Beda Dengan Donor Darah Biasa, Apa Itu Transfusi Trombosit?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Trombosit adalah komponen darah yang berperan dalam proses pembekuan darah dan menghentikan perdarahan. Penyakit dan pengobatan tertentu dapat menurunkan jumlah trombosit sehingga memicu kondisi yang disebut trombositopenia. Pasien yang mengalami penurunan trombosit secara drastis berisiko lebih tinggi mengalami perdarahan sehingga transfusi trombosit seringkali diperlukan untuk mengantisipasi kondisi tersebut.

Siapa yang memerlukan transfusi trombosit?

Jumlah trombosit pada kondisi normal berkisar antara 150.000-450.000 keping per mikroliter darah. Keping-keping darah ini hanya memiliki siklus setiap sepuluh hari. Jadi, setelah 10 hari, trombosit yang rusak akan dirombak dan diganti dengan yang baru. Setelah itu, sumsum tulang belakang memproduksi ratusan ribu trombosit baru untuk diedarkan ke seluruh tubuh.

Namun, proses ini dapat terhambat oleh beberapa hal, seperti:

1. Penurunan produksi trombosit

Produksi trombosit pada sumsum tulang dapat menurun karena sejumlah faktor. Misalnya karena leukemia, beberapa jenis anemia, infeksi virus, konsumsi alkohol secara berlebihan, dan obat-obatan kemoterapi.

2. Perombakan trombosit yang tidak normal

Transfusi trombosit sangat penting bagi orang-orang yang mengalami perombakan trombosit secara tidak normal. Kondisi ini terjadi apabila jumlah trombosit yang dirombak lebih banyak dibandingkan yang diproduksi. Penyebabnya dapat berasal dari berbagai faktor, misalnya:

  • Kehamilan.
  • Trombositopenia akibat penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menghancurkan keping-keping darah karena menganggapnya sebagai ancaman.
  • Thrombotic thrombocytopenic purpura, yaitu kelainan darah yang menyebabkan pembentukan gumpalan darah sehingga menghambat peredaran trombosit.
  • Sindrom hemolitik uremik, yaitu infeksi pada sistem pencernaan yang mengakibatkan pembentukan zat beracun penghancur sel-sel darah.
  • Infeksi bakteri pada darah.
  • Pengobatan yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan rusaknya trombosit, seperti heparin, quinine, antibiotik golongan sulfa, dan antikonvulsan. 

3. Pembengkakan limpa

Limpa adalah organ berukuran kepalan tangan yang berada di bagian kiri perut, tepatnya di bawah rusuk. Organ ini berfungsi untuk melawan infeksi dan menyaring zat-zat yang tidak diperlukan oleh darah. Limpa yang membengkak dapat menyebabkan penumpukan trombosit sehingga sirkulasinya dalam darah pun berkurang.

Seperti apa prosedur transfusi trombosit?

Trombosit diberikan dalam bentuk cairan melalui pembuluh vena penerima donor. Proses ini biasanya berlangsung selama 15-30 menit. Tergantung kondisinya saat melakukan transfusi, pasien dapat langsung pulang atau perlu menjalani perawatan terlebih dulu di rumah sakit.

Terdapat dua jenis metode yang digunakan untuk memperoleh trombosit, yaitu:

1. Trombosit dari darah lengkap

Tenaga medis memperoleh trombosit dengan cara memisahkannya dari plasma darah sehingga diperoleh beberapa unit trombosit. Satu unit trombosit diartikan sebagai banyaknya trombosit yang diperoleh dari satu unit darah lengkap.

Trombosit yang diperoleh harus melewati serangkaian proses sebelum siap digunakan, yaitu dengan menghilangkan komponen sel darah putih, menguji bakteri di dalamnya, dan meradiasinya.

Satu unit darah lengkap biasanya hanya mengandung sedikit trombosit, jadi jenis transfusi ini biasanya memerlukan 4-5 orang pendonor darah lengkap. American Cancer Society bahkan menyatakan bahwa terkadang diperlukan hingga 6-10 unit pendonor mengingat sulitnya memperoleh trombosit dari darah segar.

2. Apheresis

Berbeda dengan metode sebelumnya, trombosit pada apheresis diperoleh dari satu orang donor. Selama prosedur ini, pendonor dihubungkan pada mesin yang dapat memisahkan darah dan hanya mengambil trombositnya. Sisa sel dan plasma darah kemudian dialirkan kembali ke tubuh pendonor.

Apheresis sangat efektif untuk mengumpulkan trombosit sehingga transfusi tidak perlu melibatkan banyak pendonor. Metode ini juga lebih disarankan karena dapat menurunkan risiko alloimmunization pada penerima transfusi. Alloimmunization merupakan respons sistem kekebalan tubuh terhadap antigen asing yang muncul akibat banyaknya paparan jaringan pendonor.

Transfusi trombosit adalah prosedur yang jarang dilakukan dan memerlukan pertimbangan khusus dari dokter. Risiko kesehatan pun tidak luput dari pasien yang menjalaninya. Maka dari itu, pendonor maupun penerima donor perlu memenuhi kriteria khusus untuk dapat melakukan prosedur ini.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca