obat antiradang non steroid (NSAID) bisa memperburuk gejala asma dan bahkan bisa berakibat fatal.

Apabila Anda termasuk salah satu orang yang sensitif terhadap obat-batan tersebut, hindari ibuprofen, naproxen, dan diclofenac karena mereka bisa memicu serangan asma. Terlebih bagi Anda yang sudah punya riwayat asma.

Selalu konsultasikan dengan dokter terkait penggunaan obat-obat tersebut sebelum Anda mengonsumsinya.

7. Kondisi lainnya yang bisa memicu asma

Beberapa penyakit berikut ini dapat menyebabkan beberapa gejala yang mirip asma, tapi pada dasarnya mereka bukan asma.

  • Semua jenis mengi sebenarnya bukan asma. Walau dalam kebanyakan kasus, mengi merupakan gejala yang memicu asma.
  • Asma jantung, atau bentuk gagal jantung di mana gejalanya mirip dengan beberapa gejala asma biasa.
  • Disfungsi pita suara.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca