Ada berbagai macam penyakit mental atau jiwa yang muncul akibat dampak dari peristiwa masa lalu. Dua di antaranya yakni skizofrenia dan bipolar disorder. Anda mungkin sering kali dibuat bingung oleh dua kondisi kejiwaan ini karena sekilas memiliki gejala yang hampir mirip. Sama-sama menyebabkan perubahan perilaku pada pengidapnya. Padahal tentu saja, keduanya sangatlah berbeda. Daripada salah mengartikan, pahami lebih jauh mengenai perbedaan skizofrenia dan bipolar disorder, yuk!

Apa perbedaan skizofrenia dan bipolar disorder?

Beda dampaknya

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan yang berpengaruh pada proses berpikir, berperilaku, serta berkomunikasi dengan orang lain. Dengan kata lain, pengidap skizofrenia biasanya sulit membedakan mana khayalan dan mana kenyataan. Mereka sering kesulitan untuk mengendalikan emosi serta perasaannya dalam kondisi tertentu.

Penderita skizofrenia mengaku sering mendengar suara-suara aneh dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak nyata. Itu sebabnya, banyak orang yang menyebut pengidap skizofrenia sebagai orang “gila” karena mengalami halusinasi sendiri.

Sementara bipolar disorder adalah kondisi kejiwaan yang membuat pengidapnya sering mengalami perubahan mood yang ekstrem. Akibatnya, perasaan mereka bisa cepat sekali berubah hanya dalam hitungan menit.

Misalnya dari sangat bahagia menjadi sangat sedih, atau dari tertawa lepas tiba-tiba menangis sesenggukan. Begitu pula sebaliknya.

gangguan bipolar

Beda penyebabnya

Perbedaan skizofrenia dan bipolar disorder lainnya bisa diamati dari penyebab awal. Meski sebenarnya sampai sekarang para pakar kesehatan belum dapat memastikan betul mengapa seseorang bisa mengalami gangguan kejiwaan, tapi setidaknya memang ada beberapa hal yang mengakibatkan kondisi tersebut.

Kondisi struktur otak dan sistem saraf pusat yang berbeda dari normalnya, ketidakseimbangan senyawa kimia dalam otak, genetik atau keturunan, lingkungan sekitar, hingga konsumsi obat-obatan tertentu, diyakini sebagai beberapa faktor penyebab skizofrenia.

Sedikit berbeda pada bipolar disorder, struktur otak, senyawa kimia, dan keturunan keluarga memang mungkin jadi penyebabnya, tapi tidak hanya itu. Stres dan depresi akibat trauma masa lalu bisa berbuntut panjang hingga memengaruhi kepribadian dan perilaku seseorang di masa sekarang.

Beda tanda dan gejalanya

Memang sama-sama termasuk penyakit kejiwaan, tapi gejala seseorang yang mengalami skizofrenia dan bipolar disorder tidak bisa disamakan begitu saja. Berikut perbedaan skizofrenia dan bipolar disorder dari segi gejalanya:

Skizofrenia

  • Halusinasi. Pengidap skizofrenia merasa seperti melihat dan mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
  • Delusi. Meyakini suatu hal yang tidak jelas kebenarannya, misalnya merasa ada yang ingin mencelakakan dirinya atau selalu diamati oleh sosok asing.
  • Gerakan tubuh berbeda. Ditandai dengan sering merasa gelisah, melakukan gerakan yang sama berulang kali, bahkan tidak bergerak sama sekali.
  • Sulit berpikir dan bicara dengan jelas. Orang dengan skizofrenia bisa kehilangan konsentrasi dalam berpikir sehingga ketika bicara, ucapakan yang keluar cenderung tidak masuk akal dan susah dimengerti.
  • Kehilangan semangat. Pengidap skizofrenia juga jadi lebih sering mengurung di rumah, menghindari interaksi sosial dengan banyak orang, dan enggan melakukan banyak kegiatan. Hal ini karena mereka takut “episode” skizofrenia akan kambuh kembali.

Bipolar disorder

Tanda khas dari orang dengan bipolar disorder adalah perubahan suasana hati dalam waktu singkat. Ada fase di mana mereka merasa sangat bahagia dan bersemangat, dinamakan “episode manic”. Ada pula fase ketika mereka merasa sangat sedih dan depresi, dinamakan “episode depresif”.

Cara untuk memastikan apakah seseorang benar-benar mengalami bipolar disorder, yakni ketika mereka mengalami episode manic yang benar-benar bahagia sampai mendadak berubah drastis menjadi episode depresif parah. Kejadian ini biasanya bisa berlangsung dalam hitungan waktu yang cepat, seperti:

  • Hiperaktif
  • Penuh energi
  • Sangat bahagia
  • Sangat gelisah
  • Mudah marah
  • Berpikir untuk bunuh diri ketika episode depresif sudah memburuk

Beda pengobatannya

Beda tanda dan gejalanya, tentu akan berbeda pula pengobatannya. Pemberian obat-obatan antipsikotik merupakan langkah penting untuk membantu mencegah kambuhnya episode skizofrenia, sekaligus memperbaiki kondisi kesehatan penderita.

Dukungan dari keluarga, pengaruh sosial, terapi bicara, serta rutin melakukan psikoterapi, juga memberikan dampak besar terhadap kehidupan pengidap skizofrenia.

Sedangkan bagi orang yang mengalami bipolar disorder, bukan hanya obat antipsikotik saja yang diberikan tapi biasanya akan ditambah dengan obat antidepresan dan pengatur mood. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, serta psikoterapi juga tentu dibutuhkan oleh pengidap bipolar disorder.

Namun bedanya, psikoterapi yang diberikan pada pasien bipolar disorder akan fokus pada mempelajar bagaimana cara mengelola perubahan suasana hati yang terjadi tiba-tiba.

Selebihnya, kedua kondisi kejiwaan ini akan sama-sama berlatih untuk menghindari pemicu yang bisa membuat episode penyakitnya kambuh, serta menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang sekitar.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca