Benarkah Bayi Susu Formula Rentan Kelebihan Berat Badan?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

WHO maupun Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan agar bayi mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan kehidupan pertamanya. Namun, beberapa bayi mungkin tidak bisa diberi ASI karena berbagai alasan tertentu. Memang karena ASI ibu tidak keluar, bayi tidak bisa menyusu dengan baik, atau ada juga yang karena ibu tidak ingin menyusui bayinya. Akhirnya, bayi pun diberi susu formula sebagai makanan utamanya. Namun, apa benar bayi susu formula mudah mengalami kelebihan berat badan?

Penelitian membuktikan bayi susu formula lebih rentan obesitas

ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, sehingga para ibu disarankan untuk memberi bayinya ASI saja selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Namun, beberapa bayi pun kadang sudah diberi susu formula sejak dini karena berbagai alasan. Anda mungkin harus hati-hati, karena pemberian susu formula pada bayi ternyata dapat membuat bayi kelebihan berat badan. Tidak hanya di masa bayinya, tapi juga bisa berdampak sampai ia tumbuh dewasa.

Dilansir dari laman The Guardian, penelitian membuktikan bahwa bayi susu botol bisa menjadi obesitas di saat dewasa. Setidaknya sebanyak 20% obesitas pada orang dewasa disebabkan oleh kelebihan makan di masa bayi, seperti yang dikatakan oleh Profesor Atul Singhal dari MRC Childhood Nutrition Research Centre di Institute of Child Health di London.

Mengapa bayi susu formula bisa kelebihan berat badan dibanding bayi ASI?

Ternyata memang ada banyak alasan yang bisa menjelaskan mengapa bayi susu formula atau bayi botol susu bisa mengalami kelebihan berat badan.

1. Formula lebih mudah dikonsumsi bayi

Bayi botol susu lebih rentan mengalami kelebihan makan karena ia akan menelan semua susu yang diberikan melalui botol dengan mudah. Susu yang diberikan mungkin lebih dari yang ia butuhkan, sehingga hal ini dapat meningkatkan nafsu makannya di kemudian hari. Sedangkan, bayi ASI harus lebih bekerja keras untuk mendapatkan ASI. Ia juga lebih mampu untuk membatasi sendiri asupan ASI yang ia isap dari payudara ibu, sehingga ia lebih bisa mengontrol nafsu makannya.

2. Susu formula mengandung protein dan lemak lebih banyak

dilihat dari kandungannya, susu formula mengandung tinggi protein, tinggi lemak, dan tinggi gula. Hal ini tentu dapat membuat bayi susu formula lebih mudah mengalami kelebihan asupan kalori, sehingga lebih mudah mengalami kenaikan berat badan.

Bayi susu formula bisa mengonsumsi sekitar 70% protein lebih banyak dibandingkan bayi ASI pada usia 3-6 bulan. Hal ini tidak baik karena asupan protein yang sangat tinggi dapat merangsang pelepasan hormon insulin yang lebih banyak. Akibatnya, terjadi penumpukan lemak yang lebih banyak dalam tubuh bayi.

3. Susu formula bisa meningkatkan nafsu makan bayi

Bayi susu formula bisa menjadi kurang sensitif terhadap leptin di kemudian hari. Leptin merupakan hormon yang mengatur nafsu makan dan lemak tubuh. Kurangnya sensitivitas tubuh terhadap leptin dapat membuat nafsu makan bayi menjadi besar, sehingga makan berlebih. Pada akhirnya, hal ini menyebabkan bayi mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Menyusui bayi ASI diyakini dapat memberikan dampak positif pada kadar leptin selama masa bayi dan balita. Hal ini membuat bayi lebih mengenal kondisi “lapar dan kenyang” dalam tubuhnya, sehingga ia bisa mengatur sendiri asupan makannya agar tidak berlebihan.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Artikel dari ahli Arinda Veratamala, S.Gz

9 Penyakit Infeksi pada Anak yang Rentan Menyerang

Penyakit infeksi pada anak cukup mengkhawatirkan karena bisa mengganggu tumbuh kembang. Lantas, apa saja penyakit infeksi yang sering dialami anak?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala, S.Gz
penyakit infeksi pada anak

Zat Besi Sangat Penting Bagi Bayi, Berapa Banyak yang Dibutuhkannya?

Saat bayi menginjak usia 6 bulan, ASI saja sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan zat besi bayi. Nah, jika terjadi kekurangan zat besi, apa sih dampaknya?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala, S.Gz
kebutuhan zat besi bayi
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 12 Juni 2019

Makanan Padat Bayi Sebaiknya yang Seperti Apa?

Bayi yang tadinya biasa menerima makanan dalam bentuk cair (ASI), harus belajar menerima makanan padat. Nah, makanan padat bayi sebaiknya yang seperti apa?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala, S.Gz
makanan padat untuk aanak
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 31 Mei 2019

Yang juga perlu Anda baca

Adakah Perbedaan pada Tumbuh Kembang Anak Minum Susu Sapi dan Soya?

Ketahui apakah terdapat perbedaan antara anak yang minum susu formula sapi dan soya dalam hal tumbuh kemang serta apa kelebihan dari susu soya.

Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
perbedaan susu sapi dan soya
Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 16 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit

Kenali Perbedaan Protein Soya dan Isolat Protein Soya Serta Manfaatnya untuk Tumbuh Kembang Anak

Terdapat perbedaan formula protein soya dan formula dengan isolat protein soya. Apa saja perbedaan dan manfaatnya masing-masing bagi tumbuh kembang anak?

Ditulis oleh: Roby Rizki
Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 3 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit

Cara Memilih Susu Soya yang Tepat untuk Kebutuhan Anak

Susu soya dapat menjadi sumber nutrisi anak. Namun, tetap teliti sebelum memilih susu soya untuk anak dan lakukan tips berikut ini.

Ditulis oleh: Roby Rizki
Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 3 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit

Kelebihan Formula PDX GOS dan Betaglucan dalam Memperkuat Imun Anak

Susu formula dengan kandungan PDX, GOS, dan Betaglucan memiliki keunggulan untuk sistem imun anak. Benarkah demikian? Bagaimana cara kerjanya?

Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
susu formula untuk anak
Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 5 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit