backup og meta

Hiperhidrosis Bisa Ditangani Permanen, Kenali Advanced Sweat Reduction

Apa itu hiperhidrosis?Menentukan penangananKandidat pasienKontraindikasiCara kerjaPemulihan

Keringat berlebih atau hiperhidrosis bukan sekadar persoalan kebersihan tubuh, melainkan berkaitan dengan aktivitas kelenjar keringat yang terlalu tinggi. Kini hadir prosedur Advanced Sweat Reduction yang memanfaatkan teknologi medis Laser Assisted Liposuction untuk mengatasi masalah keringat berlebih secara efektif dan permanen.

Hiperhidrosis Bisa Ditangani Permanen, Kenali Advanced Sweat Reduction

Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, hiperhidrosis dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan kepercayaan diri, hingga memengaruhi kehidupan sosial dan kondisi emosional.

“Sekitar 35% remaja di AS mengeluhkan hiperhidrosis yang mengganggu aktivitas sosial,” ujar dr. Irwan Saputra Batubara, Sp. D.V.E., Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika RS Pondok Indah, mengutip data International Hyperhidrosis Society.

Menurut dr. Irwan, sekitar 70% dari kelompok tersebut mengalami stres emosional, seperti kecemasan, depresi, menarik diri dari lingkungan sosial, bahkan suicidal ideation. Karena itu, hiperhidrosis perlu dilihat sebagai kondisi medis yang dapat ditangani, bukan sekadar masalah kosmetik.

Mengenal hiperhidrosis dan jenis keringat

keringat dingin karena asam lambung

Secara medis, hiperhidrosis dibedakan menjadi dua jenis, yaitu hiperhidrosis primer dan sekunder. Hiperhidrosis sekunder terjadi akibat kondisi medis atau penggunaan obat tertentu yang memicu produksi keringat berlebih.

Beberapa penyebabnya antara lain diabetes, gangguan tiroid, menopause, serta kondisi medis lainnya. Jika keringat berlebih disebabkan oleh kondisi tersebut, penyakit atau faktor pemicunya perlu ditangani terlebih dahulu.

Sementara itu, hiperhidrosis primer umumnya menyebabkan keringat berlebih pada area tubuh tertentu, seperti ketiak, telapak tangan, atau telapak kaki. Penyebab pastinya tidak diketahui, tetapi kondisi ini diduga berkaitan dengan aktivitas saraf yang lebih reaktif sehingga memicu produksi keringat berlebih. 

Pada hiperhidrosis aksila, kelenjar keringat di area ketiak menjadi perhatian utama. Di area ini terdapat dua jenis kelenjar keringat, yaitu ekrin dan apokrin, yang menghasilkan keringat dengan karakteristik berbeda.

Kelenjar ekrin menghasilkan keringat yang umumnya jernih, encer, tidak berwarna, dan tidak berbau. Sementara itu, kelenjar apokrin yang terdapat antara lain di ketiak menghasilkan cairan yang lebih kental, berwarna keruh, dan dapat mengandung sisa sel kulit mati. Cairan tersebut lebih mudah menimbulkan bau ketika berinteraksi dengan bakteri di kulit. 

Menentukan penanganan sesuai tingkat keparahan

Tidak semua orang dengan hiperhidrosis membutuhkan tindakan untuk menghilangkan kelenjar keringat.

Dokter perlu memastikan keluhan merupakan hiperhidrosis primer, berlangsung setidaknya enam bulan, serta bukan disebabkan kondisi lain seperti diabetes atau gangguan tiroid. Jika penyebabnya ditemukan, kondisi tersebut perlu ditangani terlebih dahulu.

Tingkat keparahan dapat dinilai menggunakan Hyperhidrosis Disease Severity Scale (HDSS) yang terdiri dari empat tingkat. HDSS 3 dan 4 menunjukkan keringat berlebih yang sudah mengganggu aktivitas dan dapat menjadi pertimbangan untuk penanganan lebih lanjut.

Penanganan dilakukan bertahap, mulai dari deodoran atau antiperspiran hingga terapi yang memblokir sinyal saraf, seperti suntik botox ketiak. Namun, efek botox bersifat sementara dan keringat dapat kembali dalam 3–6 bulan.

Jika terapi standar tidak cukup efektif atau kondisi sangat mengganggu, dokter dapat mempertimbangkan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan kelenjar keringat.

Artikel terkait

Siapa yang cocok menjalani pengobatan ini?

Penanganan hiperhidrosis dengan prosedur Advanced Sweat Reduction dapat menjadi pilihan bagi pasien dengan hiperhidrosis aksila primer yang mengalami keringat berlebih secara menetap dan sudah mengganggu aktivitas maupun kualitas hidup.

Kandidat yang dapat dipertimbangkan antara lain pasien yang:

  • mengalami keringat berlebih di ketiak setidaknya selama enam bulan berturut-turut;
  • memiliki hiperhidrosis primer, bukan keringat berlebih akibat penyakit atau obat tertentu;
  • mengalami gangguan terhadap aktivitas sehari-hari, kepercayaan diri, pekerjaan, atau interaksi sosial;
  • memiliki tingkat keparahan HDSS 3 atau 4;
  • tidak mendapatkan hasil yang memadai dari penanganan standar seperti deodoran atau antiperspiran; atau
  • mengalami keterbatasan dengan terapi sementara seperti botox.

Prosedur ini juga terutama ditujukan untuk area ketiak. Prinsipnya menggunakan teknik liposuction sehingga tidak dapat diterapkan pada semua lokasi hiperhidrosis. Advanced Sweat Reduction tidak ditujukan untuk keringat berlebih pada telapak tangan atau telapak kaki.

Siapa yang tidak disarankan menjalani prosedur ini?

Advanced Sweat Reduction tidak dianjurkan jika keringat berlebih merupakan hiperhidrosis sekunder. Pasien dengan kondisi seperti diabetes atau gangguan tiroid perlu mendapatkan penanganan terhadap penyakit yang mendasari terlebih dahulu.

Selain itu, terdapat beberapa kondisi yang perlu menjadi pertimbangan sebelum tindakan. Pasien dengan riwayat alergi terhadap bahan anestesi tidak dapat menjalani prosedur apabila alergi tersebut membuat penggunaan anestesi lokal tidak aman.

Tindakan juga tidak dilakukan pada ibu hamil dan menyusui sebagai kontraindikasi etis. Meskipun prosedur tidak mengganggu kehamilan, tindakan elektif perlu mempertimbangkan keseimbangan manfaat dan risiko sehingga dapat ditunda hingga masa menyusui selesai.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah ekspektasi pasien. Pasien dengan ekspektasi yang tidak realistis terhadap hasil tindakan juga bukan kandidat yang sesuai.

Dokter perlu menjelaskan bahwa prosedur bertujuan mengurangi produksi keringat, bukan membuat seluruh area tubuh bebas keringat.

Bagaimana Advanced Sweat Reduction bekerja?

kulit ketiak bersih mulus

Prosedur Advanced Sweat Reduction memanfaatkan teknologi Laser Assisted Liposuction untuk menargetkan dan mengurangi kelenjar keringat di area ketiak.

Sebelum tindakan, dokter melakukan minor starch-iodine sweat test untuk memetakan lokasi kelenjar keringat yang paling aktif. Area ketiak diberikan iodine, kemudian ditambahkan tepung kanji.

Ketika tepung bercampur dengan keringat, area yang aktif akan berubah warna menjadi lebih gelap atau keunguan. Hasil pemetaan ini digunakan untuk menentukan area yang perlu ditangani.

Pasien kemudian mendapatkan anestesi lokal. Dokter membuat sayatan kecil sekitar 3–5 mm di tepi area yang telah ditandai. Melalui sayatan tersebut, kanula dimasukkan untuk melakukan suction curettage, yaitu mengikis dan menyedot kelenjar keringat dari bawah permukaan kulit.

Kelenjar keringat yang ditargetkan berada sekitar 4 mm dari permukaan kulit. Menurut dr. Irwan, jaringan tersebut memiliki konsistensi yang kenyal dan lembut sehingga dapat ditangani dengan prinsip liposuction (sedot lemak).

“Tindakan ini bukan membuang sinyalnya, tetapi membuang pabriknya, yaitu kelenjar keringatnya,” jelas dr. Irwan.

Karena kelenjar yang telah diangkat tidak tumbuh kembali, efek pengurangan keringat dapat bersifat permanen. Berdasarkan bukti ilmiah yang dipaparkan, metode Advanced Sweat Reduction dapat menghasilkan penurunan produksi keringat sekitar 70–90 persen.

Jika masih terdapat keringat setelah tindakan, keringat tersebut umumnya berasal dari area yang tidak ditangani. Berbeda dengan suntik botox yang menghambat sinyal menuju kelenjar keringat untuk sementara, prosedur ini menargetkan kelenjarnya secara langsung.

Pemulihan setelah Advanced Sweat Reduction

Prosedur ini menggunakan sayatan kecil sehingga pasien umumnya dapat pulang setelah tindakan. Luka diberikan salep antibiotik, ditutup dengan kasa steril, kemudian dipasang perban tekan untuk membantu mencegah penumpukan cairan di bawah kulit.

Pasien dapat mengalami efek samping sementara berupa memar, bengkak ringan, rasa kaku atau pegal, serta perubahan warna kulit. Proses penyembuhan dan remodelling jaringan berlangsung secara bertahap selama sekitar dua minggu.

Aktivitas ringan dapat kembali dilakukan pada minggu pertama. Namun, pasien perlu menghindari olahraga berat, mengangkat beban berat, dan mengangkat lengan terlalu tinggi selama masa pemulihan awal.

Jika hasil yang diperoleh belum maksimal, tindakan dapat dipertimbangkan untuk diulang setelah sekitar tiga bulan.

Dengan demikian, Advanced Sweat Reduction dapat menjadi salah satu pilihan penanganan bagi pasien dengan hiperhidrosis aksila primer yang sudah mengganggu kualitas hidup, terutama ketika penanganan standar belum memberikan hasil yang memadai.

Namun, penentuan kandidat tetap perlu dilakukan melalui pemeriksaan dokter untuk memastikan penyebab hiperhidrosis, tingkat keparahan, serta keamanan tindakan.

Kalkulator BMI (IMT)

health-tool-icon

tahun

Apakah Anda berminat program manajemen berat badan?

Tahukah Anda perawatan dengan GIP dan GLP-1?

*Jenis pengobatan dan perawatan terbaru yang membantu manajemen berat badan dan Diabetes Tipe 2

Ikuti terus infonya agar berat badan terjaga: Dapatkan update dari pakar mengenai dukungan dan perawatan berat badan langsung ke inbox Anda.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

International Hyperhidrosis Society. (n.d.). Resources overview. SweatHelp.org. Retrieved 3 September 2026 from https://www.sweathelp.org/education-and-resources/resources-overview.html

Versi Terbaru

04/09/2026

Ditulis oleh Diah Ayu Lestari

Ditinjau secara medis oleh Hello Sehat Medical Review Team

Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari


Artikel Terkait

4 Tips Memilih Sabun Penghilang Bau Badan yang Efektif

10 Cara Menghilangkan Bau Badan yang Menusuk


Ditinjau secara medis oleh

Hello Sehat Medical Review Team

Kesehatan · None


Ditulis oleh Diah Ayu Lestari · Tanggal diperbarui 59 menit lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan