Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa usia ayah ketika istrinya hamil ikut menentukan perkembangan dan kesehatan bayinya kelak. Namun, penelitian terbaru tahun 2017 menunjukkan bahwa ternyata umur ayah berpengaruh cukup kuat pada perkembangan sosial anak ketika ia tumbuh besar nanti. Bagaimana kedua hal ini bisa saling berkaitan dan seberapa besar pengaruhnya? Langsung simak ulasan lengkap berikut ini, ya.  

Hubungan usia ayah dan kesehatan bayi

Selama ini, para tenaga kesehatan lebih banyak memfokuskan pengaruh usia dan kondisi kesehatan ibu terhadap perkembangan bayi. Padahal, sudah banyak bukti kalau umur ayah juga memiliki dampak tertentu bagi perkembangan dan kesehatan bayi.

Bayi yang lahir dari ayah dengan usia di atas empat puluh tahun lebih berisiko mengalami gangguan atau kecacatan. Menurut berbagai penelitian, gangguan bisa terjadi karena semakin bertambahnya usia, kualitas sperma seseorang akan berubah. Hal ini diakibatkan oleh mutasi genetik yang terjadi dalam tubuh laki-laki seiring pertambahan usia.

Maka, bayi yang lahir dari ayah berusia paruh baya atau lanjut lebih rentan mengalami hal-hal di bawah ini.

  • Keguguran
  • Autisme
  • Skizofrenia
  • Bayi lahir cacat  

Hubungan antara umur ayah dan perkembangan sosial anak

Selain gangguan pada kondisi fisik, umur ayah rupanya juga menentukan perkembangan sosial seorang anak. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (JAACP), anak yang lahir dari ayah berusia di atas 51 tahun cenderung menunjukkan perilaku sosial yang baik ketika masih kanak-kanak.

Akan tetapi, saat memasuki usia remaja, anak cenderung lebih sulit untuk menyesuaikan diri dalam berbagai situasi sosial. Padahal, anak-anak yang diamati dalam penelitian ini tidak mengidap autisme atau skizofrenia.

Lebih jauh, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa semakin beranjak dewasa, tantangan yang dialami anak dalam bersosialisasi tampak semakin nyata. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan perkembangan sosial antara anak yang lahir dari ayah berusia 25-50 tahun dengan anak yang lahir dari ayah berusia 51 tahun ke atas.

Penelitian ini telah mempertimbangakan faktor lainnya seperti tingkat pendidikan, etnis, ras, serta umur ibu ketika pembuahan terjadi. Namun, hasilnya tetap menunjukkan bahwa umur ayahlah yang bisa memengaruhi perkembangan sosial anak.

Pola asuh dan faktor genetik sama-sama berperan penting

Sampai saat ini penelitian soal umur ayah dan pengaruhnya terhadap perkembangan sosial anak masih terbatas. Para ahli membutuhkan lebih banyak data sebelum menyimpulkan bagaimana tepatnya umur ayah berdampak sedemikian rupa.

Sejauh ini dugaan terkuat dari peneliti yaitu kualitas sperma yang menurun bisa berdampak pada kesehatan otak dan mental anak. Inilah mengapa anak dari ayah yang berusia paruh baya lebih rentan mengalami autisme dan skizofrenia.

Namun, menurut para ahli faktor mutasi genetik dari sperma ayah bukan satu-satunya penyebab perkembangan sosial anak terhambat. Pasalnya, pola asuhan anak juga berperan penting dalam pembentukan karakter seseorang.

Dijelaskan oleh seorang ahli kesehatan jiwa dari Mount Sinai School of Medicine di Amerika Serikat, Avraham Reichenberg, lingkungan dan pola asuh mampu mengaktifkan atau menonaktifkan gen-gen tertentu dalam diri anak.  

Bukan berarti punya anak di atas usia 40 tahun itu bahaya

Para dokter dan ahli kesehatan mengingatkan bahwa hasil penelitian ini sebaiknya tidak dianggap sebagai larangan punya anak di usia paruh baya. Lagipula dampak yang diamati dalam penelitian ini juga bukan harga mati. Setiap anak tentu berbeda dan punya tantangannya masing-masing.

Meski demikian, tak ada salahnya untuk berkonsultasi dulu dengan dokter kandungan sebelum Anda dan pasangan memutuskan untuk punya anak di atas usia 35-40 tahun.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca