Parfum Pheromone: Cuma Hoax Atau Benar Ampuh Menarik Lawan Jenis?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 17 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Belakangan ini, marak bermunculan produk yang disebut-sebut sebagai parfum pheromone atau feromon. Parfum ini diklaim mengandung hormon feromon yang dapat menarik lawan jenis. Kepopuleran parfum ini di media sosial menimbulkan pertanyaan, apa benar feromon dapat menarik lawan jenis? Artikel ini akan memaparkan seputar feromon, fungsinya, serta keberadaannya di dalam tubuh manusia.

Apa itu feromon?

Feromon atau pheromone adalah zat kimia yang dihasilkan dari tubuh hewan. Zat kimia ini merupakan senyawa alami yang dilepaskan tubuh dan memiliki berbagai fungsi.

Zat feromon sering diartikan sebagai zat pengubah perilaku karena bisa merangsang gairah seksual pada spesies sejenis.

Ya, fungsi feromon pada hewan tak hanya untuk memancing gairah seks pada musim kawin, namun juga mengklaim daerah teritori, membela diri dari hewan lain, serta mengatur fungsi tubuh lainnya.

Setiap hewan memiliki aroma pheromone yang khas dan berbeda-beda. Para ilmuwan percaya bahwa zat kimia ini merupakan salah satu sarana komunikasi pada hewan yang mampu memunculkan respons perilaku spesiesnya secara langsung. 

Misalnya, ngengat sutra betina melepaskan jejak molekul bombykol yang secara tidak langsung menarik ngengat laki-laki hingga mereka menemukannya dan bisa bereproduksi.

Ada 4 jenis feromon, yaitu:

  • Signaler pheromone: berperan dalam proses induk mengenali bayinya yang baru lahir
  • Modulator pheromone: mengubah atau menjalankan fungsi-fungsi tubuh, salah satunya siklus menstruasi
  • Releaser pheromone: digunakan sebagai daya tarik seksual
  • Primer pheromone: berdampak pada kinerja tubuh, mulai dari kehamilan, pubertas, menstruasi, bahkan memengaruhi jumlah hormon pada makhluk hidup lain

Apakah manusia juga menghasilkan hormon ini?

adegan seks dari porno

Sudah diketahui bahwa feromon memiliki beragam fungsi pada tubuh hewan. Namun, yang masih menjadi pertanyaan adalah mengenai keberadaan hormon ini pada manusia, serta fungsinya pada tubuh manusia.

Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan apakah manusia benar-benar memiliki feromon atau tidak, dan seperti apa persisnya struktur zat tersebut. 

Para ahli melakukan berbagai penelitian untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan tersebut. Hasilnya, hingga saat ini belum ada bukti yang kuat mengenai keberadaan hormon tersebut pada tubuh manusia.

Akan tetapi, beberapa penelitian mengungkapkan bahwa manusia mungkin memiliki hormon yang bekerja serupa dengan feromon pada hewan.

Salah satu studi yang mengkaji fenomena ini terdapat di jurnal Plos One. Dari studi tersebut, ditemukan bahwa androstadienone, salah satu komponen keringat pria, bisa meningkatkan ketertarikan, memengaruhi suasana hati, serta kadar kortisol pada lawan jenis.

Ditambah lagi, androstadienone juga diyakini berdampak positif pada perilaku kerja sama antar sesama pria.

Fenomena yang serupa juga ditemukan pada tubuh wanita. Menurut sebuah penelitian dari Natural Product Communications, sekelompok wanita yang mencium bau keringat dari wanita lain mengalami perubahan pada siklus menstruasinya, tergantung pada kondisi dari wanita yang dicium baunya.

Meski demikian, belum bisa dipastikan apakah perubahan siklus haid tersebut memang benar ada kaitannya dengan bau yang dikeluarkan tubuh atau ada faktor pendukung lainnya.

Banyak ahli yang percaya bahwa androstadienone pada pria dan estratetraenol pada wanita merupakan senyawa yang serupa dengan feromon.

Androstadienone pada pria diproduksi di kelenjar keringat serta testis, sedangkan estratetraenol terkandung pada urine wanita.

Walaupun begitu, zat kimia alami yang dilepaskan oleh tubuh manusia ini belum bisa dipastikan sebagai feromon karena strukturnya terlalu rumit untuk bisa digolongkan sebagai zat tersebut.

Benarkah manusia bisa menarik lawan jenis dengan feromon?

posisi seks doggy style

Untuk serangga dan organisme kecil lainnya, pheromone adalah aroma yang bisa mereka deteksi untuk membantu mereka berkomunikasi satu sama lain.

Sementara itu, mamalia dan reptil mencium feromon dengan bantuan area sensoris kecil yang terletak di dalam hidung. Area tersebut dikenal sebagai organ vomeronasal (VNO).

Organ vomeronasal juga sebenarnya ditemukan pada tubuh manusia. Namun, para ahli meyakini bahwa VNO tidak berpengaruh besar pada penciuman manusia.

Walaupun feromon pada manusia masih diperdebatkan keberadaannya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa reaksi manusia terhadap senyawa tersebut berbeda dari hewan.

Manusia tidak mampu mendeteksi zat kimia tubuh yang dikeluarkan orang lain, sehingga tidak ada bau yang nyata yang dirasakan. Selain itu, sejauh mana tubuh manusia merespons sinyal ini juga masih dipertanyakan.

Sebuah studi dari Royal Society Open Science melibatkan partisipan pria dan wanita untuk menilai apakah feromon berpengaruh pada bagaimana mereka menilai jenis kelamin seseorang, serta ketertarikan mereka terhadap lawan jenis.

Studi tersebut meminta partisipan mencium 3 aroma yang berbeda, yaitu aroma netral, androstadienone, serta estratetraenol. Kemudian, para partisipan diminta untuk melihat berbagai foto wajah manusia dan menilai jenis kelaminnya, daya tariknya, serta kemungkinan si pemilik wajah untuk berselingkuh dalam hubungan.

Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata, tidak ada bukti bahwa kedua senyawa tersebut memengaruhi penilaian manusia terhadap daya tarik lawan jenisnya.

Lalu, bagaimana dengan pengaruh feromon pada gairah seks? Penelitian lain dari jurnal Facts, Views, and Vision in ObGyn mencari tahu apa dampak hormon androstadienone pria terhadap wanita.

Dalam studi tersebut, peneliti mengoleskan sedikit dosis androstadienone pada area bibir atas wanita. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah mencium senyawa tersebut akan berpengaruh pada gairah seks wanita atau tidak.

Ternyata, mengendus aroma androstadienone dapat meningkatkan suasana hati serta mempertajam fokus pada wanita, khususnya untuk menangkap informasi yang bersifat emosional pada lawan jenis.

Secara tidak langsung, suasana hati yang baik berkaitan erat dengan respon seksual pada wanita. Sementara itu, peningkatan fokus juga berdampak positif pada kepuasan seksual wanita.

Tak berhenti sampai di situ, senyawa androstadienone juga kemungkinan berperan besar dalam bagaimana wanita menilai daya tarik pria.

Kendati demikian, efek androstadienone mungkin akan bergantung pada faktor lain, misalnya apakah pria pemilik senyawa tersebut ada di dekat wanita atau tidak.

Hasil penelitian yang berbeda-beda ini tentunya menimbulkan perdebatan mengenai keberadaan feromon alami pada manusia serta keefektifannya untuk menarik lawan jenis.

Sejauh ini, belum ada penelitian yang benar-benar menyepakati ada atau tidaknya hormon ini di manusia, serta cara kerjanya untuk menjalankan fungsi-fungsi tubuh.

Kesimpulan mengenai feromon pada manusia

Intinya, terlepas dari ada atau tidaknya feromon pada tubuh manusia, pada dasarnya manusia tidak bertindak atau menjalankan fungsi-fungsi tubuhnya dengan bermodalkan indra penciuman saja.

Manusia dan hewan sangatlah berbeda. Jika hewan secara alamiah akan bereaksi terhadap bau, manusia tidak sesederhana itu.

Berkat kapasitas otak yang begitu besar dan cara kerjanya yang rumit, indra penciuman berperan sangat sedikit terhadap perilaku serta fungsi-fungsi tubuh manusia.

Keberadaan hormon memang berpengaruh pada seksualitas manusia, tetapi faktor lain seperti penglihatan, pendengaran, bahkan kondisi kesehatan memegang peran yang lebih besar.

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

8 Kesalahan yang Tanpa Disadari Bisa Bikin Kondom Sobek

Kondom ampuh mencegah kehamilan dan penularan penyakit seksual jika digunakan dengan tepat. Tapi hati-hati, kesalahan kecil saja bisa bikin kondom sobek.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Seksual, Tips Seks 1 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

Benarkah Wanita Berbulu Lebat Nafsu Seksnya Tinggi?

Yang jelas, bulu alias rambut halus yang lebat ini diakibatkan tingginya hormon testosteron. Tapi apakah ini berarti nafsu seksualnya juga lebih tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Satria Perdana
Kesehatan Seksual, Tips Seks 25 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Harus Berapa Kali Berhubungan Seks dalam Seminggu agar Tetap Intim?

Seks menjadi salah satu pondasi utama menjaga kelanggengan rumah. Sebaiknya, harus berapa kali sehari melakukan hubungan intim dalam seminggu?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Tips Seks 24 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Disfungsi Seksual

Ketidakpuasan saat melakukan aktivitas seks bisa karena seseorang mengalami disfungsi seksual. Cari tahu informas selengkapnya di sini, ya!

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Tips Seks 24 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pijat payudara

Buat Para Suami, Ini 7 Tips Pijat Payudara untuk Seks yang Lebih Panas

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit
penyebab air mani berdarah

Apa yang Menyebabkan Air Mani Bercampur Darah?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
bdsm adalah

BDSM, Praktik Seksual yang Melibatkan Permainan Peran dan Kekerasan

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 7 menit
hubungan intim di malam hari

3 Manfaat Berhubungan Seks Sebelum Tidur di Malam Hari

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit