Mengenal Spirometri, Tes untuk Mengetahui Seberapa Baik Paru-Paru Anda Bekerja

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Mengukur kapasitas paru-paru sering kali dilakukan untuk melihat seberapa gawat atau sudah sampai tahap apa kerusakan paru-paru yang dialami seseorang. Pengukuran kapasitas tersebut biasanya dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut dengan spirometri.

Bagaimana cara kerja alat ini hingga bisa memberikan informasi mengenai sejauh apa kerusakan paru-paru yang dialami pasien? Simak ulasan lengkap berikut ini.

Apa itu spirometri?

spirometer
Sumber: Chest Foundation

Spirometri adalah salah satu tes fungsi paru terbaik dan paling sering digunakan oleh tim medis. Alat yang digunakan untuk melakukan tes spirometri disebut dengan spirometer. Spirometer merupakan suatu mesin yang mengukur seberapa baik fungsi paru Anda, mencatat hasilnya, dan menampilkannya dalam bentuk grafik.

Spirometer adalah alat yang berperan penting dalam penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) mulai dari saat penyakit ini didiagnosis hingga sepanjang pengobatan serta pengendaliannya. Spirometer digunakan saat pasien mengeluhkan gangguan pernapasan, seperti sesak napas, batuk, atau produksi lendir berlebih. Alat ini juga dapat mendeteksi PPOK bahkan pada tahapan paling awal sebelum kemunculan gejala yang jelas.

Selain mendiagnosis PPOK, spirometri juga dapat membantu memantau perkembangan penyakit lain yang berkaitan dengan fungsi paru dan menggolongkannya ke dalam masing-masing tahapan atau stadiumnya. Alat ini juga membantu menentukan cara terbaik untuk melanjutkan pengobatan.

Beberapa penyakit lain yang bisa didiagnosis menggunakan tes spirometri adalah:

Mengulik cara kerja spirometri

Sumber: Inogen

Anda tidak bisa melakukan tes spirometri sendiri di rumah. Jadi, Anda membutuhkan bantuan seorang dokter untuk melakukan pemeriksaan terhadap kapasitas paru-paru Anda. Alat tes spirometri, yaitu spirometer, akan mengukur fungsi paru dan mencatat hasilnya dalam bentuk grafik.

Untuk melakukan tes ini, pertama-tama dokter akan mempersilakan Anda duduk dengan posisi yang paling nyaman. Setelah itu, dokter akan menutup kedua hidung Anda menggunakan alat semacam klip tepat di atas hidung. Dokter kemudian akan meminta Anda untuk menarik napas dalam-dalam, menahan napas selama beberapa detik, lalu mengembuskannya ke dalam mouthpiece pada spirometer sekuat dan secepat yang Anda bisa.

Alat ini akan mengukur jumlah total udara yang bisa Anda embuskan, yaitu kapasitas vital paksa (FVC), serta berapa banyak yang Anda embuskan dalam satu detik pertama atau disebut dengan ekspirasi paksa 1 detik (FEV1).

Selain kerusakan yang mungkin terjadi pada paru-paru Anda, FEV1 biasanya juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti usia, jenis kelamin, tinggi badan, atau bahkan ras. Perbandingan antara FEV1 dengan FVC (FEV1/FVC) akan menghasilkan sebuah persentase. Nah, persentase itulah yang nantinya akan menjadi indikator apakah Anda memiliki penyakit paru-paru atau tidak. Persentase itu juga memungkinkan dokter untuk mengetahui sejauh mana perkembangan penyakit paru-paru dalam tubuh Anda.

Adakah efek samping spirometri?

Sama seperti prosedur medis lainnya, tes spirometri bisa menimbulkan efek samping. Namun, tak perlu khawatir. Efek samping yang ditimbulkan dari tes ini umumnya ringan dan tidak membahayakan. Anda mungkin akan mengalami pusing dan agak sedikit sesak napas setelah melakukan tes. Biasanya kondisi ini akan membaik segera.

Agar tes bisa menunjukkan hasil yang optimal, Anda disarankan untuk tidak merokok dan minum alkohol setidaknya 24 jam sebelum melakukan tes. Selain itu, gunakan pakaian longgar dan hindari makan dalam jumlah banyak sebelum tes karena keduanya bisa membantu memudahkan Anda untuk mengambil napas dalam-dalam.

Melacak perkembangan PPOK dengan tes spirometri

Dokter biasanya akan melakukan tes spirometri secara rutin guna memantau fungsi paru Anda dan membantu melacak perkembangan penyakit Anda. Pemeriksaan ini juga akan membantu menentukan stadium atau tahapan PPOK Anda.

Penentuan stadium PPOK Anda biasanya akan didasarkan pada angka FEV1/FVC Anda. Berikut adalah penggolongan stadium PPOK berdasarkan indikator FEV1/FVC.

  • PPOK Stadium 1 – Ringan. FEV1 Anda sama dengan atau lebih besar dari 80 persen nilai dugaan normal, dengan hasil perbandingan FEV1/FVC di bawah 70 persen. Pada tahap ini gejala yang Anda alami kemungkinan sangatlah ringan.
  • PPOK Stadium 2 – Moderat. FEV1 Anda berada di antara 50 – 79 persen dari nilai dugaan normal, dengan nilai FEV1/FVC di bawah 70 persen. Gejala tampak lebih jelas, seperti sesak napas saat beraktivitas dan batuk disertai lendir/dahak.
  • PPOK Stadium 3 – Parah. FEV1 Anda berada di antara 30 – 49 persen dari nilai dugaan normal dan FEV1/FVC Anda di bawah 70 persen. Pada tahap ini, sesak napas, dan kelelahan tampak jelas. Anda juga mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas fisik. Episode eksaserbasi (perburukan) PPOK juga umum ditemukan pada stadium ini.
  • PPOK Stadium 4 – Sangat Parah. FEV1 Anda kurang dari 30 persen dari nilai dugaan normal atau kurang dari 50 persen dengan gagal napas kronis. Pada tahap ini, kualitas hidup Anda terkena dampak dan eksaserbasi bersifat mengancam nyawa.

Peran spirometri dalam pengobatan PPOK

Penggunaan spirometri secara rutin untuk melihat perkembangan penyakit adalah hal yang sangat penting dalam pengobatan PPOK. Setiap stadium memiliki masalah khasnya masing-masing. Memahami berada di mana stadium PPOK Anda memungkinkan dokter untuk menganjurkan dan meresepkan pengobatan terbaik untuk penyakit Anda sesuai dengan tahapannya.

Meskipun penggolongan stadium membantu memutuskan pengobatan standar, dokter akan mempertimbangkan hasil spirometer Anda bersama dengan faktor lainnya untuk merancang pengobatan yang dikhususkan bagi Anda. Faktor-faktor seperti komorbiditas yang bisa berdampak lebih lanjut pada kapasitas paru, seperti penyakit jantung, akan menjadi pertimbangan dokter. Begitu pula dengan kondisi fisik Anda jika Anda harus menjalani terapi rehabilitasi, misalnya olahraga.

Dokter akan menjadwalkan pemeriksaan teratur dan menggunakan hasil spirometer untuk membuat penyesuaian pada pengobatan Anda. Bukan hanya obat-obatan, dalam beberapa kasus pengobatan juga termasuk operasi dan perubahan gaya hidup. Program rehabilitasi juga kadang diperlukan untuk membantu memperbaiki gejala Anda, memperlambat perkembangan penyakit, dan meningkatkan kualitas hidup.

Penggunaan spirometri juga memungkinkan dokter menentukan apakah pengobatan yang diberikan sudah sesuia dengan dan berhasil dengan efektif sesuai dengan stadium Anda. Hasil pemeriksaan akan membuat dokter mendapatkan informasi apakah kapasitas paru Anda stabil, meningkat, atau menurun, sehingga penyesuaian pengobatan bisa dilakukan.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca