Setelah stroke, banyak orang sering mengalami perubahan secara emosional dan perilaku. Hal ini dikarenakan stroke mempengaruhi otak, yang mana mengendalikan perilaku dan emosi. Pengalaman stroke setiap orang berbeda, tapi bagi banyak pasien merasa jika mereka seperti telah kehilangan sebagian hidupnya.

Siapa pun yang mengalami stroke pasti akan mengalami berbagai gejolak perasaan dan perilaku saat mereka mencoba menyesuaikan dan menerima keadaan setelah stroke. Timbulnya perasaan syok, penolakan, marah, sedih dan rasa bersalah adalah hal normal saat Anda menghadapi perubahan besar dalam hidup.

Tidak jarang, banyak orang yang merasa sangat sulit untuk mengendalikan perubahan emosi dan perilakunya setelah mengalami stroke. Terlebih jika pasien tidak mengetahui bagaimana cara mengatasinya, perubahan tersebut tentu bisa menjadi luar biasa dan menimbulkan masalah baru.

Mengapa emosi dan perilaku pasien berubah setelah stroke?

Sebagaian pasien mengaku mengalami berbagai macam masalah emosi setelah stroke. Depresi dan kecemasan adalah masalah umum yang sering terjadi setelah stroke. Efeknya, beberapa pasien mengalami kesulitan dalam mengendalikan mood dan emosi yang bisa berubah secara mendadak atau biasa dikenal dengan emotionalism – emotional lability. Hal ini kadang membuat pasien stroke mudah tersinggung, tiba-tiba menangis, tertawa bahkan marah tanpa ada alasan yang jelas.

Sedangkan cara pasien berperilaku sering tergantung pada cara mereka merasakannya. Jadi jika emosi seseorang berubah setelah stroke, maka perilakunya pun cenderung akan berubah juga. Tapi itu bukan hanya tentang cara mereka merasa. Terkadang stroke juga dapat mempengaruhi cara pasien dalam menanggapi apa yang terjadi di sekitar mereka.

Misalnya pasien jadi lebih banyak diam, merasa acuh atau kurang tertarik dengan hal-hal yang dulunya mereka sukai, berperilaku kasar seperti memukul dan berteriak. Selain itu timbulnya rasa frustrasi karena tidak bisa melakukan sesuatu untuk diri atau kesal karena sulit berkomunikasi juga dapat membuat mereka agresif terhadap orang lain.

Apakah masalah emosi dan perilaku pasien akan bisa sembuh?

Umumnya pasien akan merasa cemas, marah, kesal, tidak berguna sehingga mereka akan lebih mudah tersinggung dan sulit untuk mengendalikan emosinya, terutama dalam enam bulan pertama setelah stroke. Namun, seiring berjalannya waktu, pasien akan mulai bisa menerima dan mulai terbiasa dengan perubahan yang terjadi dalam diri mereka. Sehingga, secara perlahan masalah emosional dan perilaku mereka akan membaik.

Membaiknya masalah emosional dan perilaku pasien ini tentu tidak lepas dari peran keluarga dan kerabat dekat yang membantu dalam memberikan dukungan. Itu sebabnya, sangat penting bagi para perawat pasien supaya tidak pernah bosan dalam memberikan dukungan moral dan keyakinan ke pasien jika kondisi mereka akan pulih seiring berjalannnya waktu.

Selain itu, sebagai perawat jangan lupa untuk beradaptasi dengan kondisi para pasien jika mereka mengalami masalah komunikasi, penurunan daya ingat, lambat dalam mengerti maksud Anda dan lain sebagainya.

Sebenarnya, prediksi penyembuhan stroke tergantung dari jenis stroke yang diderita dan seberapa luas penyebarannya di organ tubuh. Jika perbaikan kesehatan pasien melalui obat-obatan dan terapi menampakan kemajuan yang signifikan, maka kemungkinan pasien untuk sembuh sangat besar. Namun perlu diingat, jika penyembuhan total setelah stroke akan memakan waktu lama.

Apakah ada terapi yang bisa membantu?

Berurusan dengan perubahan perilaku setelah stroke lebih banyak belajar bagaimana mengendalikannya, bukan menyembuhkan atau ‘memperbaiki’. Perubahan perilaku pasien yang disebabkan oleh masalah emosional, seperti depresi atau kecemasan bisa dibantu dengan pengobatan atau terapi.

Biasanya dokter akan dapat mengarahkan pasien untuk berkonsultasi ke psikolog sehingga bisa melihat penyebabnya dan berbicara kepada pasien tentang cara terbaik untuk mengatasinya.

Perawatan yang biasa dilakukan pasien meliputi:

  • Melakukan terapi Cognitive Behavioural Therapy (CBT) adalah sebuah terapi yang memiliki prinsip dasar bagaimana cara berpikir seseorang dalam situasi tertentu bisa mempengaruhi bagaimana mereka merasa emosional dan fisik, sehingga mengubah perilakunya. Penekanan pada aspek kognitif atau perilaku terapi dapat bervariasi, tergantung pada kondisi pasien.
  • Strategi manajemen perilaku. Misalnya, pelatihan manajemen kemarahan.
  • Selain itu, pasien bisa mengonsumsi obat anti-depresan. Obat anti-depresan memang tidak menyembuhkan masalah emosional, tapi bisa membantu meringankan gejala sehingga membuat hidup pasien terasa lebih menyenangkan. Tidak semua obat anti-depresan manjur atau cocok untuk semua orang karena memang efek samping yang ditimbulkan akan berbeda-beda bagi yang mengonsumsinya. Jadi sebelum mengonsumsinya, jangan lupa konsultasi ke dokter terlebih dahulu.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca