Meningkatnya Risiko Stroke Pada Orang-orang Muda

Oleh

Sebagian besar stroke terjadi setelah usia 65 tahun, tapi kini makin banyak anak muda yang memiliki risiko untuk stroke.

Statistik terbaru menunjukkan risiko stroke pada anak muda terus meningkat. Dibandingkan dengan pertengahan 1990-an, terjadi peningkatan 53% untuk stroke iskemik di antara mereka yang berusia antara 15 dan 44 tahun pada tahun 2000-an. Selama waktu yang sama, ada kecenderungan peningkatan faktor risiko stroke seperti, tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, kolesterol tinggi, penyakit jantung bawaan, dan merokok.

Penyebab stroke pada usia muda lebih beragam dan relatif jarang terjadi dibandingkan pada orang yang lebih tua. Kebanyakan stroke pada orang dewasa yang lebih tua adalah karena aterosklerosis, atau lemak dan endapan kalsium di arteri yang menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah. Di kalangan usia muda, penyebabnya berkisar dari masalah katup jantung bawaan, aritmia, hingga penyakit jantung bawaan.

Setengah dari semua kasus stroke di kalangan anak muda adalah karena stroke iskemik. Hal ini terjadi sebagai akibat dari gangguan dalam pembuluh darah yang memasok darah ke otak. Sekitar 15 persen dari semua stroke iskemik terjadi pada usia dewasa muda (di bawah 40 tahun) dan remaja. Selain itu, stroke pada usia muda juga diakibatkan stroke hemoragik, yang terjadi ketika pembuluh darah yang pecah menjadi lemah. Penyebab paling umum dari stroke hemoragik adalah tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.

Kabar baiknya adalah bahwa, dibandingkan dengan orang yang lebih tua, pasien stroke yang lebih muda cenderung untuk kembali normal dan pulih lebih baik. Otak pasien yang lebih muda cenderung lebih tangguh. Bagian lain dari otak akan membantu pemulihan dan membantu bagian yang terkena stroke. Mereka biasanya tidak memiliki kondisi jantung atau arthritis yang dapat mengganggu terapi fisik mereka, dan mereka memiliki dorongan dan potensi lebih untuk melakukan pemulihan.

Mengapa insiden stroke pada usia muda meningkat?

Sejumlah faktor medis, sosial ekonomi, dan gaya hidup tampaknya memiliki pengaruh yang signifikan.

Orang pada usia muda cenderung untuk tidak menghubungi pusat bantuan kesehatan darurat untuk terjadinya gejala stroke, karena mereka tidak percaya bahwa stroke  dapat terjadi di usia semuda itu. Ketika mereka tiba di ruang gawat darurat, diagnosis stroke sering tertunda atau stroke disalahartikan sebagai migrain karena stroke masih dianggap sebagai penyakit oran tua, dan pasien muda mungkin tidak memiliki faktor risiko vaskular yang meningkatkan kecurigaan stroke.

Peningkatan angka obesitas pada usia muda telah menyebabkan lebih banyak kondisi diabetes, dan diabetes meningkatkan risiko stroke iskemik pada usia muda. Usia muda hampir dua kali lebih mungkin untuk tidak memiliki dana asuransi kesehatan yang cukup dibandingkan dengan orang dewasa yang lebih tua, dan oleh karena itu tidak mendapatkan perawatan pencegahan yang tepat.

Perempuan pada usia muda cenderung memiliki lebih banyak risiko stroke dibandingkan laki-laki muda. Risiko stroke meningkat dengan penggunaan pil KB. Risiko stroke juga meningkat karena merokok, dan gadis-gadis remaja merupakan salah satu kelompok terbesar perokok baru. Migrain dengan aura juga dapat meningkatkan risiko stroke, terutama di kalangan wanita di bawah 45 tahun, perokok, dan mereka yang menggunakan kontrasepsi hormonal.

Adanya riwayat  tekanan darah tinggi pada keluarga juga penting. Jika ada tekanan darah tinggi yang menurun dalam keluarga Anda, Anda perlu memonitor tekanan darah Anda cukup sering untuk mengontrol dan mengobatinya. Jika ibu Anda memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan, maka pantaulah tekanan darah Anda jika Anda hamil. Wanita muda yang memiliki tekanan darah tinggi disarankan selama masa kehamilan agar bekerja sama dengan dokter untuk mengontrol tekanan darahnya.

Munculnya faktor risiko stroke mungkin lebih tinggi pada orang dewasa yang lebih tua, tetapi orang dengan usia lebih muda juga telah banyak mengalami perubahan gaya hidup, mengalami kegemukan, memiliki diabetes, menggunakan obat-obatan terlarang, minum alkohol berlebihan dan merokok, yang semuanya meningkatkan risiko mereka terhadap stroke. Modifikasi sederhana dari faktor gaya hidup ini juga dapat mengurangi risiko stroke. Jangan merokok, lakukanlah aktivitas fisik secara teratur, jagalah berat badan yang sehat, makan makanan rendah garam dengan kurangi mengonsumsi daging merah dan lemak, konsumsi lebih banyak buah dan sayuran, dan menurunkan kadar kolesterol dan kadar gula darah Anda, juga dapat membantu.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca