Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional, penyakit jantung adalah penyebab nomor satu kematian pada pria maupun wanita di Indonesia setiap tahun. Anda mungkin sudah mulai berusaha mengurangi risiko, tapi bagaimana cara mengetahui apakah Anda memang melakukannya dengan benar?

Pada tahun 1948, Institut Jantung Nasional (sekarang dikenal sebagai Institut Jantung, Paru-paru, dan Darah Nasional, atau NHLBI), memulai Studi Jantung Framingham untuk mempelajari lebih banyak tentang penyakit jantung dan stroke. Para peneliti mengawasi lebih dari 5,000 peserta di Framingham, Massachusetts sepanjang hidup mereka untuk menentukan faktor risiko umum penyakit kardiovaskular. Pada tahun 1971, kelompok generasi kedua—anak-anak dari kelompok asli—dan pasangan mereka—mendaftar.

Sebagai hasil dari studi jangka panjang ini, para ilmuwan telah menentukan faktor risiko kunci yang dapat meningkatkan peluang seseorang terkena penyakit jantung atau serangan jantung sepanjang hidup mereka. Dengan melacak faktor risiko, Anda bisa menentukan seberapa agresif Anda harus menyesuaikan diri terhadap perubahan gaya hidup dan perawatan.

Umur

Risiko penyakit jantung meningkat seiring bertambahnya umur, terlepas dari faktor risiko lainnya. Risiko meningkat bagi pria setelah berumur 45 tahun dan wanita setelah berumur 55 tahun (atau menopause). Hormon estrogen dianggap membantu melindungi jantung. Inilah sebabnya setelah menopause, ketika kadar estrogen berkurang dalam tubuh wanita, risiko serangan jantung juga meningkat.

Sepanjang waktu, penumpukan plak berlemak secara perlahan dalam arteri dapat bermasalah. Jika Anda semakin menua, arteri mungkin menyempit. Penggumpalan darah kadang-kadang dapat terbentuk, menghambat aliran darah, yang bisa menyebabkan serangan jantung.

Jenis kelamin

Pria lebih berisiko terkena penyakit jantung daripada wanita. 70-80% serangan jantung mendadak muncul pada pria. Sejauh ini, ilmuwan tidak tahu pasti akan penyebabnya, walaupun studi telah menunjukkan bahwa hormon seks mungkin menyebabkan serangan jantung.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Atherosclerosis menemukan bahwa dua hormon seks dihubungkan dengan meningkatnya kadar LDL, kolesterol “jahat” dan menurunnya kadar HDL, kolesterol “baik”. Studi baru yang diterbitkan pada tahun 2012 dalam The Lancet mengindikasikan bahwa kromosom Y, yang unik bagi pria, mungkin juga turut andil. Terlepas dari alasan tersebut, pria lebih berisiko secara keseluruhan, dan cenderung menderita penyakit jantung pada usia lebih awal. Namun, penyakit jantung juga adalah penyebab utama kematian pada wanita.

Kadar kolesterol total

Kolesterol total, yang merupakan jumlah semua kolesterol dalam darah, adalah kemungkinan faktor risiko penyakit jantung, terutama karena kolesterol adalah bagian kunci plak yang dapat menumpuk di dalam arteri. (Plak terdiri dari lemak, kalsium, dan zat-zat lainnya). Teori bahwa semakin banyak kolesterol di dalam darah, semakin banyak berubah menjadi plak yang menumpuk di dalam arteri. Rentang kadar kolesterol:

  • Normal: kurang dari 200 mg/dL
  • Cukup tinggi: 200-239 mg/dL
  • Tinggi: 240 mg/dL dan lebih

Semakin tinggi kadar kolesterol total, semakin tinggi risiko penyakit jantung.

Kadar kolesterol “baik” HDL

Para ilmuwan telah menemukan bahwa tidak semua kolesterol sama. Kolesterol “baik”, atau HDL, sebenarnya melawan penyakit jantung. Ilmuwan tidak begitu pasti, tapi mereka percaya bahwa HDL membantu mengurangi radang, yang berkontribusi pada kesehatan jantung, serta membantu membawa kolesterol menuju hati, yang akan diproses. Kesimpulannya adalah semakin tinggi kadar HDL, semakin rendah risiko penyakit jantung. Umumnya:

  • HDL kurang dari 40 mg/dL meningkatkan risiko penyakit jantung.
  • HDL lebih dari 60 mungkin melindungi Anda dari serangan jantung.

Riwayat merokok

Secara keseluruhan, merokok meningkatkan risiko penyakit jantung. Nikotin dan zat kimia lain di dalam rokok membahayakan jantung dan pembuluh darah, meningkatkan risiko atherosclerosis (penyempitan arteri)—walaupun Anda hanya sesekali merokok. Untungnya, berapa banyak pun atau berapa lama Anda telah merokok, berhenti merokok akan memberikan manfaat bagi jantung.

Contohnya:

  • Berhenti merokok mengurangi risiko Anda mengalami dan meninggal karena penyakit jantung.
  • Sepanjang waktu, berhenti merokok mengurangi risiko penyempitan arteri.
  • Berhenti merokok dapat membantu memulihkan jantung dan pembuluh darah yang rusak.

Tekanan darah

Bacaan angka tekanan darah pertama juga dapat memberikan petunjuk mengenai risiko penyakit jantung, yang disebut tekanan darah “sistolik”, dan mengukur tekanan arteri ketika jantung berdetak atau berkontraksi. (Angka diastolik mengukur tekanan dalam arteri antara detak jantung, ketika otot jantung rileks.) Pengukuran sistolik dianggap lebih menandakan risiko penyakit jantung karena umumnya terus meningkat seiring bertambahnya umur. Hal ini karena meningkatnya kekakuan dalam arteri dan menumpuknya plak dalam jangka panjang.

Berikut ini adalah beberapa panduan mengenai tekanan darah:

  • Normal: kurang dari 120 mmHg
  • Prehipertensi: 120-139 mmHg
  • Tekanan darah tinggi (tahap 1): 140-159
  • Tekanan darah tinggi (tahap 2): 160 atau lebih

Jika Anda telah menemukan bahwa Anda mengalami tekanan darah tinggi dan sedang minum obat untuk mengendalikannya, Anda secara otomatis mengurangi risiko serangan jantung.

Kemungkinan terkena diabetes

Banyak kalkulator risiko penyakit jantung telah menambahkan diabetes ke dalam daftar. Menurut National Diabetes Information Clearinghouse (NDIC), jika Anda mengalami diabetes, Anda setidaknya dua kali lipat lebih berisiko terkena penyakit jantung. Sepanjang waktu, kadar glukosa darah (gula darah) tinggi dapat meningkatkan penumpukan material berlemak di dalam arteri dan dinding pembuluh darah, meningkatkan peluang penyempitan dan pengerasan arteri (atherosclerosis).

Pastikan Anda memeriksakan diri ke dokter secara teratur untuk mengatasi semua faktor risiko dan mengurangi risiko penyakit jantung sebisa mungkin.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca