brand logo
Kategori
Cek Kesehatan
Komunitas
Booking Dokter

Iklan

Bagikan

Peringati Pregnancy Loss Awareness Month, RSPI Soroti Penanganan Keguguran Berulang

Keguguran berulang dapat menjadi pengalaman yang berat bagi perempuan, terutama ketika penyebab keguguran berulang tidak diketahui meski tidak ada riwayat penyakit kronis. Kondisi ini memerlukan evaluasi medis untuk mencari faktor yang mungkin berperan sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.

Peringati Pregnancy Loss Awareness Month, RSPI Soroti Penanganan Keguguran Berulang

Dalam rangka memperingati Pregnancy and Infant Loss Awareness Month, RS Pondok Indah Group mengadakan virtual media interview bertajuk “Keguguran Berulang” pada Jumat (16/10/2026).

Dalam sesi tersebut, Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Sc, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah – Pondok Indah, menjelaskan faktor yang dapat menyebabkan keguguran berulang, tantangan dalam mengidentifikasi penyebabnya, serta pentingnya dukungan bagi perempuan yang mengalaminya.

Keguguran berulang perlu diinvestigasi sejak dua kali kejadian

Keguguran umumnya merujuk pada berakhirnya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu atau ketika berat janin kurang dari 500 gram. Sementara itu, keguguran berulang merupakan kondisi yang memerlukan perhatian lebih lanjut karena dapat berkaitan dengan faktor tertentu dalam proses kehamilan.

Menurut dr. Kanadi, terdapat perbedaan pandangan mengenai jumlah kejadian yang dapat dikategorikan sebagai keguguran berulang. Sebagian menggunakan batas tiga kali, sedangkan investigasi untuk mencari penyebabnya sudah dapat dipertimbangkan setelah dua kali keguguran.

Pemeriksaan ini penting untuk membantu dokter mengidentifikasi faktor yang mungkin berperan dan menentukan penanganan yang sesuai. Pasalnya, keberhasilan kehamilan melibatkan interaksi antara embrio hasil pembuahan dan tubuh ibu yang menyediakan lingkungan untuk pertumbuhannya.

Kelainan kromosom hingga gangguan adaptasi tubuh ibu bisa berperan

tes kromosom

Penyebab keguguran berulang dapat berasal dari masalah pada embrio maupun kondisi tubuh ibu yang tidak mampu memberikan dukungan optimal bagi perkembangan kehamilan.

Salah satu faktor yang dapat berperan adalah kelainan kromosom pada embrio. Kromosom membawa informasi genetik yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. 

Namun, kesalahan dapat terjadi ketika kromosom dibagi selama proses pembelahan sel sehingga jumlahnya menjadi berlebihan atau berkurang dari kondisi normal.

Embrio memiliki mekanisme untuk mengoreksi kesalahan tersebut. Akan tetapi, jika mekanisme ini tidak berhasil, perkembangan embrio dapat terganggu hingga akhirnya berhenti dan menyebabkan keguguran.

Faktor lainnya berkaitan dengan kemampuan tubuh ibu dalam mendukung perkembangan embrio. Sejak awal kehamilan, dinding rahim menyediakan lingkungan yang dibutuhkan embrio untuk tumbuh.

Selanjutnya, plasenta berkembang dan mengambil peran penting dalam menyediakan nutrisi bagi pertumbuhan embrio.

Jika proses penempelan embrio pada dinding rahim atau perkembangan lingkungan pendukung kehamilan mengalami gangguan, kehamilan mungkin tidak dapat berlanjut hingga cukup bulan.

Selain itu, kondisi autoimun tertentu juga dapat berperan dalam keguguran berulang. Salah satunya adalah sindrom antifosfolipid, yang berkaitan dengan keberadaan antibodi antifosfolipid dan dapat mengganggu proses kehamilan, termasuk penempelan embrio pada tahap awal.

Meski demikian, tidak semua penyakit autoimun menyebabkan keguguran. Menurut dr. Kanadi, kondisi autoimun yang terkelola dengan baik dan berada dalam remisi tidak selalu berujung pada keguguran.

Penyebab keguguran berulang tak selalu berhasil diketahui

Pada sebagian perempuan, pemeriksaan medis belum berhasil menemukan penyebab keguguran berulang. Kondisi ini dikenal sebagai unexplained recurrent pregnancy loss atau keguguran berulang yang penyebabnya belum dapat dijelaskan.

Menurut dr. Kanadi, ada beberapa kemungkinan di balik kondisi tersebut. Pertama, faktor penyebab sebenarnya ada, tetapi belum berhasil dideteksi karena keterbatasan pemeriksaan atau identifikasi.

Kedua, terdapat proses biologis yang sulit dipantau secara langsung, seperti pembelahan sel embrio, proses penempelan embrio pada dinding rahim, dan mekanisme tubuh ibu dalam mendukung perkembangan embrio.

Pemeriksaan kromosom juga dapat menjadi bagian dari evaluasi untuk menelusuri kemungkinan kelainan pada embrio. Namun, tanpa pemeriksaan yang sesuai, dokter mungkin tidak dapat memastikan apakah keguguran berkaitan dengan kelainan kromosom atau faktor lainnya.

Karena itu, penyebab yang belum diketahui tidak selalu berarti tidak ada faktor yang mendasarinya. Meski demikian, ada pula kasus yang tetap tidak dapat dijelaskan meskipun telah melalui pemeriksaan yang menyeluruh.

Dr. Kanadi menekankan bahwa kondisi tersebut bukan berarti pasien hanya perlu menunggu tanpa penanganan. Dokter dapat mempertimbangkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi pasien untuk membantu meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan berikutnya.

Penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi pasien

Pengalaman 6 Tahun Menanti Momongan karena PCOS

Hingga saat ini, belum tersedia metode pencegahan primer yang secara spesifik dapat mengidentifikasi dan mencegah seluruh kasus keguguran berulang.

Salah satu tantangannya adalah keterbatasan kemampuan untuk menyaring siapa saja yang berisiko tinggi mengalami kondisi tersebut sebelum kehamilan terjadi.

Meski demikian, pemeriksaan tetap penting, terutama setelah keguguran terjadi berulang kali. Evaluasi dapat mencakup kemungkinan faktor kromosom, kondisi autoimun tertentu, serta faktor lain yang berkaitan dengan perkembangan kehamilan.

Dr. Kanadi juga mengingatkan bahwa keberhasilan kehamilan tidak hanya ditentukan oleh kondisi perempuan. Faktor dari pihak laki-laki turut berkontribusi terhadap kualitas hasil pembuahan. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan reproduksi sebaiknya tidak hanya berfokus pada perempuan.

Selain pemeriksaan medis, gaya hidup sehat, konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, dan menghindari kebiasaan merokok merupakan langkah yang dapat mendukung kesehatan reproduksi.

Namun, langkah-langkah tersebut tidak menjamin keguguran dapat dicegah karena penyebabnya beragam dan tidak semuanya dapat dikendalikan.

Dukungan emosional berperan penting dalam pemulihan

Keguguran berulang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan emosional perempuan.

Pengalaman kehilangan kehamilan dapat menimbulkan kesedihan, kecemasan, hingga ketakutan untuk mencoba hamil kembali karena khawatir kejadian serupa terulang.

Dalam momentum Pregnancy and Infant Loss Awareness Month, dr. Kanadi mengingatkan bahwa penanganan kehilangan kehamilan tidak cukup hanya dengan intervensi medis. Kondisi psikologis perempuan juga perlu mendapat perhatian.

Penanganan kasus keguguran berulang tidak hanya cukup dengan melakukan penanganan medis semata, tapi kita juga harus aware dengan kondisi mental-emosional ibu yang mengalami keguguran.

Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Sc

Pasalnya, pengalaman kehilangan kehamilan bukan sesuatu yang mudah dilalui. Perempuan yang mengalaminya membutuhkan dukungan dari pasangan, keluarga, dan tenaga kesehatan, baik selama proses pemulihan maupun ketika mempertimbangkan kehamilan berikutnya.

Melalui pendekatan yang menyeluruh, penanganan keguguran berulang diharapkan tidak hanya berfokus pada faktor medis, tetapi juga memperhatikan kebutuhan emosional pasien.

Dengan demikian, perempuan yang mengalami kehilangan kehamilan dapat memperoleh pendampingan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

medical
Hello Sehat Medical Review Team
Ditinjau secara medis oleh
Kesehatan · None
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari · Tanggal diperbarui 3 jam lalu