Mengenal Hyperarousal, Komplikasi Akibat PTSD Setelah Kejadian Traumatis

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah gangguan kesehatan mental serius dan dapat dialami seseorang yang pernah mengalami atau menyaksikan kejadian yang menyebabkannya trauma. Pengidap PTSD mengalami stress dan kecemasan yang mengganggu, dan sering berkaitan dengan trauma yang dialaminya meskipun hal tersebut sudah berlalu dan lingkungan sekitarnya baik-baik saja.

Dalam beberapa waktu, dampak dari PTSD dapat muncul dengan intensitas yang lebih parah, menyebabkan keadaan fisik menjadi waspada seperti saat mengalami trauma. Hal tersebut dikenal dengan hyperarousal.

Apa itu hyperarousal?

Kondisi hyperarousal merupakan satu dari tiga dampak yang dialami oleh penderita PTSD selain gangguan mood dan kecemasan. Hal tersebut ditandai dengan berbagai gejala yang disebabkan kondisi fisik pengidap PTSD menjadi siaga ketika mereka mengingat atau memikirkan trauma yang pernah dialami. Efek utama yang disebabkan kondisi hyperarousal adalah tubuh secara terus-menerus mengalami kondisi stress kronis.

Hyperarousal merupakan gejala yang umum dialami pengidap PTSD. Kondisi ini juga tidak terbatas pada usia dewasa. Anak-anak yang pernah mengalami trauma juga dapat mengalami hyperarousal dan dapat mengalami masalah kesehatan mental yang serius pada usia mendatang.

Gejala dan ciri-ciri hyperarousal

Gangguan tidur dan mimpi buruk merupakan gejala utama ketika pengidap PTSD sedang mengalami hyperarousal. Kondisi ini juga disertai dengan berbagai gangguan lainnya seperti:

  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Merasakan kehampaan (numb)
  • Mudah marah atau bersikap agresif
  • Mengalami emosi yang meledak-ledak atau impulsif
  • Mudah merasa takut dan panik
  • Mengalami serangan panik
  • Muncul perilaku berisiko yang belum pernah ada sebelumnya seperti ngebut di jalan dan mengonsumsi alkohol terlalu banyak
  • Merasakan atau menunjukan sikap bersalah atau malu
  • Selalu terlihat bersikap siaga seakan-akan sedang mengalami bahaya (hypervigilance)
  • Mudah merasakan rasa sakit atau nyeri
  • Merasa jantung selalu berdebar-debar.

Bagaimana hyperarousal dapat terjadi?

Hyperarousal terjadi ketika respon tubuh dan kecemasan meningkat ketika melihat atau terpapar hal yang memicu flashback terhadap sumber trauma. Hal yang menyebabkan trauma dapat bermacam-macam, mulai dari mengalami kekerasan fisik dan seksual, tekanan mental ketika sedang dalam kondisi konflik atau peperangan, kecelakaan, penyiksaan, hingga bencana alam.

Meskipun demikian, tidak semua kejadian trauma dan kondisi PTSD menyebabkan hyperarousal. Terdapat beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang lebih mudah mengalami hyperarousal:

  • Mengalami kejadian yang menyebabkan trauma berkepanjangan
  • Kejadian trauma dialami ketika masih berusia sangat muda seperti kekerasan ketika masih anak-anak
  • Bekerja pada bidang pekerjaan yang dapat cenderung menyebabkan kejadian trauma seperti tentara, pemadam kebakaran, atau tenaga medis yang mengatasi kegawatdaruratan
  • Memiliki riwayat gangguan kesehatan mental seperti ganguguan kecemasan dan depresi
  • Pernah melakukan penyalahgunaan substansi seperti alkohol dan obat-obatan
  • Memiliki dukungan sosial yang tidak memadai dari teman dan keluarga
  • Memiliki riwayat gangguan kesehatan mental dalam keluarga.

Efek jangka panjang dari kondisi hyperarousal

Hyperaousal sendiri hanya merupakan dampak dari PTSD, sehingga penyebab jangka panjang cenderung disebabkan oleh kondisi PTSD yang tidak terkendali.

PTSD dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan mulai dari pekerjaan hingga kehdupan pribadi serta kesehatan fisik. Seseorang yang mengalami perasaan trauma lebih berisiko mengalami depresi serta muncul ketergantungan alkohol dan narkoba. Gangguan tersebut juga dapat memicu gangguan makan hingga kecenderungan untuk bunuh diri.

Cara mengatasi hyperarousal

Hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir intensitas hyperarousal adalah dengan menjalani terapi untuk mengurangi perasaan stress dan kecemasan akibat PTSD. Konsumsi obat untuk mengurangi stimulus emosi, serta pemakaian jangka panjang anti-depresan, kemungkinan juga diperlukan untuk menekan gejala hyperarousal.

Selain pengobatan, terapi kejiwaan dan terapi kognitif-perilaku  juga diperlukan untuk mencegah respon stimulus berlebihan. Penanganan terapi juga cenderung lebih efektif dan lebih banyak digunakan karena hal tersebut bekerja dengan beberapa cara, yaitu:

  • Meningkatkan kepercayaan diri pengidap PTSD
  • Membantu menumbuhkan pandangan positif pada kehidupan
  • Mengajarkan kemampuan coping untuk menghadapi stimulus trauma atau mengatasi gejala PTSD ketika muncul
  • Mengatasi isu lainnya yang berkaitan dengan kondisi PTSD seperti depresi dan ketergantungan substansi.

Perlu disadari bahwa PTSD merupakan gangguan kesehatan mental yang cenderung bertahan seumur hidup dan tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Sehingga, stimulus dan efek trauma perlu ditangani dan dikendalikan secara berkelanjutan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca