Smartwatch kini dapat merekam berbagai sinyal tubuh sepanjang hari. Dengan bantuan AI, data seperti detak jantung, gerakan, dan pola tidur dapat dianalisis menjadi pola yang lebih bermakna.
Smartwatch kini dapat merekam berbagai sinyal tubuh sepanjang hari. Dengan bantuan AI, data seperti detak jantung, gerakan, dan pola tidur dapat dianalisis menjadi pola yang lebih bermakna.

Lantas, bagaimana prosesnya dan seberapa jauh hasilnya bisa dipercaya?
Saat membuka aplikasi kesehatan di smartwatch atau ponsel, Anda mungkin melihat berbagai angka: detak jantung saat istirahat, jumlah langkah, durasi tidur, hingga perkiraan tahap tidur.
Angka-angka tersebut tidak muncul begitu saja. Di baliknya ada sensor yang menangkap biosignal, algoritma yang membersihkan data, dan tentu saja kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang membantu mengenali pola.
Peran AI menjadi penting karena tubuh tidak bekerja sebagai kumpulan angka yang berdiri sendiri. Detak jantung berubah dari detik ke detik, aktivitas fisik membentuk pola dalam hitungan menit hingga jam, sedangkan kebiasaan tidur baru terlihat bila diamati berulang kali. AI dapat membantu membaca hubungan dan perubahan tersebut dalam data time-series.
Meski demikian, insight dari wearable tidak sama dengan diagnosis medis.
Akurasi tiap perangkat dan tiap metrik dapat berbeda, sehingga hasilnya paling bermanfaat bila digunakan untuk memahami tren kesehatan dan, bila perlu, diskusikan hasilnya dengan tenaga kesehatan.
Smartwatch dan perangkat wearable dapat memiliki kombinasi sensor yang berbeda. Beberapa biosignal yang paling umum digunakan untuk memantau kesehatan antara lain berikut ini.
Pola tidur pada smartwatch juga perlu dipahami sebagai hasil estimasi yang memperkirakan tahap tidur dari kombinasi sinyal yang bisa diukur. Ini berbeda dengan pemeriksaan tidur standar di laboratorium, yaitu polysomnography (PSG), yang akan mengukur lebih banyak sinyal fisiologis, termasuk aktivitas otak.
Sensor menghasilkan data mentah dalam jumlah besar. Satu malam tidur saja dapat menghasilkan rangkaian data gerak dan denyut jantung selama berjam-jam.
AI membantu mencari struktur di dalam rangkaian tersebut: kapan pola berubah, sinyal mana yang saling berkaitan, dan pola apa yang berulang dari waktu ke waktu.
Salah satu pendekatan yang sedang berkembang adalah health foundation model. Secara sederhana, ini adalah model AI yang dilatih menggunakan data kesehatan dalam skala besar agar mampu mempelajari representasi atau pola dasar dari biosignal.
Setelah proses pretraining, model dapat disesuaikan untuk berbagai tugas, misalnya klasifikasi tahap tidur atau analisis sinyal kardiovaskular.
Model seperti ini dapat menggunakan self-supervised learning. Artinya, model tidak selalu membutuhkan setiap potongan data diberi label oleh manusia.
Salah satu cara latihannya adalah menyembunyikan sebagian sinyal lalu meminta model merekonstruksi bagian yang hilang. Dengan cara tersebut, AI belajar hubungan internal dalam data – mirip seperti melengkapi potongan puzzle dengan memahami pola di sekitarnya.
Contoh perkembangan terbaru datang dari Digital Health Team di Samsung Research America. Pada 2026, para peneliti memperkenalkan xMAE, sebuah model pretraining biosignal yang dirancang untuk mempelajari hubungan temporal antara ECG dan PPG.
ECG dan PPG melihat peristiwa jantung dari sisi yang berbeda. ECG menangkap aktivitas listrik yang memicu kontraksi jantung, sementara PPG menangkap perubahan volume darah di jaringan setelah darah dipompa. Karena proses tersebut terjadi berurutan, terdapat jeda waktu fisiologis antara kedua sinyal.
Dalam xMAE, model dilatih menggunakan pasangan ECG dan PPG dan belajar merekonstruksi bagian ECG yang disamarkan dengan memanfaatkan informasi dari PPG.
Menurut laporan penelitian dan Samsung Research, pretraining dilakukan menggunakan sekitar 9.400 jam data ECG dan PPG. Model tersebut mengungguli baseline unimodal dan multimodal pada 15 dari 19 tugas evaluasi, termasuk beberapa tugas terkait prediksi kardiovaskular dan klasifikasi tahap tidur.
Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antar-biosignal dapat digunakan untuk membuat representasi PPG yang lebih informatif.
Namun, performa pada benchmark penelitian tidak berarti setiap smartwatch otomatis dapat mendiagnosis penyakit jantung.
Model penelitian tetap memerlukan validasi pada populasi, perangkat, dan penggunaan klinis yang relevan sebelum hasilnya dapat diterjemahkan menjadi keputusan medis.

Tidak semua informasi kesehatan muncul dalam rentang waktu yang sama. Perubahan denyut jantung dapat terjadi dalam hitungan detik, sedangkan pola tidur membutuhkan pengamatan berjam-jam. Kebiasaan aktivitas fisik bahkan lebih bermakna bila dilihat dalam pola harian atau mingguan.
Prinsip tersebut digunakan dalam model HiMAE, riset lain dari tim Samsung Research America yang diterima di ICLR 2026. HiMAE menganalisis data wearable pada beberapa resolusi waktu, sehingga model dapat mempelajari fitur dari segmen pendek dan panjang secara terpisah.
Pendekatan HiMAE tersebut dirancang agar model dapat memilih skala waktu yang paling relevan untuk tugas tertentu, misalnya analisis detak jantung dibandingkan prediksi tidur.
HiMAE juga dirancang cukup ringkas untuk dijalankan langsung di perangkat. Dalam pengujian penelitian, inferensinya dapat berlangsung kurang dari satu milidetik pada CPU kelas smartwatch.
Memang secara konsep, pemrosesan on-device seperti ini dapat mengurangi ketergantungan pada server cloud dan membuka peluang insight yang lebih cepat. Namun, kemampuan penelitian tersebut tidak berarti seluruh fitur kesehatan di smartwatch saat ini sudah menggunakan model yang sama.
Kemampuan wearable berkembang cepat, tetapi akurasinya tidak sama untuk setiap metrik.
Sebuah living umbrella review yang diterbitkan di Sports Medicine pada 2024 merangkum 24 tinjauan sistematis, 249 studi validasi nonduplikat, dan lebih dari 430.000 peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa performa wearable sangat bergantung pada jenis data yang diukur.
Dalam tinjauan tersebut, pengukuran detak jantung secara umum memiliki bias rata-rata sekitar +/-3%. Namun, kesalahan pada estimasi intensitas aktivitas fisik jauh lebih besar, dan pengukuran tidur cenderung melebihkan total waktu tidur.
Para peneliti juga mencatat bahwa hanya sekitar 11% wearable komersial yang telah divalidasi untuk setidaknya satu outcome biometrik, sehingga validasi suatu fitur tidak otomatis berlaku untuk semua fitur pada perangkat yang sama.
Untuk tidur, meta-analysis di Journal of Clinical Sleep Medicine pada 2025 yang mencakup 24 studi dan 798 peserta menemukan perbedaan bermakna antara sleep tracker berbasis pergelangan tangan dan PSG.
Perbedaan ditemukan pada beberapa parameter penting, termasuk total waktu tidur, efisiensi tidur, waktu yang dibutuhkan untuk tertidur, dan waktu terjaga setelah mulai tidur.
Artinya, wearable dapat membantu melihat pola umum, tetapi hasilnya tidak dapat menggantikan pemeriksaan tidur klinis untuk menilai gangguan tidur secara rinci.
Pada pemantauan irama jantung, bukti juga menunjukkan manfaat sekaligus keterbatasan. Review terbaru pada 2026 menyimpulkan bahwa smartwatch dapat membantu mendeteksi fibrilasi atrium dalam skala populasi, tetapi akurasi dipengaruhi oleh perangkat, populasi, standar pembanding, dan kualitas rekaman.
Penting untuk diingat, notifikasi dari wearable tetap perlu dikonfirmasi secara klinis; bukti bahwa skrining berbasis wearable menurunkan kejadian stroke atau kematian masih belum pasti.
Intinya: wearable paling berguna untuk melihat pola dan perubahan dari waktu ke waktu. Satu angka atau satu notifikasi saja sebaiknya tidak digunakan untuk diagnosis diri sendiri.
Data wearable dapat menjadi lebih berguna bila dilihat sebagai tambahan informasi tentang tubuh, bukan sebagai pengganti pemeriksaan medis. Beberapa langkah berikut dapat membantu.
Semakin banyak data tubuh yang diproses, semakin penting pula pertanyaan tentang siapa yang menyimpan data, bagaimana data digunakan, dan apakah model bekerja sama baiknya pada kelompok pengguna yang berbeda.
World Health Organization (WHO) menekankan bahwa AI untuk kesehatan perlu dikembangkan dengan prinsip keselamatan, transparansi, perlindungan otonomi manusia, akuntabilitas, inklusivitas, dan keberlanjutan.
Pemrosesan langsung di perangkat berpotensi mengurangi sebagian kebutuhan untuk mengirim data mentah ke cloud, tetapi on-device AI juga bukan jaminan otomatis bahwa seluruh risiko privasi hilang.
Pengguna tetap perlu memahami pengaturan privasi, izin berbagi data, dan tujuan penggunaan data kesehatan pada perangkat atau aplikasi yang dipakai.
Perkembangan health foundation model menunjukkan perubahan arah teknologi wearable. Tujuannya bukan hanya menampilkan berapa kali jantung berdetak atau berapa jam seseorang tidur, tetapi juga memahami hubungan di antara berbagai sinyal dan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Riset xMAE dan HiMAE menjadi contoh bagaimana AI dapat mempelajari hubungan fisiologis dan skala waktu yang berbeda dari data wearable.
Jika teknologi semacam ini terus divalidasi secara klinis, wearable berpotensi memberikan insight kesehatan yang semakin personal dan relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, semakin canggih analisisnya, semakin penting pula membedakan antara insight, skrining, dan diagnosis.
Smartwatch dapat membantu Anda mengenali pola tubuh yang sebelumnya sulit diamati. Tapi ingat, setiap keputusan medis tetap perlu mempertimbangkan gejala, riwayat kesehatan, pemeriksaan klinis, dan tes yang sesuai.
Apakah smartwatch bisa mendiagnosis penyakit?
Secara umum, smartwatch konsumen sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti diagnosis medis. Beberapa fitur dapat membantu skrining atau memberi peringatan, tetapi hasil abnormal tetap perlu dievaluasi dan, bila perlu, dikonfirmasi dengan pemeriksaan klinis.
Apa perbedaan ECG dan PPG pada smartwatch?
ECG merekam aktivitas listrik jantung melalui elektroda, sedangkan PPG menggunakan sensor optik untuk mendeteksi perubahan volume darah pada jaringan. PPG lebih mudah digunakan secara pasif, sedangkan ECG pada smartwatch biasanya memerlukan pengukuran aktif.
Apakah data tidur dari smartwatch akurat?
Wearable dapat berguna untuk melihat pola tidur secara umum, tetapi hasilnya dapat berbeda dari polysomnography, yaitu pemeriksaan standar untuk evaluasi tidur. Grafik tahap tidur dari smartwatch sebaiknya tidak digunakan sendiri untuk mendiagnosis gangguan tidur.
Apa itu health foundation model?
Health foundation model adalah model AI yang dilatih pada data kesehatan dalam skala besar agar dapat mempelajari pola dasar dari biosignal. Setelah pretraining, model dapat digunakan atau disesuaikan untuk berbagai tugas analisis kesehatan.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Charlton, Peter H., et al. “Wearable Photoplethysmography for Cardiovascular Monitoring.” Proceedings of the IEEE, vol. 110, no. 3, 2022, pp. 355-381. https://doi.org/10.1109/JPROC.2022.3149785.
Davies, Mark, Heerajnarain Bulluck, and Muzahir H. Tayebjee. “Smartwatch and Wearable Detection of Atrial Fibrillation: Current Evidence and Clinical Implications.” Trends in Cardiovascular Medicine, 4 Aug. 2026, doi:10.1016/j.tcm.2026.08.003. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/42551497/.
Doherty, Cailbhe, et al. “Keeping Pace with Wearables: A Living Umbrella Review of Systematic Reviews Evaluating the Accuracy of Consumer Wearable Technologies in Health Measurement.” Sports Medicine, vol. 54, no. 11, 2024, pp. 2907-2926. https://doi.org/10.1007/s40279-024-02077-2.
Khosla, Seema, et al. “Consumer Sleep Technology: An American Academy of Sleep Medicine Position Statement.” Journal of Clinical Sleep Medicine, vol. 14, no. 5, 2018, pp. 877-880. https://doi.org/10.5664/jcsm.7128.
Lee, Simon A., et al. “HiMAE: Hierarchical Masked Autoencoders Discover Resolution-Specific Structure in Wearable Time Series.” International Conference on Learning Representations, 2026. https://proceedings.iclr.cc/paper_files/paper/2026/hash/6a3a5b1ad657c46ab99958b138bcd525-Abstract-Conference.html.
Lee, Young Jeong, et al. “Performance of Consumer Wrist-Worn Sleep Tracking Devices Compared to Polysomnography: A Meta-Analysis.” Journal of Clinical Sleep Medicine, vol. 21, no. 3, 2025, pp. 573-582. https://doi.org/10.5664/jcsm.11460.
Perez, Marco V., et al. “Large-Scale Assessment of a Smartwatch to Identify Atrial Fibrillation.” New England Journal of Medicine, vol. 381, no. 20, 2019, pp. 1909-1917. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1901183.
Samsung Electronics Indonesia. “Dari Biosignal Menjadi Insight Kesehatan: Upaya Samsung Research Mengembangkan Health Foundation Model.” Samsung Newsroom, 24 Aug. 2026. (diterima redaksi pada 14 Septermber 2026)
World Health Organization. Ethics and Governance of Artificial Intelligence for Health: WHO Guidance. World Health Organization, 2021. https://www.who.int/publications/i/item/9789240029200.
Zhou, Hao, et al. “Physiology-Aware Masked Cross-Modal Reconstruction for Biosignal Representation Learning.” Proceedings of the 43rd International Conference on Machine Learning, 2026. arXiv:2605.00973. https://arxiv.org/abs/2605.00973.
Versi Terbaru
14/09/2026
Ditulis oleh Wicak Hidayat
Ditinjau secara medis oleh Hello Sehat Medical Review Team
Diperbarui oleh: Wicak Hidayat