Pembalut memiliki fungsi untuk menyerap darah yang keluar saat menstruasi. Meski fungsi dan cara pakainya tergolong sangat sederhana, tentu Anda sering mendengar beberapa mitos pembalut yang seliweran di tengah masyarakat. Berikut beberapa mitos mengenai pembalut yang masih sering diyakini, tapi yakinlah kalau semua mitos ini tidak benar sama sekali.

Berbagai mitos pembalut yang ada di masyarakat, dipatahkan oleh dunia medis

1. Pembalut menyebabkan kanker serviks

Salah. Hampir semua kasus kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus atau disingkat HPV. Ada lebih dari seratus jenis HPV, tapi sejauh ini hanya ada kira-kira 13 jenis virus yang bisa jadi penyebab kanker serviks. Virus ini paling sering ditularkan melalui hubungan seks tanpa kondom. Jadi, bukan karena pembalut!

2. Sampah pembalut perlu dipisahkan dari sampah lain karena takut tertular kanker

Salah. Banyak yang percaya bahwa membuang sampah pembalut tidak boleh disatukan dengan sampah lain, karena menyentuhnya akan menyebabkan kanker. Kanker pada dasarnya disebabkan oleh mutasi sel kanker yang mengganas, dan bisa dipicu oleh faktor genetik atau pola makan buruk. Kanker tidak menular, apalagi menular lewat sentuhan. Meski begitu, menjaga kebersihan selama menstruasi tetaplah penting.  Jika Anda malas untuk menjaga kebersihan vagina saat sedang menstruasi, maka Anda akan lebih rentan terkena berbagai penyakit.

Eits! Tapi jangan juga buang sampah bekas pembalut sembarangan, seperti di kali atau di sungai. Seperti sungai di kawassan Ponorogo yang biasa dijadikan tempat pembuangan sampah pembalut, popok, dan pakaian dalam oleh warga sekitar. Mereka percaya jika membuang sampah pembalut di sungai akan mendapatkan kesejukan karena air memiliki sifat sejuk dan dingin. Warga pun percaya jika pakaian dalam dibakar, maka pemilikinya akan sakit, kemaluannya akan terasa panas dan mudah terserang penyakit. Begitu juga jika popok bayi dibuang di tempat sampah, bayi akan rewel.

Mitos pembalut ini sama sekali tidak ada hubungannya. Yang ada, lingkungan dan air malah akan tercemar dan berpotensi menyebabkan wabah penyakit. Pasalnya kain popok dan pembalut yang menampung darah dan feses bisa menjadi tempat ideal untuk bakteri berkembang biak.

3. Pakai pembalut saat haid bikin mandul

Salah. Hingga saat ini, belum ada penelitian yang menyatakan bahwa pemakaian pembalut akan menyebabkan kemandulan. Namun salah satu penelitian di Pakistan menunjukkan bahwa pemakaian bahan atau material yang tidak bersih untuk menyerap darah menstruasi ternyata dapat meningkatkan risiko kemandulan. Meskipun belum tahu bagaimana prosesnya, namun menggunakan material yang bersih dan dapat menyerap darah dengan baik menjadi hal yang penting untuk kesehatan organ kewanitaan.

Di sisi lain, penggunaan material yang tidak tepat untuk penyerapan darah menstruasi dapat menimbulkan infeksi. Saat menstruasi, kelembaban di daerah intim akan meningkat karena darah yang keluar melalui lubang vagina dan hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi jamur maupun bakteri. 

Pembalut adalah produk yang dapat dipastikan kondisinya steril dan aman sebelum digunakan. Agar tetap bersih dan terhindar dari iritasi dan infeksi, sebaiknya rajin ganti pembalut 4-6 sekali atau ketika darah menstruasi sedang keluar banyak. Kalau mau aman, pastikan pembalut Anda memiliki nomor registrasi dari Kementrian Kesehatan RI sebagai bukti standar kesehatan nasional.

4. Pembalut berpewangi bikin darah menstruasi tidak bau

Salah. Pada dasarnya, aroma darah menstruasi sangat khas, karena mengandung sel-sel yang semula “hidup”. Perlu diketahui bahwa aroma darah menstruasi itu tidak akan tercium oleh orang lain.

Sebaliknya, bahan kimia yang digunakan sebagai pewangi pada pembalut justru berisiko memicu iritasi di area vagina. Jika vagina Anda terus menerus mengeluarkan bau tak sedap bahkan setelah haid usai, konsultasikan ke dokter.

5. Perekat di pembalut menyebabkan keputihan

Salah. Fungsi perekat pada pembalut adalah untuk merekatkan pembalut ke celana dalam agar tidak mudah bergeser atau lecek saat beraktivitas.

Keputihan adalah hal yang normal terjadi. Cairan ini justru membantu membersihkan vagina agar vagina tetap bersih dan sehat, serta menyediakan pelumas dan melindungi vagina dari infeksi dan iritasi. Namun jika cairan keputihan Anda tampak tidak normal, ini mungkin disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur. Di sisi lain, pola perekat berbentuk garis-garis tipis, jadi tidak menutupi seluruh bagian belakang pembalut sehingga sirkulasi udara tetap lancar dan bebas lembap. Sederhananya, perekat di pembalut bukan penyebab keputihan. Ini hanyalah salah sekian dari mitos pembalut yang tak perlu Anda percaya lagi.

Tidak suka pakai pembalut? Coba gunakan tampon atau menstrual cup

Terlepas dari beragam mitos pembalut di atas, secara kesehatan penting untuk menjaga kebersihan vagina Anda selama menstruasi.  Jika Anda tidak nyaman menggunakan pembalut, Anda bisa menggunakan tampon atau menstrual cup. Pastikan Anda secara teratur mengganti pembalut, tampon atau menstrual cup yang Anda pakai.

Waktu yang disarankan untuk ganti pembalut adalah setiap 4-6 jam pemakaian. Artinya, dalam sehari sebaiknya Anda ganti pembalut sebanyak 4-6 kali. Karena menggunakan pembalut, tampon, maupun menstrual cup selama lebih dari empat jam berisiko menyebabkan infeksi. Hal itu disebabkan karena organ kewanitaan Anda tak bisa bernapas melalui plastik yang melapisi pembalut dan menstrual cup. Selain itu, terlalu lama memakai tampon juga rentan menimbulkan toxic shock syndrome.

Pembalut yang tidak rutin diganti dapat menimbulkan bau dan infeksi dari bakteri dari darah haid. Selain itu, jika aliran darah Anda sangat banyak sementara pembalut sudah tidak cukup menampungnya, akhirnya dapat menyebabkan kebocoran. Untuk mencegah hal itu terjadi, sebaiknya kenali seberapa deras aliran darah Anda. Jika aliran darah deras dan pembalut yang Anda pakai tidak cukup banyak menyerap darah Anda, Anda mungkin harus ganti pembalut lebih sering.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca