Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Kepopuleran thermo gun meningkat sejak masa pandemi COVID-19 untuk mengecek gejala demam pada setiap orang tanpa bersentuhan. Alat ini mengukur suhu tubuh menggunakan teknologi infrared yang diarahkan ke dahi. Belakangan beredar informasi bohong yang mengatakan thermo gun berbahaya dan menyebabkan kerusakan saraf atau otak. 

Informasi keliru ini membuat masyarakat ketakutan, beberapa lebih memilih mengukur suhu tubuh di tangan. Padahal mengukur suhu tubuh di punggung tangan tidak mengeluarkan hasil yang akurat.

Bagaimana cara kerja thermo gun dan kenapa harus menembaknya di dahi bukan di telapak tangan? Simak ulasan berikut.

Thermo gun menggunakan infrared bukan sinar yang merusak saraf otak

Thermogun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Aman

Informasi palsu tentang bahaya thermo gun beredar luas di media sosial. Info tersebut mengatakan alat pengukur suhu thermo gun menggunakan laser yang memiliki radiasi berbahaya bagi kelenjar pineal dan saraf otak. Penyebar informasi palsu ini menyebut thermo gun sengaja digunakan untuk merusak otak masyarakat.

Kementerian Kesehatan sendiri memastikan keamanan tembakan sinar thermo gun ke dahi seseorang dan sama sekali tidak merusak otak.

“(Thermo gun) tidak menggunakan sinar laser, radioaktif semacam X-ray, hanya (menggunakan) infra red. Berbagai informasi mengatakan thermal gun merusak otak ini adalah statement yang salah,” kata Achmad Yurianto di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (20/7).

Thermo gun adalah termometer atau alat pengukur suhu tubuh menggunakan teknologi inframerah agar meminimalkan kontak langsung saat melakukan pengecekan.

Alat ini menggunakan teknologi gelombang inframerah untuk menangkap panas tubuh. Teknologi inframerah memproses panas dengan memfokuskan cahaya dari manusia ke detektor, yang disebut thermopile. Thermopile menyerap radiasi dari manusia dan mengubahnya menjadi panas yang dapat memperlihatkan suhu tubuh Anda.

Thermo gun bekerja dengan menggunakan radiasi tetapi tidak mengirimkannya ke dalam tubuh dan karenanya, tidak memengaruhi otak ataupun saraf. Termometer jenis ini memiliki sensor unik karena tidak menghasilkan radiasi apa pun tetapi menangkap radiasi yang dipantulkan dari tubuh.

Secara medis, hanya alat diagnostik, seperti X-ray dan CT-scan yang dapat memancarkan radiasi ke dalam tubuh.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makan Amerika (FDA), alat pengukur suhu inframerah atau thermo gun dapat digunakan untuk mengurangi risiko penularan COVID-19. Thermo gun adalah inovasi pengukur suhu tubuh agar petugas bisa melakukan pengecekan tanpa menyentuh. 

Alat pengukur ini digunakan dalam pengukuran suhu tubuh pada penyakit-penyakit menular. Saat wabah Ebola, Zika, SARS, MERS, dan wabah lainnya terjadi, thermo gun juga digunakan untuk mengukur suhu. Hingga kini keamanannya terjamin dan belum ada laporan kerusakan otak.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

368,842

Terkonfirmasi

293,653

Sembuh

12,734

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Hoax bahaya thermo gun menyebar luas dan membuat ketakutan

hoax thermo gun berbahaya bagi otak dan saraf

Informasi bohong mengenai bahaya thermo gun bagi otak ternyata juga menyebar lintas negara. Di Malaysia beredar informasi thermo gun dapat merusak saraf otak dan kelenjar pinea, sedangkan di India beredar informasi bahwa alat ini dapat merusak kulit.

Kini postingan tersebut telah dihapus dan dikoreksi. Namun dampaknya masih terlihat pada sebagian masyarakat. Di pintu-pintu masuk gedung tidak sedikit pengunjung yang menyodorkan punggung tangan saat dilakukan penapisan cek suhu.

Menurut FDA, dahi dipilih untuk mengukur suhu karena sumber suhu tubuh terbaik setelah mulut (bawah lidah) dan ketiak. Suhu tubuh di punggung tangan biasanya akan lebih rendah dari suhu asli atau suhu yang ditunjukan lewat dahi. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Vaksin Mampu Menyelesaikan Semua Masalah Pandemi COVID-19?

Percepatan uji coba vaksin ini dilakukan demi menyelesaikan pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi hampir seluruh dunia. Bagaimana kemungkinannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

4 Langkah Membersihkan Diri dan Rumah Setelah Keluar Bepergian

Pastikan untuk selalu membersihkan diri setelah keluar bepergian untuk melindungi keluarga dan orang terdekat. Yuk, ikuti langkah-langkah ini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
membersihkan diri setelah keluar rumah
Hidup Sehat, Tips Sehat 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Hipertensi dan Sejumlah Faktor Risiko Kematian Pasien COVID-19 di Jakarta

Hipertensi menjadi penyakit penyerta (komorbid) yang paling banyak dilaporkan dalam kasus kematian pasien COVID-19 di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Risiko Penularan COVID-19 di Bioskop

Penularan COVID-19 di bioskop bisa terjadi dari banyak jalur penularan, mulai dari cipratan langsung droplet, sentuhan dengan permukaan, hingga airborne.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

dampak COVID-19 pada laki-laki

Laki-laki Lebih Berisiko Mengalami Gejala Buruk Saat Terinfeksi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
COVID-19 gangguan pendengaran

Infeksi COVID-19 Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
kepadatan kota memengaruhi covid-19

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kasus Norovirus di China, Apakah Wabah Baru?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit