brand logo
Kategori
Cek Kesehatan
Komunitas
Booking Dokter

Iklan

Bagikan

Jenis-Jenis Obesitas: Berdasarkan IMT, Lemak Tubuh, dan Faktor Risiko

Jenis-jenis obesitas dapat dibedakan berdasarkan cara penilaiannya, seperti indeks massa tubuh (IMT), letak penumpukan lemak, dan masalah kesehatan yang menyertai. 

Jenis-Jenis Obesitas: Berdasarkan IMT, Lemak Tubuh, dan Faktor Risiko

Faktor penyebabnya juga beragam, tetapi tidak semua pengelompokan tersebut merupakan kategori diagnosis medis yang berdiri sendiri.

Berikut penjelasan mengenai beberapa cara mengelompokkan obesitas dan faktor-faktor yang dapat berperan. 

Ingat, ini tidak berarti setiap orang memiliki satu jenis atau satu penyebab obesitas saja.

Apa saja jenis obesitas?

Sebelum membahas jenis-jenis obesitas, penting untuk dipahami bahwa pengelompokan obesitas tidak selalu sama pada setiap orang.

Obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi banyak faktor dan ditandai dengan penumpukan lemak tubuh berlebihan. 

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan tekanan darah tinggi.

Untuk memahami jenis obesitas, bedakan tiga hal: 

  • pengukuran berat badan melalui IMT; 
  • lokasi penumpukan lemak, terutama di perut; dan 
  • dampak kesehatan atau komplikasi yang perlu dinilai dokter. 

Faktor seperti genetik, kebiasaan makan, aktivitas fisik, obat-obatan, dan hormon dibahas tersendiri karena dapat saling berkaitan.

Untuk memastikan kondisi dan risiko kesehatan Anda, dokter dapat mempertimbangkan IMT, lingkar pinggang, riwayat kesehatan, tekanan darah, dan pemeriksaan laboratorium sesuai kondisi pasien untuk menilai risiko yang menyertai obesitas.

Berikut ini beberapa jenis obesitas yang perlu Anda ketahui.

Cara menilai obesitas berdasarkan IMT, distribusi lemak, dan risiko kesehatan

Secara medis, obesitas tidak hanya dinilai dari bentuk tubuh. Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan melihat ukuran tubuh, distribusi lemak, dan dampaknya terhadap kesehatan.

1. Obesitas umum berdasarkan IMT

Indeks massa tubuh (IMT) adalah alat skrining berdasarkan berat dan tinggi badan. Anda bisa mencoba menghitungnya melalui alat kesehatan Kalkulator IMT di Hello Sehat. 

Hasil IMT dapat membantu mengelompokkan berat badan, tetapi batas overweight dan obesitas harus mengacu pada sistem klasifikasi yang disebutkan secara jelas.

IMT dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat. 

Dalam PNPK Tata Laksana Obesitas Dewasa Indonesia, klasifikasi Asia-Pasifik menggunakan IMT 25–29,9 kg/m² untuk obesitas I dan IMT ≥30 kg/m² untuk obesitas II. Batas ini berbeda dari klasifikasi global WHO serta definisi operasional survei SKI 2023. 

Untuk rincian tingkatan, Hello Sehat juga memiliki artikel terverifikasi dengan topik klasifikasi obesitas.

Meski begitu, IMT bukan satu-satunya penentu kondisi kesehatan. Pada beberapa orang, seperti atlet atau orang dengan massa otot tinggi, IMT bisa terlihat tinggi meski kadar lemak tubuhnya tidak berlebihan.

Itulah sebabnya, hasil IMT sebaiknya tetap dilihat bersama pemeriksaan lain, seperti lingkar pinggang, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan laboratorium bila diperlukan.

2. Obesitas sentral

Obesitas sentral adalah penumpukan lemak berlebih di area perut. Kondisi ini sering disebut juga sebagai obesitas abdominal.

Penumpukan lemak di area perut, terutama lemak viseral yang berada di sekitar organ dalam, berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kardiometabolik. 

Namun, lingkar pinggang adalah indikator tidak langsung dan tidak dapat mengukur lemak viseral secara spesifik.

Dalam acuan Asia-Pasifik untuk orang dewasa, lingkar pinggang lebih dari 90 cm pada laki-laki atau lebih dari 80 cm pada perempuan dapat mengindikasikan obesitas sentral. 

Obesitas sentral bisa terjadi meski berat badan tidak terlihat sangat berlebih. Karena itu, mengukur lingkar pinggang dapat membantu memberikan gambaran risiko yang tidak selalu terlihat dari berat badan saja.

3. Dampak metabolik dan komplikasi yang perlu dinilai pada obesitas

Pada orang dengan obesitas, dokter dapat menilai apakah terdapat tekanan darah tinggi, gangguan gula darah, dislipidemia, penyakit hati terkait metabolik, sleep apnea, nyeri sendi, atau keterbatasan aktivitas. Sebagian merupakan komplikasi metabolik, sedangkan yang lain berkaitan dengan pernapasan atau fungsi tubuh.

Kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus karena menunjukkan bahwa penumpukan lemak tubuh sudah berdampak pada fungsi tubuh atau meningkatkan risiko penyakit kronis.

Dokter dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk melihat apakah obesitas sudah berkaitan dengan gangguan metabolik atau komplikasi tertentu. Hasil pemeriksaan ini akan membantu menentukan penanganan yang lebih sesuai.

Faktor-faktor yang dapat berperan pada terjadinya obesitas

Selain dinilai dari IMT dan lokasi lemak, obesitas juga bisa dipahami dari faktor-faktor yang memengaruhinya. Pada banyak kasus, obesitas tidak hanya disebabkan oleh satu hal, melainkan kombinasi dari pola makan, aktivitas fisik, hormon, genetik, kondisi mental, obat-obatan, dan lingkungan.

1. Jarang bergerak

Kurang aktivitas fisik dapat berkontribusi pada peningkatan berat badan, terutama ketika berlangsung bersama faktor lain. Waktu duduk yang lama, kondisi pekerjaan, kesempatan bergerak, dan keterbatasan kesehatan dapat memengaruhi aktivitas harian.

Kondisi ini bisa terjadi pada orang yang terlalu banyak duduk, jarang berolahraga, atau memiliki pekerjaan yang membuat tubuh kurang bergerak sepanjang hari.

Aktivitas fisik yang cukup membantu tubuh membakar energi, menjaga massa otot, dan mendukung metabolisme. Anda bisa memulainya dengan cara sederhana, seperti berjalan kaki, naik-turun tangga, bersepeda santai, atau melakukan peregangan di sela-sela bekerja.

2. Pola makan tinggi kalori

Pola makan yang secara konsisten menghasilkan kelebihan asupan energi dapat meningkatkan risiko obesitas. 

Contohnya, terlalu sering mengonsumsi minuman manis, makanan cepat saji, makanan ultra-proses, gorengan, camilan tinggi gula, atau makan dalam porsi besar tanpa diimbangi aktivitas fisik.

Namun, jangan cepat menyebut obesitas terjadi karena seseorang “makan terlalu banyak”. 

Pilihan makanan juga dapat dipengaruhi oleh rutinitas, stres, kualitas tidur, akses terhadap makanan sehat, kondisi ekonomi, dan kebiasaan keluarga.

Bentuk tubuh dan lokasi penyimpanan lemak juga tidak cukup untuk menyimpulkan penyebab obesitas pada seseorang.

Untuk membantu mengontrol berat badan, cobalah membangun pola makan yang lebih seimbang dengan memperbanyak sayur, buah, sumber protein, biji-bijian utuh, dan membatasi makanan tinggi gula serta lemak berlebih.

3. Stres, emosi dan kualitas tidur

Stres berkepanjangan, masalah tidur, dan perubahan perilaku makan dapat berperan pada pengaturan berat badan sebagian orang. 

Hubungan kondisi mental dengan berat badan tidak sama pada setiap individu dan tidak cukup untuk menentukan penyebab obesitas hanya dari keluhan psikologis.

Kebiasaan makan yang didorong stres juga sering disebut emotional eating. Jika terjadi sesekali, hal ini mungkin tidak langsung menyebabkan obesitas. Namun, bila berlangsung terus-menerus, berat badan dapat meningkat secara bertahap.

Mengelola stres, memperbaiki pola tidur, dan mencari dukungan psikologis bila diperlukan dapat membantu mengurangi kebiasaan makan yang dipicu emosi.

4. Perubahan hormon dan usia

Perubahan hormon dapat memengaruhi distribusi lemak, nafsu makan, metabolisme, dan massa otot.

Perubahan hormonal pada fase kehidupan tertentu, termasuk menopause, dapat memengaruhi distribusi lemak dan komposisi tubuh. 

Beberapa kondisi medis, seperti sindrom Cushing, PCOS, atau hipotiroidisme, dapat berkaitan dengan perubahan berat badan pada sebagian pasien. 

Jika berat badan naik dengan cepat tanpa penyebab yang jelas, disertai mudah lelah, gangguan haid, kulit kering, rambut rontok, atau keluhan lain, sebaiknya periksakan diri ke dokter.

Dokter akan menentukan apakah pemeriksaan hormon diperlukan berdasarkan gejala dan temuan klinis.

5. Genetik dan lingkungan keluarga

Riwayat keluarga dapat memengaruhi risiko obesitas. Faktor genetik dapat berperan dalam metabolisme, nafsu makan, penyimpanan lemak, dan respons tubuh terhadap makanan.

Namun, genetik bukan satu-satunya penyebab. Kebiasaan makan keluarga, pola aktivitas, kualitas tidur, dan lingkungan rumah juga dapat memengaruhi risiko obesitas.

Artinya, meski memiliki riwayat keluarga dengan obesitas, langkah menjaga kesehatan tetap bermanfaat.

Pada sebagian orang, dukungan medis tambahan juga diperlukan karena faktor biologis dan kondisi klinis tertentu.

6. Obat-obatan dan kondisi medis tertentu

Beberapa obat tertentu, termasuk sebagian obat psikiatri, diabetes, dan kortikosteroid, dapat berkaitan dengan kenaikan berat badan pada sebagian pasien. Pengaruhnya bergantung pada jenis obat, dosis, kondisi kesehatan, dan respons individu.

Selain itu, kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi berat badan, seperti gangguan hormon, gangguan tidur, nyeri kronis yang membatasi aktivitas, atau masalah kesehatan mental.

Jangan menghentikan obat tanpa arahan dokter. Jika Anda merasa berat badan meningkat setelah mengonsumsi obat tertentu, konsultasikan dengan dokter untuk menilai kemungkinan penyebab dan pilihan penanganannya.

Artikel Kesehatan Seputar Masalah Obesitas

Keluhan yang bukan jenis obesitas

Beberapa istilah populer yang beredar di internet bukan klasifikasi obesitas medis. Contohnya, pembengkakan kaki atau keluhan yang muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu. 

1. Penumpukan lemak dan keluhan pada kaki

Pembengkakan kaki tidak dapat digunakan untuk menentukan jenis obesitas. 

Berat badan berlebih dapat memberi tekanan tambahan pada pembuluh darah, sendi, dan otot kaki.

Akibatnya, sebagian orang mungkin lebih mudah mengalami kaki bengkak, varises, atau rasa tidak nyaman saat berdiri lama

Namun, kondisi ini sebaiknya tidak langsung disebut sebagai jenis obesitas tersendiri tanpa pemeriksaan dokter. 

Pembengkakan kaki dapat disebabkan oleh banyak hal, mulai dari masalah pembuluh darah, gangguan ginjal, gangguan jantung, cedera, hingga efek obat tertentu.

Bila bengkak muncul mendadak, hanya pada satu kaki, atau disertai nyeri maupun sesak, segera cari pertolongan medis.

2. Gluten dan kenaikan berat badan

Jika Anda pernah mendengar istilah obesitas guten, Anda perlu memahaminya dengan hati-hati. 

Gluten bukan kategori penyebab atau jenis obesitas yang diakui secara umum. Pembatasan gluten tidak otomatis mencegah ataupun mengobati obesitas.

Gangguan terkait gluten, seperti penyakit celiac, memerlukan evaluasi tersendiri.

Gluten adalah protein yang terdapat dalam gandum, barley, dan rye.

Pada orang dengan penyakit celiac atau sensitivitas gluten, konsumsi gluten memang dapat menimbulkan keluhan pencernaan atau masalah kesehatan tertentu.

Namun, kenaikan berat badan umumnya lebih berkaitan dengan total asupan kalori, kualitas makanan, aktivitas fisik, faktor hormon, obat-obatan, serta kondisi kesehatan lain.

Jika Anda merasa perlu membatasi gluten, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi.

Membatasi gluten tanpa perencanaan dapat membuat pola makan kurang seimbang. Ini terutama terjadi bila pilihan penggantinya adalah makanan tinggi lemak, tinggi gula, atau rendah serat.

Cara mengetahui kondisi dan risikonya

Untuk menilai obesitas dan risikonya, dokter dapat menggunakan IMT, lingkar pinggang, riwayat kesehatan, pengukuran tekanan darah, serta pemeriksaan gula dan lemak darah sesuai kebutuhan. 

Hasilnya dipakai untuk menilai tingkat risiko dan pilihan tindak lanjut, bukan sekadar memberi label jenis.

  • Menghitung IMT berdasarkan berat dan tinggi badan.
  • Mengukur lingkar pinggang untuk melihat risiko obesitas sentral.
  • Memeriksa tekanan darah.
  • Memeriksa kadar gula darah dan profil lemak darah.
  • Menilai riwayat penyakit, obat-obatan, pola makan, aktivitas fisik, tidur, dan kondisi mental.
  • Menilai keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti mudah lelah, nyeri sendi, mendengkur berat, atau sesak saat beraktivitas.

Pemeriksaan ini penting karena dua orang dengan nilai IMT yang sama belum tentu memiliki risiko kesehatan yang sama.

Kapan perlu ke dokter?

Pertimbangkan konsultasi bila ukuran lingkar pinggang meningkat, terdapat tekanan darah atau gula darah tinggi, keluhan tidur dan napas, nyeri sendi yang membatasi aktivitas, atau kenaikan berat badan yang sulit dijelaskan. 

Dokter dapat menilai kondisi secara menyeluruh dan menentukan pemeriksaan maupun penanganan yang dibutuhkan.

Pantau hal-hal berikut: 

  • Lingkar pinggang melebihi batas aman.
  • Tekanan darah, gula darah, atau kolesterol tinggi.
  • Mudah lelah atau sesak saat beraktivitas.
  • Mendengkur berat atau sering terbangun saat tidur.
  • Nyeri lutut, pinggang, atau sendi yang mengganggu aktivitas.
  • Berat badan naik cepat tanpa penyebab yang jelas.
  • Sudah mencoba menurunkan berat badan, tetapi belum berhasil atau berat badan mudah naik kembali.

Dokter dapat membantu menentukan penyebab yang mungkin berperan dan menyusun rencana penanganan yang lebih aman, mulai dari perubahan pola makan, aktivitas fisik, terapi perilaku, hingga pilihan pengobatan bila diperlukan.

Jenis obesitas dapat dilihat berdasarkan IMT, lokasi penumpukan lemak, faktor penyebab, dan dampaknya terhadap kesehatan.

Secara medis, obesitas umum berdasarkan IMT, obesitas sentral, serta obesitas dengan risiko metabolik penting untuk diperhatikan karena berkaitan dengan risiko penyakit kronis. 

Lokasi penumpukan lemak dan gangguan kesehatan yang menyertai obesitas dapat memengaruhi penilaian risiko. Namun, faktor penyebab maupun komplikasinya tidak bisa disimpulkan hanya dari bentuk tubuh. Bila perlu, dokter akan melakukan pemeriksaan yang sesuai.

Obesitas dapat memicu berbagai penyakit bila tidak ditangani, seperti risiko penyakit jantung koroner (PJK). 

Obesitas juga bisa memiliki hubungan dengan kondisi resistensi insulin. Insulin merupakan hormon penting yang mengatur kadar gula darah dan mengubah energi makanan menjadi lemak.

Sementara itu, istilah seperti obesitas karena pola makan, kurang gerak, stres, hormon, genetik, atau obat-obatan lebih tepat dipahami sebagai faktor yang dapat berperan dalam kenaikan berat badan.

Untuk mengetahui kondisi Anda dengan lebih akurat, jangan hanya menilai dari bentuk tubuh. Gunakan IMT dan lingkar pinggang sebagai langkah awal, lalu konsultasikan ke dokter bila hasilnya menunjukkan risiko atau disertai keluhan kesehatan.

Kesimpulan

Jenis obesitas dapat dibahas menurut beberapa aspek: 

  • IMT untuk menilai kategori berat badan, 
  • lingkar pinggang untuk melihat penumpukan lemak di perut, 
  • serta kondisi kesehatan atau komplikasi yang menyertai. 

Faktor seperti pola makan, aktivitas fisik, genetik, hormon, stres, dan obat-obatan dapat saling berperan, tetapi bukan diagnosis obesitas yang berdiri sendiri. 

Untuk mengetahui risiko dan langkah yang tepat, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

#BeraniBicaraBerat #ObesitasAdalahPenyakit

medical
dr. Patricia Lukas Goentoro
Ditinjau secara medis oleh
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M · Tanggal diperbarui seminggu yang lalu