Apakah Testosteron Bisa Meningkatkan Risiko Stroke?

Oleh

Terapi pengganti testosteron untuk laki-laki digunakan untuk beberapa alasan, yang paling umum adalah untuk defisiensi testosteron. Gejala defisiensi testosteron dikombinasikan dengan kadar testosteron yang rendah mengindikasikan kebutuhan untuk terapi pengganti hormon testosteron. Hal ini dapat mempengaruhi orang-orang pada usia 20-an, 30-an, 40-an dan seterusnya. Gejala testosteron yang rendah termasuk kelelahan, depresi, gairah seks yang rendah, disfungsi ereksi, dan ketidaksuburan.

Namun, masalah ini dapat disebabkan karena kadar testosteron rendah atau oleh kondisi medis lainnya.

Terapi testosteron hormonal dapat berguna untuk beberapa pria, tetapi juga disebut-sebut sebagai salah satu pemicu stroke.

Jadi, apa yang perlu Anda ketahui tentang testosteron dan stroke sehingga Anda bisa mendapatkan terapi yang dibutuhkan dan tetap aman?

Apa itu testosteron?

Hormon adalah steroid kompleks alami yang diproduksi oleh tubuh. Produksi testosteron seorang pria dan tingkat testosteron yang diperlukannya bervariasi sepanjang tahun, seperti halnya tingkat testosteronnya. Hormon biologis yang diproduksi secara alami di tubuh, termasuk testosteron, bisa menurun karena beberapa alasan, termasuk penuaan, penyakit, dan obat-obatan. Pengganti kekurangan hormon dapat menghasilkan efek fisiologis yang kompleks, yang akan menambah tingkat hormon di dalam tubuh tetapi juga mengubah proses umpan balik tubuh, yang dapat meningkatkan atau menurunkan produksi tetap hormon tubuh.

Apa efek testosteron terhadap risiko stroke?

Testosteron dapat memiliki efek yang berbeda-beda pada risiko stroke. Sejumlah studi penelitian ilmiah selama bertahun-tahun telah mengetes pengganti testosteron dan hubungannya dengan stroke.

Testosteron meningkatkan risiko stroke

Sebuah artikel terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association melaporkan hasil studi Veterans Affairs yang melibatkan lebih dari 8.000 laki-laki. Para pria yang menjalani terapi testosteron dalam penelitian ini mengalami kasus stroke yang lebih banyak pada satu hingga tiga tahun setelah penelitian dimulai, dibandingkan dengan pria yang tidak menjalani terapi testosteron.

Testosteron dapat meningkatkan tekanan darah dan juga dapat meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah, keduanya diketahui menyebabkan stroke.

Testosteron menurunkan risiko stroke

Berdasarkan temuan dari studi penelitian Veterans Affairs, artikel yang baru diterbitkan di Mayo Clinic Proceedings meninjau data dari sejumlah besar laporan yang menilai terapi testosteron dan kaitannya dengan stroke. Para penulis artikel Mayo Clinic Proceedings menyatakan bahwa sebagian besar studi penelitian menunjukkan efek menguntungkan dari testosteron pada penyakit kardiovaskular, yang mana merupakan penyebab utama stroke.

Apa yang harus saya lakukan?

Bahkan para peneliti pun memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai risiko dan manfaat dari terapi testosteron. Dengan semua temuan yang bertentangan, apa yang akan pasien lakukan?

Terapi testosteron bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Terapi ini memerlukan resep dan harus berdasarkan pengawasan dokter. Gejala defisiensi testosteron merupakan masalah medis serius. Dokter dengan hati-hati akan mengevaluasi gejala, memeriksa keadaan fisik dan kadar hormon Anda sebelum meresepkan jenis pengobatan hormonal.

Tingkat testosteron yang sangat rendah maupun yang sangat tinggi, keduanya berhubungan dengan berbagai risiko kesehatan, termasuk stroke. Memeriksa kadar testosteron rendah dianjurkan bagi sebagian pria. Tapi, seringnya terapi hormonal perlu disesuaikan dari waktu ke waktu sehingga sangat penting untuk menindaklanjuti dengan dokter jika Anda mulai melakukan terapi penggantian testosteron karena dosis Anda mungkin perlu dievaluasi secara teratur atau mungkin diubah.

Meski data tentang terapi penggantian testosteron dan risiko stroke masih berbeda-beda, FDA cukup yakin bahwa terapi ini memang meningkatkan risiko stroke. Baru-baru ini, FDA mengarahkan perusahaan farmasi untuk mengubah label pada produk testosteron supaya menunjukkan peningkatan risiko kemungkinan serangan jantung dan stroke.

Apa yang harus saya ingat?

Beberapa pengganti hormon, seperti testosteron dan erythropoietin, rentan terhadap penyalahgunaan dan dapat mengakibatkan konsekuensi yang merugikan jika digunakan atau disalahgunakan saat tidak diperlukan secara medis.

Share now :

Direview tanggal: Januari 1, 1970 | Terakhir Diedit: Maret 10, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca