brand logo
Kategori
Cek Kesehatan
Komunitas
Booking Dokter

Iklan

Bagikan

Hidup Lebih Ringan: Obesitas, Kesehatan Mental, dan Kualitas Hidup

Obesitas bukan sekadar persoalan angka di timbangan. Kondisi ini merupakan penyakit kronis kompleks yang dapat memengaruhi kesehatan fisik, mental, hingga kualitas hidup seseorang. Bahkan, hubungan obesitas dan kesehatan mental ternyata berjalan dua arah sehingga keduanya perlu mendapatkan perhatian dalam proses penanganannya.

Hidup Lebih Ringan: Obesitas, Kesehatan Mental, dan Kualitas Hidup

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hal tersebut, Novo Indonesia meluncurkan kampanye Hidup Lebih Ringan pada Kamis (5/11/2026) di Jakarta. Kampanye ini mengajak masyarakat melihat pengelolaan obesitas secara lebih menyeluruh.

Melalui diskusi media bertajuk Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental, sejumlah pakar turut membahas faktor psikologis, biologis, hingga pentingnya pendampingan tenaga kesehatan profesional dalam mengelola obesitas.

Obesitas dan kesehatan mental saling memengaruhi

novo indonesia hidup lebih ringan

Dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, menjelaskan bahwa obesitas dan kesehatan mental memiliki hubungan dua arah. Artinya, obesitas dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang, sedangkan gangguan kesehatan mental juga dapat menjadi faktor risiko obesitas.

Salah satu faktor yang berperan adalah peradangan atau inflamasi sistemik yang berkaitan dengan obesitas. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, termasuk depresi.

Selain itu, orang dengan obesitas mungkin mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tertentu. Padahal, aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental dan membantu mencegah perburukan gejala kecemasan maupun depresi.

Sebaliknya, kondisi kesehatan mental yang menurun juga dapat memengaruhi perilaku sehari-hari. Sebagian orang mungkin mencari cara cepat untuk mengatasi stres atau emosi negatif, misalnya melalui stress eating. Stres juga dapat memengaruhi hormon yang berkaitan dengan nafsu makan dan pengelolaan berat badan.

Di luar faktor biologis, stigma terhadap berat badan turut menambah beban psikologis. Komentar negatif mengenai bentuk tubuh, diskriminasi, hingga ketakutan akan penilaian orang lain dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Menurut dr. Putri, stigma tidak selalu datang dari orang lain. Ada pula stigma yang sudah diantisipasi seseorang sebelum benar-benar mengalaminya, serta penilaian negatif terhadap tubuh yang muncul dari diri sendiri.

Pengalaman tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman membicarakan berat badannya, termasuk ketika ingin mencari bantuan medis. Padahal, komentar yang bermaksud memotivasi seseorang untuk menurunkan berat badan justru bisa menjadi kontraproduktif apabila disampaikan dengan cara menghakimi.

Hal ini menjadi penting mengingat studi ACTION APAC Indonesia menunjukkan bahwa hanya sekitar 3 dari 10 responden dengan obesitas pernah mendiskusikan berat badan mereka dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir.

Salah satu hambatannya adalah anggapan bahwa penurunan berat badan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Sebagian orang juga khawatir pembicaraan mengenai berat badan akan terasa sensitif atau membuat mereka mendapatkan penilaian negatif.

Oleh karena itu, dr. Putri menekankan pentingnya memahami setiap individu secara utuh. Kondisi tubuh seseorang tidak dapat digunakan untuk menilai kesehatan mental, karakter, maupun kualitas dirinya.

Peran otak dalam mengatur perilaku makan

Selain faktor psikologis, perilaku makan juga dipengaruhi oleh mekanisme biologis di dalam tubuh, terutama sistem saraf dan hormon yang mengatur rasa lapar serta kenyang.

Dr. Putri menjelaskan bahwa perilaku makan tidak sesederhana keputusan seseorang untuk makan lebih sedikit atau menahan diri dari makanan. Ada berbagai mekanisme di otak yang turut memengaruhi keinginan makan, termasuk sistem penghargaan atau reward system.

Ketika seseorang mengalami stres atau suasana hati yang buruk, neurotransmiter seperti dopamin, opioid, dan kanabinoid dapat berperan dalam mendorong perilaku hedonic eating, yaitu keinginan makan untuk mendapatkan rasa nyaman atau kepuasan.

Kondisi kesehatan mental dan penggunaan obat-obatan psikiatri tertentu juga dapat memengaruhi mekanisme hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Dengan demikian, pendekatan seperti eat less, move more saja belum tentu cukup untuk mengatasi obesitas. 

Pengelolaannya perlu mempertimbangkan keseimbangan hormon lapar dan kenyang, sistem penghargaan di otak, serta intervensi perilaku yang sesuai dengan kebutuhan individu. Selain itu, motivasi positif juga cenderung lebih efektif untuk mempertahankan perubahan perilaku.

Menurut dr. Putri, seseorang yang ingin menurunkan berat badan karena mencintai dan ingin menjaga kesehatannya cenderung memiliki motivasi yang lebih berkelanjutan dibandingkan mereka yang terdorong oleh rasa tidak suka terhadap tubuhnya atau takut mendapat komentar negatif.

Motivasi untuk menurunkan berat badan akan lebih bertahan lama jika didasari hal positif, seperti keinginan menjaga kesehatan karena mencintai tubuh sendiri. Sebaliknya, motivasi karena takut sindiran atau tidak menyukai bentuk tubuh cenderung tidak bertahan lama. Karena itu, self-compassion dan self-acceptance penting sebagai fondasi dalam mengelola berat badan.

dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ

Mengapa menurunkan berat badan tidak selalu mudah?

Dokter spesialis gizi klinik, dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, menjelaskan bahwa tubuh memiliki mekanisme biologis yang dapat membuat penurunan berat badan sulit dipertahankan.

Pada orang dengan obesitas, peningkatan jaringan lemak dapat memicu peradangan dan mengganggu kerja sejumlah hormon yang berperan dalam metabolisme, termasuk insulin, leptin, dan hormon pengatur nafsu makan lainnya.

Akibatnya, sinyal kenyang tidak selalu bekerja secara optimal. Seseorang bisa tetap merasa lapar meskipun sudah makan dalam jumlah cukup.

Tantangan lainnya muncul setelah berat badan berhasil turun. Tubuh dapat merespons penurunan berat badan dengan meningkatkan rasa lapar dan mengubah penggunaan energi. Hal ini membuat seseorang lebih sulit mempertahankan berat badan yang sudah dicapai.

Dr. Christopher juga mengingatkan bahwa diet terlalu ketat bukan solusi ideal. Penurunan berat badan yang terlalu cepat dapat menyebabkan hilangnya massa otot, selain lemak dan cairan tubuh.

Jika massa otot ikut berkurang, metabolisme tubuh dapat terpengaruh dan risiko kenaikan berat badan kembali menjadi lebih besar. Oleh karena itu, pengelolaan obesitas perlu memperhatikan empat pilar berikut.

  1. Nutrisi: mengatur jenis, jumlah, dan jadwal makan dengan komposisi gizi seimbang.
  2. Aktivitas fisik: melakukan olahraga atau aktivitas fisik secara teratur sesuai kemampuan tubuh.
  3. Pengelolaan stres: menjaga kesehatan mental agar stres tidak terus memengaruhi pola makan dan kebiasaan sehari-hari.
  4. Tidur cukup: memenuhi kebutuhan tidur karena kurang tidur dapat memengaruhi hormon stres dan nafsu makan.

Keempat komponen tersebut perlu berjalan beriringan agar perubahan gaya hidup dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Pengelolaan obesitas membutuhkan pendekatan individual

diagnosis obesitas penunjang pada anak

Obesitas bukan hanya persoalan estetika, melainkan penyakit yang membutuhkan penanganan medis. Peningkatan lemak tubuh dapat berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti resistensi insulin, prediabetes, tekanan darah tinggi, dan gangguan kolesterol.

Menurut dr. Christopher, pilihan penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi klinis dan kebutuhan setiap individu. Pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama, tetapi sebagian orang mungkin membutuhkan dukungan tambahan.

Pendekatan tersebut dapat mencakup intervensi nutrisi terstruktur, pendampingan psikologis dan perilaku, terapi obat, hingga prosedur medis seperti bedah bariatrik.

Salah satu pilihan terapi obat adalah glucagon-like peptide-1 receptor agonist (GLP-1 RA). Terapi ini bekerja menyerupai hormon alami yang membantu mengatur rasa lapar dan kenyang. Mekanismenya antara lain dengan mengurangi rasa lapar dan keinginan makan, sekaligus meningkatkan rasa kenyang.

Namun, penggunaan obat bukanlah jalan pintas untuk menurunkan berat badan. Terapi GLP-1 RA termasuk obat keras yang harus digunakan berdasarkan resep dan pemantauan dokter, dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, serta kemungkinan efek samping.

Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat angka timbangan turun, melainkan mencapai quality weight loss, yaitu penurunan berat badan yang tetap memperhatikan komposisi tubuh, mempertahankan massa otot, dan memperbaiki kesehatan metabolik.

Pentingnya akses informasi dan pendampingan medis 

Untuk mendukung masyarakat memulai pengelolaan obesitas, Novo Indonesia menghadirkan kampanye Hidup Lebih Ringan sebagai bagian dari upaya meningkatkan edukasi dan mengurangi stigma terhadap orang dengan obesitas.

Dr. Riyanny M. Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, menjelaskan bahwa akses terhadap informasi medis yang tepat menjadi salah satu hal penting dalam membantu masyarakat mengambil keputusan terkait kesehatannya.

Melalui platform NovoCare.id, masyarakat dapat mengakses informasi tervalidasi seputar obesitas, menggunakan kalkulator indeks massa tubuh (BMI), serta menemukan dokter spesialis untuk konsultasi secara daring maupun tatap muka.

Platform ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang masih bingung menentukan langkah awal dalam mengelola berat badan. Meski demikian, informasi di dalamnya tetap tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan profesional karena kebutuhan dan kondisi setiap individu dapat berbeda.

Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan obesitas tidak seharusnya hanya dilihat dari berapa kilogram berat badan yang berhasil diturunkan. Kualitas tidur yang membaik, aktivitas sehari-hari yang lebih nyaman, kesehatan metabolik yang terjaga, hingga kesejahteraan mental juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Melalui kampanye Hidup Lebih Ringan, Novo Indonesia mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap obesitas: bukan sebagai kegagalan pribadi yang perlu dihakimi, melainkan kondisi kesehatan yang membutuhkan pemahaman, dukungan, dan penanganan yang tepat.

medical
Hello Sehat Medical Review Team
Ditinjau secara medis oleh
Kesehatan · None
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari · Tanggal diperbarui kemarin