Depresi Setelah Serangan Jantung Tingkatkan Risiko Kematian Dini

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update Mei 6, 2020
Bagikan sekarang

Penyakit jantung koroner (PJK) masih menduduki peringkat pertama penyebab kematian di Indonesia. PJK termasuk salah satu penyebab utama terjadinya serangan jantung. Bentuk penyakit jantung bermacam-macam, tapi sering kali diawali dengan serangan jantung terlebih dahulu. Nyatanya, risiko serangan jantung ini dapat meningkat, bahkan sampai mengakibatkan kematian dini, jika penderitanya mengalami depresi. Bagaimana bisa pasien mengalami depresi setelah serangan jantung? Simak penjelasannya berikut ini.

Depresi pada pasien serangan jantung tingkatkan risiko kematian

penyebab depresi

Semua orang dapat mengalami depresi jika ia merasa sangat sedih dan tertekan dalam jangka waktu yang lama. Selain lebih sering dialami oleh perempuan, kondisi ini juga umum terjadi pada orang-orang yang mengidap penyakit kronis, salah satunya serangan jantung.

Melansir Cleveland Clinic, tergolong wajar untuk merasa sedih hingga depresi setelah mengalami serangan jantung. Perasaan ini muncul karena Anda mungkin merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah ini, dan mungkin merasa sedih karena tidak bisa bebas melakukan aktivitas seperti biasanya.

Depresi dan risiko serangan jantung rupanya memiliki hubungan timbal balik, seperti mata rantai yang tidak terputus. Artinya, depresi bisa saja menyebabkan serangan jantung. Namun, depresi juga bisa muncul setelah mengalami serangan jantung. Bahkan, kombinasi serangan jantung dan depresi dapat membuat seseorang mengalami kematian dini.

Hal ini diawali dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Heidy May, Ph.D., seorang epidemiolog dari Intermountain Medical Center Heart Institute di Salt Lake City. Ia meneliti sekitar 24.137 pasien yang didiagnosis terkena penyakit jantung koroner, baik itu serangan jantung, angina stabil, dan angina tidak stabil.

Sebanyak 15 persen atau sejumlah 3.646 pasien ternyata juga didiagnosis mengalami depresi setelah terkena serangan jantung. Kemudian, para peneliti mengabaikan faktor risiko, usia, jenis kelamin, obat-obatan, dan komplikasi lanjutan.

Dari keseluruhan peserta yang didiagnosis terkena serangan jantung dan depresi, sebanyak 50 persen pasien meninggal selama penelitian berlangsung. Sementara itu, hanya sekitar 38 persen pasien yang tidak meninggal dan tetap bertahan sampai penelitian selesai. Para ahli mengambil kesimpulan bahwa depresi memegang peran yang kuat dalam menyebabkan kematian pada pasien serangan jantung, bahkan risikonya bisa naik dua kali lipat.

Hubungannya depresi, serangan jantung, dan kematian dini

komplikasi penyakit jantung

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, depresi, dan risiko serangan jantung saling memengaruhi satu sama lain. Sebagai contoh, depresi dapat meningkatkan gejala serangan jantung menjadi semakin parah. Sementara itu, depresi juga bisa muncul setelah seseorang mengalami serangan jantung.

Tidak hanya itu, depresi yang muncul setelah serangan jantung dapat meningkatkan risiko kematian dini pada pasien serangan jantung. Namun, masih belum diketahui dengan jelas mengapa depresi setelah serangan jantung dapat meningkatkan risiko tersebut. Hal ini diduga muncul karena adanya kecemasan pasien terhadap pengobatan yang dijalaninya.

Saat pasien mengalami depresi setelah serangan jantung, pasien cenderung kurang disiplin untuk mengonsumsi obat dan malas berolahraga. Jangankan untuk olahraga, hanya untuk makan teratur dan menjalani pola hidup sehat saja rasanya tidak bersemangat. Padahal, semua ini sangat penting untuk mendukung dan mempercepat proses penyembuhan pasien.

Terlebih lagi, depresi setelah mengalami serangan jantung dapat meningkatkan produksi hormon kortisol alias hormon stres. Hormon ini dapat memicu peradangan di pembuluh darah dan memudahkan lemak menyumbat pembuluh darah.

Bukan cuma menyebabkan serangan jantung jadi semakin parah, pasien pun rentan kena penyakit lain yang akan semakin menurunkan harapan hidupnya.

Bagaimana cara mengatasi depresi pada pasien serangan jantung?

Gula darah rendah hipoglikemia saat olahraga

Penting untuk mengatasi depresi pada pasien yang mengalami serangan jantung sedini mungkin. Ini tidak hanya bermanfaaat untuk mencegah risiko serangan jantung yang lebih parah, tapi juga meningkatkan kualitas hidup pasien.

Dengan kata lain, usia harapan hidup pasien jadi lebih panjang dan menurunkan risiko kematian. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi depresi yang Anda alami setelah serangan jantung. Berikut adalah tips yang bisa Anda coba, misalnya:

1. Terus mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter

Tahukah Anda bahwa salah satu penyebab depresi setelah serangan jantung adalah tidak mengikuti rencana pengobatan? Ya, mungkin setelah mengalami serangan jantung, Anda merasa sudah tidak bisa hidup seperti sedia kala, sehingga pesimis terhadap ragam pengobatan yang seharusnya dijalani.

Padahal, rutin mengonsumsi obat-obatan dan memperbaiki gaya hidup dapat membantu mencegah terjadinya serangan jantung kedua dan seterusnya. Maka itu, cobalah untuk menerima kondisi yang ada dan usahakan hidup yang lebih baik dengan mengonsumsi obat-obatan yang telah diresepkan oleh dokter.

Jika memang Anda masih merasa kesulitan menghadapi kenyataan, konsultasikan hal ini pada dokter Anda. Mungkin dokter bisa memberikan metode lain untuk membantu pemulihan Anda dengan cara yang lain.

Selain itu, dokter mungkin akan meresepkan beberapa antidepresan, seringnya berupa SSRI seperti sertraline (Zoloft), citalopram (Celexa), atau escitalopram (Lexapro). Obat-obatan ini dianggap aman dan efektif untuk mengatasi depresi pada pasien serangan jantung.

2. Mengonsumsi makanan sehat untuk jantung

Anda juga bisa mengatasi depresi setelah serangan jantung dengan menjaga pola makan tetap sehat. Setelah mengalami serangan jantung, Anda tentu akan disarankan oleh dokter untuk mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi untuk kesehatan jantung.

Selain itu, Anda juga akan diminta mengurangi asupan makanan yang tidak sehat bagi kesehatan jantung Anda. Makanan yang sehat untuk jantung biasanya sayur-sayuran, biji-bijian, gandum, dan ikan. Selain sehat untuk jantung, makanan sehat juga dapat mengurangi depresi yang mungkin sedang Anda alami.

3. Rutin berolahraga

Setelah pulih dari serangan jantung, dokter tentu akan menyarankan Anda mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Hal ini bisa juga menjadi salah satu cara untuk mengatasi depresi setelah serangan jantung.

Setidaknya, Anda disarankan untuk berolahraga setiap hari selama 30 menit. Anda bisa memulainya perlahan, dan tidak perlu memaksakan diri. Sebagai contoh, Anda bisa memulai olahraga dengan berjalan kaki selama 30 menit dan dilakukan beberapa kali dalam seminggu.

Setelah Anda terbiasa, Anda bisa meningkatkan olahraga Anda menjadi jogging atau berjalan cepat. Meski begitu, Anda tetap tidak perlu memaksakan diri jika memang belum mampu. Dengan berolahraga, serotonin akan meningkat pada otak, sehingga suasana hati Anda membaik.

Setiap kali Anda berolahraga, Anda akan mendapatkan manfaat untuk kesehatan jantung dan kesehatan mental. Namun, sama halnya dengan efek dari olahraga yang tidak bisa Anda langsung rasakan dalam sekejap, efek yang diberikan dari olahraga terhadap suasana hati Anda juga tidak bisa dirasakan dalam sekejap.

Artinya, Anda harus bersabar dengan rutin menjalaninya jika ingin mengurangi depresi setelah mengalami serangan jantung.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Kita Sering Ngantuk Saat Puasa?

Penelitian menunjukkan bahwa pukul 14.00 sampai 16.00 adalah waktunya kantuk menyerang saat kita berpuasa. Kenapa sering ngantuk saat puasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh dr. Angga Maulana
Hari Raya, Ramadan Mei 7, 2020

Didi Kempot Tutup Usia Diduga Kelelahan, Bagaimana Hingga Jadi Fatal?

Kabari berita duka datang kembali dari dunia musik tanah air. Penyanyi campur sari, Didi Kempot dikabarkan meninggal dunia. Apa penyebabnya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi

Dua Vitamin dan Mineral yang Paling Diperlukan Tubuh Selama Puasa

Ketika bulan puasa, banyak orang yang mudah sakit dan merasa cepat lemas. Karena itu, Anda butuh minum vitamin C dan zinc untuk mengatasinya. Mengapa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Hari Raya, Ramadan Mei 1, 2020

Yang Terjadi Dalam Tubuh Saat Kita Berpuasa

Saat puasa kita tidak boleh makan dan minum. Penasaran tidak, apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh saat kita berpuasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh dr. Maizan Khairun Nissa
Hari Raya, Ramadan April 28, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Ajeng Quamila
Tanggal tayang Mei 19, 2020
Amankah Jika Penderita Penyakit Jantung Ikut Berpuasa?

Amankah Jika Penderita Penyakit Jantung Ikut Berpuasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Tanggal tayang Mei 18, 2020
Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal tayang Mei 17, 2020
5 Fungsi Antiseptik Cair Selain untuk Mandi

5 Fungsi Antiseptik Cair Selain untuk Mandi

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh Willyson Eveiro
Tanggal tayang Mei 12, 2020