Kortikosteroid dan Keampuhannya Menyelamatkan Pasien COVID-19 Gejala Berat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Obat kortikosteroid terbukti dapat menyelamatkan pasien COVID-19 gejala berat dari keadaan kritis. Fakta tersebut dibuktikan oleh beberapa penelitian dan telah diakui oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). 

Temuan ini membuat kortikosteroid mendapat izin untuk digunakan secara luas. Namun, para peneliti menekankan bahwa obat ini bukan untuk menyembuhkan seseorang dari infeksi COVID-19

Kortikosteroid dan bukti ilmiah keampuhannya menolong pasien COVID-19

dexamethasone kortikosteroid covid-19

Penelitian tentang kegunaan kortikosteroid dalam menangani pasien COVID-19 dengan gejala gangguan pernapasan parah pertama kali dilakukan oleh peneliti China pada awal Maret.

Pada Juni lalu, peneliti di Inggris meneliti lebih lanjut kegunaan kortikosteroid yang dapat menyelamatkan nyawa pasien COVID-19 yang sedang dalam kondisi kritis. Kortikosteroid yang digunakan adalah dexamethasone

Dexamethasone atau deksametason adalah salah satu steroid jenis kortikosteroid. Obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi pasien dengan peradangan, gangguan pencernaan, asma, dan reaksi alergi.

Dalam studi tersebut, peneliti melakukan uji klinis langsung pada ribuan pasien COVID-19 di Inggris yang dipilih secara acak. Hasilnya, keampuhan kortikosteroid terlihat paling jelas pada pasien yang membutuhkan bantuan oksigen. Tapi obat ini tak berdampak signifikan terhadap pasien yang tidak membutuhkan oksigen. 

Di antara pasien yang membutuhkan ventilator, deksametason mengurangi tingkat kematian hingga 35%. Sementara di antara pasien COVID-19 yang menerima oksigen tambahan bukan ventilator, obat kortikosteroid tersebut mengurangi tingkat kematian hingga 20%. Tingkat kematian ini dihitung dalam 28 hari setelah dimulainya pengobatan.

Para peneliti juga tidak menemukan potensi efek samping yang mengkhawatirkan. Namun, pemakaian kortikosteroid ini masih harus diteliti lebih lanjut untuk menegaskan keefektifannya. 

Penelitian terbaru yang dipublikasi di jurnal JAMA (2/9) menyebut bahwa penggunaan kortikosteroid ampuh membantu pasien COVID-19 keluar dari masa kritis.

Analisis terbaru ini menghilangkan keraguan yang tersisa tentang pemberian kortikosteroid dalam menangani infeksi virus SARS-CoV-2. Penelitian ini juga memastikan keamanan semua jenis kortikosteroid bukan hanya deksametason.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

373,109

Terkonfirmasi

297,509

Sembuh

12,857

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Penggunaan kortikosteroid dalam menangani pasien virus corona

gejala covid-19 parah kortikosteroid

WHO menyarankan untuk menghindari penggunaan kortikosteroid di awal masa infeksi COVID-19. 

Alasannya, obat steroid tersebut dapat menghalangi upaya sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus. Namun jika digunakan di masa tengah hingga akhir infeksi COVID-19, deksametason dapat membantu menangkal terjadinya badai sitokin (respons imun berlebihan yang justru menyerang jaringan tubuh).

Obat ini juga tidak disarankan untuk digunakan dalam menangani pasien COVID-19 dengan gejala ringan karena tidak terbukti bermanfaat. Dalam beberapa kasus, penggunaan kortikosteroid malah berpotensi membahayakan.

Pemberian kortikosteroid dapat ditelan dalam tablet atau diberikan melalui intravena maupun infus. Dosis yang diberikan sejauh ini adalah dosis rendah dan tidak ada bukti pemberian dosis tinggi akan lebih efektif.

“Di awal tahun, kadang-kadang rasanya hampir putus asa mengetahui bahwa kami tidak memiliki obat khusus,” kata Anthony Gordon, profesor peneliti dari Imperial College London.

“Namun kurang dari enam bulan kemudian kami telah menemukan bukti yang jelas dan dapat diandalkan dalam uji klinis berkualitas tinggi tentang bagaimana kortikosteroid dapat mengatasi penyakit yang menghancurkan ini,” ujarnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Vaksin Mampu Menyelesaikan Semua Masalah Pandemi COVID-19?

Percepatan uji coba vaksin ini dilakukan demi menyelesaikan pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi hampir seluruh dunia. Bagaimana kemungkinannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

4 Langkah Membersihkan Diri dan Rumah Setelah Keluar Bepergian

Pastikan untuk selalu membersihkan diri setelah keluar bepergian untuk melindungi keluarga dan orang terdekat. Yuk, ikuti langkah-langkah ini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
membersihkan diri setelah keluar rumah
Hidup Sehat, Tips Sehat 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Hipertensi dan Sejumlah Faktor Risiko Kematian Pasien COVID-19 di Jakarta

Hipertensi menjadi penyakit penyerta (komorbid) yang paling banyak dilaporkan dalam kasus kematian pasien COVID-19 di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Risiko Penularan COVID-19 di Bioskop

Penularan COVID-19 di bioskop bisa terjadi dari banyak jalur penularan, mulai dari cipratan langsung droplet, sentuhan dengan permukaan, hingga airborne.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

dampak COVID-19 pada laki-laki

Laki-laki Lebih Berisiko Mengalami Gejala Buruk Saat Terinfeksi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
COVID-19 gangguan pendengaran

Infeksi COVID-19 Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
kepadatan kota memengaruhi covid-19

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kasus Norovirus di China, Apakah Wabah Baru?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit