Olahraga Setelah Stroke Bisa Meningkatkan Fungsi Otak Pasien

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Penyakit stroke adalah penyakit yang terjadi akibat terganggunya aliran darah ke otak – entah akibat pembuluh darah tersumbat atau pecah – yang kemudian menyebabkan otak tidak berfungsi dengan baik. Menurut data World Health Organization, setiap tahunnya terdapat 15 juta orang yang terkena stroke, di mana 6 juta di antaranya meninggal dunia dan sisanya mengalami kelumpuhan dan gangguan fungsi kognitif.

Sampai saat ini belum ada obat yang dapat mengatasi penurunan kemampuan kognitif pada pasien stroke. Namun jangan khawatir, para ahli menyatakan jika olahraga setelah stroke dapat membantu memulihkan hal tersebut.

Olahraga setelah stroke membantu meningkatkan fungsi kognitif pasien

Sebuah penelitian menyatakan bahwa sebanyak 85% pasien stroke akan mengalami gangguan terhadap kemampuan kognitifnya, termasuk susah untuk fokus, mengingat, dan berpikir. Dari masalah tersebut para ahli mencoba untuk menemukan solusinya. Salah satu solusi yang telah ditemukan adalah membiasakan olahraga pada pasien yang telah mengalami stroke.

Sebuah penelitian yang telah dipresentasikan pada American Stroke Association’s International Stroke Conference 2017 terdiri dari 13 percobaan. Dari ke-13 penelitian  ini ada sebanyak 735 orang yang telah sukses melewati stroke. Namun, rata-rata mereka semua mengalami gangguan kognitif, seperti susah mengingat dan berpikir. Kemudian peneliti meminta para peserta untuk melakukan olahraga rutin selama 12 minggu atau sekitar 3 bulan. lalu di akhir penelitian, para ahli mencoba untuk mengetes kembali fungsi kognitif dari masing-masing peserta.

Hasilnya, olahraga setelah stroke terbukti ampuh untuk meningkatkan kemampuan kognitif pasien. Mereka kembali dapat fokus, berpikir, dan mengingat secara normal, sesuai dengan kemampuan mereka sebelumnya.

Mengapa olahraga bisa memulihkan kembali fungsi kognitif pasien?

Hal ini sebenarnya bukan temuan baru dan tidak terlalu mengejutkan jika olahraga dapat membuat fungsi kognitif meningkat. Olahraga setelah stroke bisa meningkatkan fungsi otak kembai normal karena olahraga memengaruhi hormon dan merubah beberapa hal di dalam tubuh pasien.

Jadi begini, olahraga yang dilakukan pasien akan merangsang sel-sel saraf yang sebelumnya pasif menjadi aktif dan berfungsi dengan baik kembali. Sehingga, pesan dan sinyal dari respon tersampaikan. Akhirnya seiring berjalannya waktu kemampuan kognitifnya kembali.

Selain itu olahraga setelah stroke yang dilakukan tersebut memiliki berbagai manfaat lain bagi pasien, seperti:

  • Mengendalikan kadar kolesterol. Menjaga jumlah kolesterol tetap rendah sangat penting bagi untuk mencegah stroke kambuh di kemudian hari.
  • Membuat tekanan darah selalu di batas normal.
  • Membantu mengontrol berat badan. Banyak orang yang telah sembuh dari stroke yang tidak memerhatikan berat badannya. Padahal, semakin gemuk seseorang akan semakin tinggi risiko serangan stroke.
  • Mencegah depresi. Depresi adalah kondisi yang wajar terjadi pada orang yang baru saja mengalami stroke. Namun dengan berolahraga, maka suasana hati dan mood dapat kembali membaik.

Olahraga apa yang baik dilakukan setelah mengalami stroke?

Bila Anda dapat menggerakkan anggota tubuh, mulailah berolahraga bila dokter sudah menyatakan aman bagi Anda untuk berolahraga. Lakukanlah olahraga yang Anda sukai dan mulailah dengan perlahan. Jangan terlalu memaksakan diri.

Bila Anda masih kesulitan untuk menggerakan anggota tubuh, Anda perlu menjalani rehabilitasi dulu. Konsultasikan ini dengan dokter Anda agar Anda mendapatkan terapi yang tepat. Setelah Anda dapat kembali menggerakkan anggota tubuh dan mendapatkan izin dokter untuk berolahraga, mulailah dengan perlahan. Lakukan semampu Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Cara Diet Tanpa Sayur yang Aman untuk Tubuh

Di semua anjuran makanan sehat, selalu saja ada sayur di dalamnya. Bagaimana jika Anda tak suka makan sayur? Berikut ini diet tanpa sayur tapi tetap sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Nutrisi, Hidup Sehat, Tips Sehat 25 November 2020 . Waktu baca 3 menit

6 Khasiat Teh Chamomile yang Baik Bagi Tubuh

Pernahkan Anda mencicipi teh chamomile? Ternyata salah satu teh herbal ini banyak manfaatnya, lho! Simak manfaat teh chamomile bagi kesehatan tubuh.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Fakta Unik 25 November 2020 . Waktu baca 3 menit

Untuk Para Suami, Ini 10 Trik Memanjakan Istri Agar Lebih Bergairah

Pasangan Anda belum cukup luwes dan percaya diri saat berhubungan intim? Tenang, ini dia berbagai cara merangsang istri yang ampuh dan penuh kehangatan.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Seks & Asmara 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit

6 Penyebab Tubuh Anda Mengeluarkan Kentut

Kentut adalah hal yang normal terjadi. Tapi apa yang jadi penyebab tubuh mengeluarkan kentut? Lalu, kenapa kentut bau dan berbunyi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Fakta Unik 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Penyebab Serangan Jantung Pada Anak Muda

Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 5 menit
akibat sering main hp

4 Jenis Gangguan Kesehatan Akibat Terlalu Sering Bermain Smartphone

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
gingsul, salah satu jenis maloklusi

Fakta Seputar Gigi Gingsul yang Harus Anda Tahu

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 6 menit
manfaat bengkoang

Tak Hanya Memutihkan Kulit, Ini 6 Manfaat Bengkoang Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit