8 Mitos Seputar Kebiasaan Makan Anak yang Harus Ditinggalkan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Berbagai mitos yang berkembang di masyarakat dapat memengaruhi pola makan dan kebiasaan makan sehari-hari. Terlebih menyangkut soal anak. Memercayai mitos yang tidak benar dikhawatirkan membuat anak menjadi kekurangan gizi. Yuk, cek daftar mitos kebiasaan makan pada anak yang sudah tak perlu Anda percayai lagi.

Mitos kebiasaan makan anak yang tidak perlu dilanjutkan

Mitos 1: Anak harus menghabiskan makanannya hingga bersih

Meski sudah menjadi tradisi yang menjamur di kalangan orangtua, kebiasaan makan ini hanya sekadar mitos belaka. Anda tidak perlu memaksa anak menghabiskan makanannya hingga bersih tandas tanpa sisa sedikit pun. Menurut Maggie Moon, RD, seorang ahli gizi dari Los Angeles, pemaksaan ini hanya akan memicu lonjakan berat badan anak.

Selama makanan yang diberikan tergolong sehat, berikan kebebasan pada anak untuk memilih makanan yang mereka inginkan. Yang terpenting adalah anak melahap makanan sesuai dengan kemampuan lambungnya sekaligus melatih kepekaannya terhadap rasa lapar dan kenyang.

Mitos 2: Anak tidak boleh makan kedelai

Siapa bilang anak-anak tidak boleh makan makanan yang terbuat dari kedelai? Tahu, tempe, edamame, susu kedelai, oncom, kecap, dan makanan berbahan dasar kedelai lainnya boleh-boleh saja diberikan pada anak. Asalkan dalam jumlah yang secukupnya.

Kedelai tinggi protein dan rendah serat, serta dapat dikonsumsi oleh semua usia. Kedelai bahkan bermanfaat untuk mengurangi risiko kanker payudara pada perempuan.

Mitos 3: Menyembunyikan sayuran pada makanan anak supaya ia doyan sayur

Kebanyakan orangtua melakukan hal ini untuk menyiasati anaknya yang tidak suka makan sayur. Sayuran diolah sedemikian rupa agar tetap tercampur di dalam makanan, tanpa anak-anak menyadarinya. Misalnya di balik telur dadar. Kebutuhan nutrisi anak memang akan tetap terpenuhi, tapi cara ini tidak akan membuat anak sadar akan manfaat dan rasa sayuran yang segar. Hal ini akan terus terbawa sampai ia dewasa nanti.

Tidak ada salahnya untuk menunjukkan sayuran secara gamblang pada menu makanan anak. Sajikan sayuran dengan kreasi yang lebih menarik, tanpa harus disembunyikan. Misalnya sayur brokoli dibentuk menjadi rambut orang, wortel menjadi bentuk bunga atau matahari, dan sebagainya. Kenalkan manfaat berbagai jenis sayuran saat menemani anak makan.

Mitos 4: Bayi hanya boleh makan makanan yang hambar

Dilansir dari laman Parents, menurut Diana Rice, RD, seorang ahli gizi dari The Kids Cook Monday, bayi justru harus dikenalkan dengan berbagai jenis rasa. Pasalnya, usia balita merupakan masa-masa yang paling baik untuk menerima berbagai rasa yang baru. Pengenalan rasa pun sudah dimulai sejak diberikan ASI eksklusif, yaitu melalui makanan yang dimakan oleh ibu.

Jadi, jangan ragu untuk mengenalkan macam-macam rasa secara bertahap mulai usia 6 bulan. Misalnya dengan mengenalkan sayuran pahit, rasa gurih dari ikan, atau rasa manis dari buah. Hal ini dapat membantu mereka mengembangkan selera makan di kemudian hari.

nafsu makan anak

Mitos 5: Anak tidak boleh makan telur

Banyak orangtua yang khawatir anaknya terkena kolesterol tinggi bila diberikan telur. Eits, tunggu dulu. Ini cuma mitos, kok. Telur merupakan sumber protein yang banyak mengandung zat besi dan zink yang penting untuk pertumbuhan anak.

Bagian kuning telur mengandung lutein dan zeaxanthin yang baik untuk mempertajam penglihatan dan bermanfaat untuk kesehatan otak. Sebelum memberikan telur pada anak, pastikan dulu apakah anak alergi terhadap telur. Jika Anda memiliki riwayat alergi telur, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk menunggu hingga anak berusia 2 tahun sebelum mengenalkan telur pada anak.

Mitos 6: Anak harus sering ngemil

Anak memang membutuhkan camilan di sela-sela jam makannya, tapi tidak boleh terlalu banyak. Sebab, camilan yang berlebihan cenderung menyumbang asupan kalori yang juga berlebihan.

Bagaimana bila anak sudah lapar namun belum waktunya makan? Tenang dulu. Anak akan baik-baik saja dengan pola makan tiga kali sehari dan satu kali camilan sehat. Hal ini bagus untuk melatih kepekaan terhadap rasa lapar. Ketimbang memberikan camilan, gantilah dengan buah atau sayuran kukus yang lebih sehat. Jadi, Anda tidak perlu cemas saat anak lapar sebelum waktu makannya.

Mitos 7: Jus buah adalah pilihan yang paling sehat buat anak

Jus buah murni memang mengandung banyak vitamin, tapi bukan berarti bisa jadi pengganti buah dan sayuran utuh. Alih-alih mendapatkan nutrisi yang lebih banyak, jus buah justru tidak bagus untuk kesehatan anak karena tinggi kalori dan gula, tapi rendah serat.

Ambil contoh, sebuah apel berukuran sedang mengandung 4,4 gram serat dan 19 gram gula. Bila dijus, satu cangkirnya saja mengandung 114 kalori, 0,5 gram serat, dan 24 gram gula. Oleh karena itu, sajikan buah secara utuh saja ketimbang menyajikannya dalam bentuk jus agar kebutuhan serat anak tetap terpenuhi.

Mitos 8: Jika anak tidak mau makan, biarkan saja

Saat anak mulai menolak makan, biasanya orangtua akan menyerah dan membiarkan anak begitu saja, apalagi bila anak lebih suka pilih-pilih makanan. Kebiasaan ini sebaiknya tidak diteruskan.

Penelitian menunjukkan bahwa balita memerlukan waktu untuk mencoba makanan, sampai setidaknya 15 kali ditawarkan. Sebab, bisa saja anak masih kaget dengan makanan barunya. Sajikan lagi dan lagi makanan tersebut dan yakinlah bahwa anak akan menyukainya secara perlahan.

Jangan menyerah untuk tetap menawarkan makanan baru sebanyak yang Anda bisa. Anda juga bisa mengombinasikan makanan baru dengan makanan kesukaannya untuk memancing nafsu makan anak.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 15, 2018 | Terakhir Diedit: Februari 8, 2018

Sumber
Yang juga perlu Anda baca