Keutuhan selaput dara identik dengan keperawanan. Selain itu, masyarakat juga mengasosiasikan keperawanan wanita dengan kehormatan dan nama baik keluarga. Selaput dara, atau disebut juga hymen, adalah simbol kesucian dan moralitas seorang perempuan yang setia pada keluarga, budaya, atau agama.

Keperawanan adalah topik yang kerap diselimuti oleh berbagai macam mitos dan kesimpangsiuran. Tidak jarang pula, kedua topik ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan bagi sebagian besar masyarakat.

Apa itu keperawanan?

Perawan sering diartikan sebagai wanita yang belum pernah melakukan seks. Seks itu sendiri memiliki cakupan bervariatif untuk bisa diartikan akurat.

Banyak orang yang mengartikan seks sebagai aktivitas penetrasi penis ke dalam vagina. Definisi ini benar-benar sempit karena mengesampingkan banyak orang dan tipe seks lainnya. Beberapa orang yang belum pernah melakukan seks penetrasi vagina tidak menganggap diri mereka sebagai perawan karena sudah pernah melakukan seks tipe lainnya, anal atau oral.

Definisi ini juga membatasi lingkup komunitas LGBTQ+ yang mungkin tidak pernah melakukan seks penetratif penis-vagina, tapi tidak menganggap mereka termasuk perawan.

Sebagian orang percaya bahwa “keperawanan” didasari oleh persetujuan (keinginan dan setuju untuk terlibat dalam hubungan seksual dari masing-masing pihak). Jadi, banyak pula yang menganggap bahwa hubungan seksual atas dasar paksaan tidak menjadikan seseorang bukan perawan lagi.

Apa itu selaput dara?

Selaput dara adalah jaringan kulit sangat tipis yang melapisi bukaan vagina. Banyak anggapan yang menyatakan bahwa selaput ini merentang menutupi keseluruhan vagina. Padahal, hymen memiliki berbagai macam tingkat elastisitas dan ketebalan, juga memiliki bukaan (bentuk bukaannya berbeda-beda pada setiap wanita) untuk memungkinkan darah menstruasi dan cairan tubuh lainnya mengalir keluar.

Umumnya, selaput dara memiliki bukaan selebar ukuran jari atau sebuah tampon kecil. Namun, bukaan tersebut tidak selalu berbentuk seperti lubang donat. Untuk beberapa wanita, bukaan selaput berbentuk seperti injakan tangga, dan ada juga yang bukaannya berbentuk seperti lubang-lubang kecil di seluruh permukaan hymen. Pada kasus yang sangat langka, bukaan bisa terlihat sangat kecil sehingga jari, tampon, atau penis mungkin tidak bisa menembus lapisan tersebut dengan mudah (atau, tidak bisa sama sekali). Bahkan, ada segelintir wanita yang lahir tanpa selaput dara dalam vagina mereka.

Saat seorang wanita menginjak masa puber dan mulai memproduksi hormon estrogen, hal ini bisa menyebabkan hymen berubah teksturnya, menyediakan halangan ‘semu’ untuk menikmati hubungan seksual tanpa rasa sakit.

Fungsi selaput dara masih belum diketahui, tapi satu teori mengatakan bahwa hymen ada untuk melindungi bukaan vagina dan daerah sekitarnya selama awal masa pertumbuhan seseorang.

Selaput dara robek, artinya sudah tidak perawan?

Keutuhan selaput dara sampai saat ini masih menjadi tolak ukur keperawanan dan moralitas seseorang. Padahal, keperawanan tidak bisa diukur atau dibuktikan dari pemeriksaan fisik vagina.

Hymen biasanya robek saat mengalami seks penetratif untuk pertama kalinya, namun ini tidak selalu terjadi. Robeknya hymen dapat menyebabkan perdarahan sementara dan sedikit rasa tidak nyaman. Yang perlu dipahami, selaput juga bisa robek akibat kondisi lain, misalnya masturbasi (memasukkan jari atau mainan seks ke dalam vagina), memasukkan tampon, penyisipan speculum saat pemeriksaan dokter ginekolog, atau olahraga fisik lainnya (senam, menunggang kuda, bersepeda).

Begitu banyak faktor penentu yang mungkin memainkan faktor pada cedera selaput dara. Banyak pula penelitian yang menunjukkan bahwa ahli forensik pada kasus pelecehan seksual anak tidak mampu membaca tanda-tanda kerusakan hymen, terutama jika korban terlambat dibawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, karena selaput yang robek pada anak dan remaja masih bisa pulih dengan cepat.

Beberapa wanita bisa tidak menyadari saat selaput mereka robek, terutama jika hal tersebut tidak terjadi saat hubungan seksual, karena robeknya hymen bisa terjadi tanpa mengakibatkan perdarahan maupun rasa sakit.

Bagaimana bisa selaput dara tak robek saat berhubungan seks?

Rasa sakit selama berhubungan seks adalah kondisi ginekologis umum, dan bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor yang mungkin tidak ada hubungannya sama sekali dengan gangguan medis, salah satunya terlalu terburu-buru penetrasi tanpa lubrikasi vaginal yang cukup.

Saat melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya, selaput dalam vagina akan meregang demi memfasilitasi jalur masuk penis. Anda bisa ‘menjaga’ selaput dara tidak sobek saat berhubungan seksual jika tubuh Anda rileks dan memiliki lubrikasi yang baik.

Beberapa wanita bisa mengalami perdarahan saat seks pertama mereka karena struktur hymen yang mereka miliki lebih tebal atau lebih resisten daripada wanita lainnya.

Selaput dara hanya ada satu kali seumur hidup

Uniknya, hymen tidak akan hilang begitu saja dari dalam tubuh Anda, bahkan setelah terjadi sobekan. Beberapa residu jaringan selaput akan tetap menempel dalam vagina setelah hubungan seksual, bahkan akan bertahan setelah proses persalinan.

Selain itu, perkembangan tekonologi medis modern memungkinkan orang-orang untuk ‘meremajakan’ kembali vagina dan selaput dara mereka. Ada dua prosedur khusus untuk melakukan hal ini:

  • Operasi rekonstruksi selaput dara (hymenplasty atau hymenorrgraphy). Prosedur ini memungkinkan dokter untuk menjahit kembali sisa-sisa jaringan selaput dalam vagina Anda. Prosedur ini akan menyamarkan “ketidakperawanan” Anda sehingga saat Anda diharuskan untuk menjalani tes keperawanan, petugas kesehatan tidak akan mengetahui perbedaannya. Operasi rekonstruksi selaput dara bukanlah intervensi medis gawat darurat, melainkan hanya suatu prosedur yang dilakukan atas dasar sosial layaknya operasi plastik lain.
  • Selaput dara buatan. Benda artifisial ini tidak beracun dan aman untuk dipakai. Hymen buatan bisa dimasukkan ke dalam vagina, sehingga melepaskan perdarahan palsu (cairan buatan dengan tekstur mirip darah) saat penetrasi terjadi.

Dengan demikian, utuh tidaknya selaput dara tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan keperawanan seseorang karena keperawanan tidak selalu berhubungan dengan penetrasi penis.

BACA JUGA:

Yang juga perlu Anda baca