Mengatasi Sembelit Pada Bayi yang ASI Eksklusif

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Saat memiliki bayi, mengganti popok akan menjadi rutinitas yang tidak terelakkan bagi Anda sebagai orangtua. Apalagi, jika Anda memberikan ASI eksklusif bagi bayi Anda, tentu saja frekuensi buang air besar (BAB) si kecil akan meningkat. Namun, bagaimana bila bayi ASI Anda tidak cukup sering buang air besar? Apakah mungkin buah hati Anda mengalami sembelit? Jika ya, apa yang dapat Anda lakukan?

Mengenal pola BAB pada bayi yang baru lahir

Pola buang air besar pada bayi akan dipengaruhi oleh usia mereka. Bayi berusia 0 hingga 3 hari akan menghasilkan feses yang berwarna gelap seperti ter, yang disebut dengan meconium. Seiring dengan masuknya ASI ke dalam saluran cerna, feses bayi akan semakin lembut dan warnanya akan semakin cerah.

Pada usia 2 hingga 6 minggu, bayi biasanya akan BAB sebanyak dua hingga lima kali dalam 24 jam. Beberapa bayi yang sehat mungkin akan BAB lebih banyak daripada jumlah tersebut, dan sebagian bayi sehat lain akan BAB lebih sedikit dari jumlah tersebut.

Jika bayi Anda berusia di bawah enam bulan dan BAB kurang dari dua kali dalam sehari, hal tersebut mungkin masih dapat dianggap normal. Bayi Anda kemungkinan tidak mengalami sembelit jika:

  • Banyak buang air kecil.
  • Mengalami kenaikan berat badan yang normal.

Pola BAB pada bayi yang mendapat ASI

Setelah menginjak usia lebih dari enam minggu, frekuensi BAB buah hati Anda mungkin akan menurun seiring dengan berkurangnya kolostrum pada ASI Anda. Bayi usia 6 minggu atau lebih mungkin dapat BAB kurang lebih 5 kali dalam satu hari, setiap setelah disusui, atau mungkin hanya satu kali sehari.

BACA JUGA: Mengapa Bayi dan Balita Sering Sulit Buang Air Besar?

Beberapa bayi bahkan hanya BAB 1 kali dalam satu minggu, walau volume yang dikeluarkan akan sangat banyak. Selama bayi Anda mengalami kenaikan berat badan yang ideal dan sering mengompol, maka jangan asumsikan bahwa bayi Anda mengalami sembelit.

Setelah Anda memperkenalkan makanan padat pada buah hati, maka pola BAB anak Anda dapat kembali berubah. Karakteristik feses mungkin akan lebih berbau dengan perbedaan konsistensi dan warna dari yang sebelumnya. Selain itu, frekuensi BAB anak Anda juga mungkin berubah.

Ciri dan gejala sembelit pada bayi yang diberi ASI

Melihat bayi Anda mengejan saat merasa mulas atau ingin BAB mungkin membuat Anda berpikir bahwa ia mengalami sembelit. Namun, jangan keliru, American Academy of Pediatrics (AAP) mengatakan bahwa bayi memang membutuhkan usaha yang keras untuk buang air besar. Jadi, jangan berpikir bahwa buah hati Anda mengalami sembelit jika mukanya berubah merah atau ia menangis saat sedang mulas.

Anda dapat menggunakan beberapa pertanyaan berikut untuk memastikan apakah bayi Anda benar-benar mengalami konstipasi atau tidak:

  • Apakah bayi saya sangat rewel?
  • Apakah terdapat darah pada feses bayi?
  • Apakah bayi saya muntah lebih sering dari biasanya?
  • Apakah bayi saya BAB lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya?
  • Apakah bayi saya ngeden untuk BAB selama 10 menit atau lebih sebelum akhirnya menyerah?
  • Apakah feses bayi saya kering dan keras?
  • Apakah bayi saya melengkungkan punggungnya, mengencangkan bokong, dan menangis saat berusaha BAB?

Hal-hal tersebut mungkin dapat menjadi tanda bahwa bayi Anda mengalami sembelit. Namun, jika feses bayi Anda lunak setelah ia mengedan atau menangis, kemungkinan kecil ia mengalami sembelit.

BACA JUGA: Yang Terjadi Pada Bayi Setelah Beralih dari ASI ke Formula

Bagaimana cara mengatasi sembelit pada bayi?

Jika Anda khawatir bayi Anda mengalami sembelit, Anda dapat segera menghubungi dokter anak Anda. Anda juga dapat menanyakan kepada dokter mengenai pola BAB anak Anda.

Untuk mengatasi sembelit dan meringankan rasa sakit yang dialami si kecil, Anda dapat mencoba hal-hal berikut. Namun ingat, cara ini hanya boleh dilakukan jika bayi Anda sudah berusia di atas satu tahun, atau sudah mulai makan makanan padat:

1. Memberi minum air

Sebagai tambahan terhadap ASI, Anda dapat memberi minum air putih bagi anak Anda sebanyak satu kali sehari.

2. Memberi jus buah

Jika air putih tidak dapat meringankan gejala pada bayi Anda, cobalah untuk menggantinya dengan porsi kecil apel, plum, atau pir. Bayi Anda tidak akan dapat mencerna gula yang terkandung di dalamnya, dan hal ini dapat membantu membuat feses lebih lunak.

Pastikan bahwa jus Anda mengandung 100% buah tanpa bahan tambahan. Mulailah dari 30 hinggal 60 ml buah dicampur air dengan perbandingan 1:1. Anda mungkin harus mencobanya berkali-kali dengan takaran yang berbeda untuk melihat respon bayi Anda terhadap jus yang Anda berikan.

BACA JUGA: Bolehkah Memberi Jus Buah Pada Bayi?

3. Memberi makanan bayi

Jika Anda ingin memberi bayi Anda makanan padat, cobalah untuk memberinya bubur plum atau kacang. Jangan pernah memberikan makanan yang dapat menyebabkan konstipasi seperti pisang.

4. Berkonsultasi pada dokter

Jika cara-cara di atas tidak dapat membantu, maka Anda disarankan untuk segera berkonsultasi pada dokter. Dokter mungkin akan memberikan laksatif ringan untuk anak Anda.

Pada beberapa kasus yang langka, konstipasi pada bayi dapat berhubungan dengan kondisi medis yang serius seperti fibrosis kistik, hipotiroid, dan penyakit Hirschsprung. Oleh karena itu, segeralah datang ke dokter jika perubahan diet tidak mampu membuat anak Anda lebih baik. Perhatikan pula tanda-tanda seperti feses berdarah dan muntah.

Kesimpulan

Sembeli pada bayi biasanya akan disertai oleh gejala lain. Jika bayi Anda masih banyak mengompol, mengalami kenaikan berat badan yang normal, dan masih terlihat bugar, maka BAB satu kali dalam seminggu bukanlah hal yang harus dikhawatirkan.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca