Keseringan Minum Obat Pereda Nyeri Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Stroke

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Obat pereda nyeri bisa menjadi solusi terbaik untuk mengobati segala jenis rasa sakit yang tidak tertahankan. Beberapa jenis obat antinyeri seperti ibuprofen dan paracetamol atau aspirin bisa dibeli bebas di warung atau toko obat. Sementara jenis antinyeri yang lebih kuat untuk kasus nyeri kronis seperti golongan opiat (fentanil, hidromorfon, heroin, metadon, morfinoxycodone, dan tramadol), dosisnya diatur sangat ketat sehingga Anda akan perlu menebus resep dokter.

Yang mana pun obat yang Anda pakai, pereda nyeri tidak untuk digunakan setiap hari — hanya minum obat ini jika benar-benar diperlukan. Penggunaan obat penghilang nyeri jangka panjang dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya pada kesehatan.

Risiko efek samping obat pereda nyeri jika terus digunakan dalam jangka panjang

Efek samping ringan yang mungkin muncul setelah penggunaan obat nyeri untuk sementara adalah mual, muntah, sakit perut. sakit kepala, rasa kantuk atau disorientasi (linglung, bingung), hingga masalah pencernaan seperti diare atau sembelit. NSAID juga dapat menyebabkan lengan dan kaki membengkak.

Dilanjutkan terus, terlalu sering minum obat pereda nyeri dalam jangka panjang dapat membuat tubuh menjadi kebal terhadap efek obat. Obat tidak lagi bekerja efektif untuk mengatasi rasa sakit yang muncul, sehingga Anda perlu dosis yang lebih tinggi lagi. Lama kelamaan, kondisi kebal obat dapat membuat Anda menjadi ketergantungan obat.

Selain itu, penggunaan obat penghilang rasa sakit dalam waktu lama dapat menyebabkan luka (ulkus) pada lambung maupun usus halus yang bisa mengakibatkan perdarahan dalam dan terjadinya infeksi pada rongga perut (peritonitis). Konsumsi obat antinyeri yang berkelanjutan meski tidak perlu-perlu amat juga dapat menyebabkan kerusakan hati dan gagal ginjal akibat efek obat yang merusak fungsi ginjal.

Ibuprofen, aspirin, dan NSAID lainnya juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Efek obat pereda nyeri dapat mengganggu kerja otot polos dinding pembuluh sehingga menghambat kemampuan pembuluh darah untuk mengerut dan melonggar. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya sumbatan pada pembuluh darah yang sering disebut aterosklerosis. Dalam jangka panjang, aterosklerosis dapat menyebabkan penyakit jantung koroner hingga serangan jantung dan stroke apabila tidak ditangani dengan tepat.

Yang lebih parah, ketergantungan obat lambat laun dapat mendorong penggunanya jatuh ke fase overdosis yang bisa berakibat fatal.

Lalu bagaimana cara mencegah sebelum ketergantungan obat?

Obat pereda nyeri sejatinya hanya digunakan ketika perlu saja, tidak untuk pemakaian rutin atau harian dalam jangka waktu lama. Untuk menghindari risiko efek sampingnya, Anda harus mematuhi instruksi cara pakai obat yang tertera dalam label kemasan. Jika diresepkan oleh dokter, patuhi sesuai petunjuk penggunaan obat yang dianjurkan.

Apabila Anda merasa perlu untuk mengonsumsi dosis yang lebih tinggi, mungkin tandanya obat tersebut sudah tidak lagi efektif untuk Anda. Jangan mengganti obat atau menaikkan dosisnya sembarangan tanpa mendapatkan saran lebih lanjut dari dokter. Jangan pula mencampur obat dengan obat jenis lain tanpa berkonsultasi lebih dulu pada dokter.

Baca Juga:

Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca