brand logo
Kategori
Cek Kesehatan
Komunitas
Booking Dokter

Iklan

Bagikan

Kura-Kura Brazil: Karakteristik dan Cara Merawatnya

Kura-kura Brazil merupakan salah satu jenis kura-kura air yang populer dipelihara. Hewan ini mudah dikenali dari garis berwarna merah atau jingga di belakang matanya sehingga dalam bahasa Inggris disebut red-eared slider.

Kura-Kura Brazil: Karakteristik dan Cara Merawatnya

Meski sering dijual dalam ukuran kecil, kura-kura Brazil dapat tumbuh jauh lebih besar dan hidup selama puluhan tahun. Perawatannya juga tidak cukup hanya dengan menyediakan akuarium berisi air.

Kura-kura ini membutuhkan ruang berenang, area kering untuk berjemur (basking), suhu yang sesuai, pencahayaan UVB, air yang bersih, serta makanan dengan nutrisi seimbang. Lingkungan dan pola makan yang tidak tepat merupakan faktor penting yang dapat menyebabkan masalah kesehatan pada reptil peliharaan. 

Apa itu kura-kura Brazil?

Kura-kura Brazil adalah nama yang umum digunakan di Indonesia untuk Trachemys scripta elegans atau red-eared slider. Penelitian dari IPB juga menggunakan istilah “kura-kura Brazil” untuk T. s. elegans yang diperdagangkan sebagai hewan peliharaan di Indonesia.

Menariknya, meskipun disebut “Brazil”, spesies ini bukan berasal dari Brasil. Daerah asal alaminya terutama berada di wilayah tengah hingga selatan Amerika Serikat dan meluas hingga bagian timur laut Meksiko. 

Kura-kura ini merupakan hewan semiakuatik. Artinya, sebagian besar aktivitasnya berlangsung di dalam air, tetapi ia juga secara rutin keluar dari air untuk berjemur dan mengeringkan tubuhnya.

Di habitat alaminya, red-eared slider dapat ditemukan di perairan tawar yang relatif tenang, seperti kolam, danau, sungai, rawa, dan aliran air, dengan tempat seperti batu atau batang kayu untuk berjemur. 

Karakteristik kura-kura Brazil

Ada beberapa karakteristik yang membedakan kura-kura Brazil dari jenis kura-kura lainnya.

1. Memiliki garis merah di belakang mata

Ciri paling khas dari red-eared slider adalah garis atau bercak merah hingga jingga di belakang kedua matanya.

Warna tubuh dan tempurungnya umumnya hijau ketika masih muda dengan pola garis kekuningan. Warna tersebut dapat menjadi lebih gelap seiring bertambahnya usia.

USGS menyebut garis merah atau jingga yang lebar di belakang mata sebagai salah satu karakteristik utama untuk mengidentifikasi Trachemys scripta elegans.

2. Ukurannya dapat menjadi cukup besar

Kura-kura Brazil yang masih kecil sering terlihat mungil ketika dijual. Namun, jangan menganggap ukurannya akan tetap seperti itu.

Data USGS mencatat panjang tempurung red-eared slider sekitar 12,5–28,9 cm. Betina umumnya dapat tumbuh lebih besar daripada jantan. 

Karena itu, ukuran akuarium yang sebelumnya cukup saat kura-kura masih kecil mungkin tidak akan cukup lagi ketika hewan tersebut telah dewasa. 

3. Pandai berenang tetapi tetap membutuhkan daratan

Red-eared slider merupakan perenang yang baik. Namun, kura-kura ini tidak seharusnya berada di air selama 24 jam tanpa tempat untuk keluar.

Ia membutuhkan area kering untuk melakukan basking, yaitu berjemur dan menaikkan suhu tubuhnya.

Hal ini penting karena kura-kura termasuk hewan ektotermik. Suhu tubuhnya sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan sehingga ia perlu dapat berpindah antara area yang lebih hangat dan lebih sejuk. 

4. Dapat hidup selama puluhan tahun

Memelihara kura-kura Brazil merupakan komitmen jangka panjang.

Animal Diversity Web mencatat slider turtle dapat hidup hingga sekitar 30 tahun di alam liar, sementara individu dalam pemeliharaan pernah tercatat hidup lebih dari 40 tahun. Data rata-rata usia hidupnya sendiri masih terbatas. 

Jadi, sebaiknya pertimbangkan kemampuan menyediakan habitat, makanan, dan perawatan veteriner untuk jangka panjang sebelum memeliharanya.

5. Termasuk hewan omnivora

Kura-kura Brazil memakan bahan makanan hewani maupun tumbuhan.

Komposisinya dapat berubah berdasarkan usia. Red-eared slider muda cenderung lebih banyak mengonsumsi protein hewani, kemudian menjadi semakin omnivora dan mengonsumsi lebih banyak tumbuhan setelah dewasa. 

Cara merawat kura-kura Brazil

Cara merawat kura-kura Brazil perlu meniru beberapa kebutuhan dasar yang biasanya diperolehnya dari lingkungan alami.

1. Sediakan akuarium yang cukup luas

Kura-kura membutuhkan ruang yang cukup agar dapat berenang dan menyelam dengan leluasa.

VCA Animal Hospitals menyarankan akuarium dibuat sebesar mungkin karena kebutuhan ruang akan meningkat seiring pertumbuhan kura-kura. Sebagai salah satu panduan minimum, kedalaman air dapat sekitar 1,5–2 kali panjang tempurung, sementara panjang area berenang sekitar 4–6 kali panjang tempurung. 

Ukuran tersebut bukan aturan mutlak untuk setiap kondisi. Semakin besar ruang berenang yang dapat disediakan dengan aman, umumnya semakin baik.

Selain air, sediakan area yang memungkinkan seluruh tubuh kura-kura keluar dari air.

Area ini harus:

cukup kokoh untuk menahan tubuh kura-kura, mudah dipanjat, benar-benar kering pada bagian atasnya, dan berada di bawah sumber panas serta pencahayaan yang sesuai.

2. Jaga air tetap bersih

Kura-kura makan, berenang, dan membuang kotoran di dalam air yang sama. Inilah sebabnya kualitas air merupakan salah satu bagian penting dari pemeliharaan.

Gunakan sistem filtrasi yang mampu menangani ukuran akuarium dan jumlah kura-kura yang dipelihara. Air juga perlu diganti secara berkala dan sisa makanan yang tidak habis sebaiknya segera dibersihkan.

VCA menyatakan air bersih merupakan faktor penting bagi kesehatan kura-kura dan merekomendasikan sistem filtrasi serta penggantian air secara rutin. 

Hal ini juga didukung oleh penelitian eksperimental. Studi dalam Chemosphere pada red-eared slider menunjukkan bahwa paparan amonia dalam air dapat merusak struktur usus, meningkatkan respons inflamasi, dan mengubah mikrobiota usus. 

Artinya, jangan menunggu air terlihat sangat kotor atau berbau sebelum membersihkan akuarium.

3. Perhatikan suhu air dan area basking

Karena termasuk hewan ektotermik, kura-kura membutuhkan gradien suhu sehingga dapat berpindah antara area hangat dan lebih sejuk sesuai kebutuhannya.

Sebagai kisaran acuan, VCA menyebut suhu air untuk aquatic turtle sekitar 24–29°C, sedangkan area basking dapat berada pada kisaran sekitar 24–31°C dan harus dipantau menggunakan termometer. 

Merck Veterinary Manual juga menempatkan red-eared slider dalam preferred optimal temperature zone sekitar 22–27°C dengan area basking secara umum sekitar 5°C lebih hangat. 

Adanya sedikit perbedaan kisaran antar panduan menunjukkan bahwa suhu sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan satu angka. Usia, kondisi kesehatan, desain habitat, dan jenis alat pemanas juga dapat memengaruhi kebutuhan masing-masing hewan.

4. Pastikan kura-kura mendapatkan UVB

Lampu untuk kura-kura bukan sekadar membuat akuarium terlihat terang.

Red-eared slider membutuhkan paparan sinar UVB untuk mendukung pembentukan vitamin D3 dan metabolisme kalsium. Kekurangan UVB dapat meningkatkan risiko gangguan tulang dan tempurung, termasuk metabolic bone disease. 

Kebutuhan ini juga didukung oleh penelitian veteriner langsung pada spesies tersebut.

Sebuah penelitian dalam American Journal of Veterinary Research membandingkan red-eared slider muda yang mendapatkan tambahan paparan ultraviolet dengan kelompok tanpa pencahayaan tambahan. Setelah empat minggu, konsentrasi 25-hydroxyvitamin D3 pada kelompok yang mendapatkan UV secara signifikan lebih tinggi. 

Para peneliti menyimpulkan bahwa pemeliharaan red-eared slider sebaiknya mencakup paparan sinar matahari yang tidak terhalang penyaring UVB. Jika tidak, pertimbangkan sumber UVB buatan. 

Perhatikan juga bahwa kaca dan plastik dapat menghalangi sebagian UVB. Jadi, meletakkan akuarium di dekat jendela tidak otomatis menggantikan kebutuhan pencahayaan UVB yang tepat. 

5. Berikan makanan yang bervariasi dan seimbang

Makanan kura-kura Brazil sebaiknya disesuaikan dengan usia serta kebutuhan nutrisinya.

Pakan komersial yang diformulasikan untuk aquatic turtle dapat menjadi bagian dari pola makan. Makanan kemudian dapat dikombinasikan dengan sayuran berdaun hijau serta sumber protein hewani yang sesuai.

Kura-kura muda umumnya membutuhkan proporsi protein hewani lebih besar dibandingkan kura-kura dewasa. Sementara itu, porsi tumbuhan menjadi semakin penting ketika kura-kura bertambah usia. 

Hindari menjadikan daging ayam atau daging mentah sebagai makanan utama. VCA menjelaskan bahwa daging mentah tidak memiliki keseimbangan kalsium dan fosfor yang sesuai untuk kura-kura. Diet yang sebagian besar hanya berisi ikan juga berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi. 

6. Jaga kebersihan setelah menyentuh kura-kura

Ada satu hal yang penting diketahui pemilik, terutama bila terdapat anak kecil di rumah.

Kura-kura dan reptil lainnya dapat membawa bakteri Salmonella meskipun terlihat sehat dan bersih. Bakteri dapat berada pada tubuh hewan, kotoran, air akuarium, dan benda-benda yang bersentuhan dengan habitatnya. 

Penelitian Frontiers in Veterinary Science pada 72 kura-kura peliharaan pada 2026 juga menemukan Salmonella dari sampel kloaka, tempurung, maupun air lingkungan, memperkuat pentingnya kebersihan saat memelihara kura-kura. 

Selalu cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah menyentuh kura-kura, makanannya, atau membersihkan akuarium.

Sebaiknya jangan membersihkan peralatan akuarium di area yang digunakan untuk menyiapkan makanan. Hindari pula mencium kura-kura atau menyentuh mulut setelah memegangnya. 

7. Perhatikan kondisi tubuh dan perilakunya

Kura-kura memang tidak menunjukkan sakit dengan cara yang sama seperti anjing atau kucing. Pemilik perlu memperhatikan perubahan kecil dari kebiasaannya.

Bawa kura-kura ke dokter hewan yang memahami reptil jika Anda menemukan tanda seperti tidak mau makan, tubuh sangat pasif, mata membengkak atau terus menutup, keluar cairan atau gelembung dari hidung, berenang tidak normal, luka pada tubuh, atau perubahan bentuk dan kekerasan tempurung.

Gangguan mata, pertumbuhan tempurung yang tidak normal, penyakit tulang metabolik, infeksi, dan masalah nutrisi termasuk masalah yang dapat ditemukan pada kura-kura peliharaan. 

VCA juga menyarankan aquatic turtle seperti kura-kura brazil mendapatkan pemeriksaan rutin oleh dokter hewan yang memahami reptil. 

Jangan melepas kura-kura Brazil ke alam

Jika suatu saat tidak mampu lagi merawat kura-kura Brazil, jangan melepaskannya ke sungai, danau, taman kota, atau perairan lainnya.

Red-eared slider merupakan salah satu spesies yang telah tersebar luas di luar habitat aslinya akibat perdagangan hewan peliharaan dan pelepasan hewan ke alam. Di sejumlah wilayah, spesies ini dapat berkompetisi dengan kura-kura lokal.

Risiko tersebut juga relevan di Indonesia.

Penelitian IPB terhadap kura-kura Brazil yang diperdagangkan di Bogor mengidentifikasi sampel secara molekuler sebagai Trachemys scripta elegans dan menyimpulkan bahwa hewan tersebut berpotensi menjadi invasif apabila dilepaskan secara bebas ke perairan.

Jika sudah tidak dapat memeliharanya, pilihan yang lebih bertanggung jawab adalah mencari pemilik baru atau menghubungi komunitas, dokter hewan, maupun organisasi yang dapat membantu proses rehoming.

Kesimpulan

Kura-kura Brazil atau Trachemys scripta elegans merupakan kura-kura semiakuatik yang dapat tumbuh cukup besar dan hidup selama puluhan tahun.

Perawatannya membutuhkan lebih dari sekadar akuarium berisi air. Kura-kura membutuhkan ruang berenang yang luas, area basking yang kering, suhu yang terkontrol, UVB, air bersih dengan filtrasi yang baik, serta makanan yang seimbang sesuai usianya.

Perhatikan juga kebersihan setelah memegang kura-kura karena reptil dapat membawa Salmonella tanpa terlihat sakit. Jika muncul perubahan pada nafsu makan, mata, pernapasan, perilaku berenang, atau tempurung, konsultasikan dengan dokter hewan yang menangani reptil.

Terakhir, jangan melepaskan kura-kura Brazil peliharaan ke alam karena spesies introduksi ini dapat bertahan dan berpotensi mengganggu ekosistem lokal.

medical
Hello Sehat Medical Review Team
Ditinjau secara medis oleh
Kesehatan · None
Ditulis oleh Wicak Hidayat · Tanggal diperbarui 3 jam lalu