Kecanduan seks juga dikenal sebagai gangguan hiperseksual. Hal ini ditandai oleh pemikiran dan tindakan seksual yang terjadi secara terus-menerus, meningkat, dan berdampak negatif terhadap kehidupan seseorang yang mengalaminya.

Biasanya, orang yang kecanduan seks berjuang untuk mengendalikan serta menunda hasrat dan tindakan seksualnya. Kebanyakan para pecandu seks tidak tahu bagaimana mencapai keintiman dan kepuasan sejati, padahal hal tersebut bisa membangun keterikatan satu sama lain dengan pasangan mereka.

Tanda-tanda seseorang mengalami kecanduan seks

Orang yang kecanduan seks, biasanya bisa mengekspresikan dirinya dalam banyak hal, jadi Anda perlu mencari berbagai kemungkinan tanda dan peringatan bahwa mungkin saja Anda atau  pasangan Anda adalah pecandu seks.

Kathryn A. Cunningham, PhD, direktur Center for Addiction Research di University of Texas Medical Branch di Galveston, mengidentifikasi beberapa tanda-tanda dan perilaku kecanduan hal berbau seksual sebagai berikut:

  • Segala hal tentang seks mendominasi kehidupan Anda, dan dengan mudahnya akan mengesampingkan aktivitas lain.
  • Anda suka melakukan seks lewat telepon (telepon dan chatting), seks online di komputer, sering berhubungan seks dengan PSK, menyenangi hal berbau pornografi, atau bahkan bangga memperlihatkan kelamin Anda depan banyak orang (eksibisionisme).
  • Anda suka bermasturbasi, dan sering melakukannya
  • Anda punya banyak pasangan seksual
  • Dalam kasus yang ekstrim, Anda terlibat kegiatan kriminal berbau seks, termasuk menguntit, memperkosa, atau bahkan melakukan seks inses.

Apa yang menjadi penyebab seseorang kecanduan seks?

Banyak para pecandu seks yang mengatakan bahwa mereka terbentuk akibat adanya  beberapa bentuk pelecehan atau diabaikan saat masih anak-anak. Seiring berjalannya waktu, mereka menganggap diri mereka sudah kehilangan arah atau rusak.

Selain itu, bawaan genetika juga bisa memengaruhi penyebab seseorang menjadi pencandu seks. Misalkan, orang tua mereka mungkin telah melakukan hubungan seks dengan pecandu atau mungkin pernah menjadi pecandu seks dahulunya. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik dan lingkungan mungkin berperan menjadi penyebab. Adanya stress dan rasa sakit emosional juga memicu perilaku seksual kompulsif.

Terapi untuk menyembuhkan kecanduan seks

Jika seseorang menderita hiperseksualitas alias kecanduan seks, ia memerlukan konseling di bidang kecanduan. Kecanduan seks ini merupakan satu situasi jelas di mana seseorang butuh bantuan terapis, komunitas untuk berbagi, dan bahkan buku motivasi untuk sembuh. Pada akhirnya, tidak ada orang lain yang bisa membuat pecandu seks sembuh, tapi hanya dirinya sendirilah yang bisa mendorong dan bertindak untuk sembuh.

Ada beberapa pilihan pengobatan untuk orang yang kecanduan seks, antara lain seperti berikut ini:

1. Terapi individu

Anda harus meluangkan waktu sekitar 30-60 menit dengan terapis kesehatan mental. Di sini, Anda dan terapis akan fokus pada perilaku seksual Anda yang kompulsif serta gangguan yang terjadi bersamaan.

2. Cognitive-Behavioral Therapy (CBT)

Terapi CBT ini akan mengedepankan pada gagasan yang menyimpulkan bahwa perilaku, emosi,serta pikiran Anda saling terkait dan bekerja untuk mengubah pikiran negatif menjadi pemikiran positif.

3. Terapi psikodinamik

Terapi ini, mengaitkan adanya kenangan dan konflik yang tidak disadari mempengaruhi perilaku kecanduan seksual Anda. Terapi psikodinamik ini akan mengungkap pengaruh awal masa kanak-kanak tentang kebiasaan saat ini atau faktor sekarang yang memicu hal terhadap kecanduan seks saat ini

4. Dialectical-Behavioral Therapy (DBT)

Terapi ini, pada dasarnya terdiri dari 4 bagian, yaitu kelompok melatih keterampilan, perawatan individual, pembinaan DBT, dan konsultasi. Keempat tahapan ini dirancang untuk mengajarkan empat keterampilan: kewaspadaan, toleransi bahaya, efektivitas interpersonal, dan mengatur emosi pecandu.

5. Terapi kelompok

Terapi kelompok ini akan dipimpin oleh terapis profesional. Terapi kelompok dirancang untuk menggantikan perilaku negatif dan merugikan dengan perilaku pro-sosial yang positif. Praktik terapi ini juga memberi  para pecandu keyakinan, bahwa dia tidak sendiri dan bisa saling mendukung satu sama lain untuk sembuh.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca