Pengobatan Hemodialisis dan CAPD untuk Gagal Ginjal, Mana yang Lebih Baik?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal tayang Maret 23, 2020
Bagikan sekarang

Ketika pasien menderita gagal ginjal, mereka akan kehilangan fungsi untuk mengeluarkan kotoran sisa pembuangan dari dalam tubuhnya. Agar bisa bertahan hidup, pasien harus melakukan pengobatan cuci darah agar kotoran tidak menumpuk dalam darah. Ada dua metode yang umumnya dilakukan, yaitu hemodialisis dan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD). Lantas, bagaimana perbandingan di antara hemodialisis dan CAPD? Manakah yang lebih baik?

Bagaimana cara kerja hemodialisis dan CAPD?

fungsi ginjal, fungsi bagian ginjal, bagian-bagian ginjal, penyakit ginjal, pemeriksaan fungsi ginjal

Sebelum mengetahui perbandingan dari hemodialisis dan CAPD, sebaiknya Anda mengetahui terlebih dahulu bagaimana kedua pengobatan tersebut bekerja.

Hemodialisis merupakan sebuah prosedur cuci darah menggunakan mesin dialyzer yang fungsinya dibuat menyerupai ginjal. Dokter atau petugas akan memasukkan kateter yang menyerupai tabung halus ke dalam pembuluh darah besar di leher atau dada. Nantinya, darah akan dikeluarkan dari tubuh lalu disaring melalui mesin sebelum dialirkan kembali ke dalam tubuh.

Jika Anda membutuhkan pengobatan dengan jangka waktu yang lebih lama, dokter mungkin akan membuat akses dengan menggabungkan arteri pada vena di bawah kulit sehingga pembuluh darah menjadi lebih besar dan akses aliran darah lebih mudah. Namun, prosedur tersebut harus dilakukan beberapa bulan sebelum Anda memulai hemodialisis.

Biasanya hemodialisis dilakukan tiga kali dalam seminggu, setiap pengobatannya menghabiskan waktu sekitar empat jam atau bisa lebih tergantung pada banyaknya cairan yang harus dikeluarkan.

Berbeda dengan hemodialisis, prosedur CAPD tidak menggunakan mesin. Prosedur ini akan memanfaatkan membran peritoneal pada lapisan di dalam perut Anda sebagai penyaring darah alami.

Sebelum memulai perawatan ini, Anda akan menjalani operasi kecil untuk memasukkan kateter ke dalam perut. Nantinya, cairan dialisis yang terbuat dari campuran gula dan mineral akan dimasukkan ke dalam perut melalui kateter. Setelah kantung cairan sudah kosong, Anda tinggal melepas dan menyegel kateter lalu beraktivitas kembali seperti biasa.

Cairan yang sudah masuk akan tinggal di dalam perut selama beberapa jam. Pada saat itulah cairan dialisis akan menyerap kotoran dan cairan yang tidak dibutuhkan di dalam tubuh. Setelah selesai, keluarkan cairan dialisis dari perut lalu isi kembali dengan cairan yang baru. Biasanya prosedur ini bisa dilakukan 3-5 kali dalam sehari.

Manakah yang lebih baik, hemodialisis atau CAPD?

perbandingan hemodialisis dan CAPD

Sebelum memilih pengobatan mana yang tepat untuk Anda, mungkin ada baiknya jika Anda mengetahui perbandingan di antara pengobatan dengan metode hemodialisis dan metode CAPD.

Mungkin, banyak orang yang merasa bahwa pengobatan dengan metode CAPD lebih praktis dibandingkan dengan hemodialisis. Karena pengobatan ini dapat dilakukan sendiri, Anda dapat mengontrol sendiri seberapa cairan yang akan digunakan untuk mencuci darah sehingga tidak akan memberatkan kerja jantung dan pembuluh darah.

Selain itu, Anda bisa langsung melakukan aktivitas seperti biasa setelah pengobatan. CAPD juga dapat dilakukan di mana-mana. Bahkan ketika Anda melakukan perjalanan jarak jauh, pengobatan tetap akan berlangsung selama Anda membawa persediaan kantong cairan dialisis yang cukup. Dengan CAPD, obat-obatan yang digunakan juga tidak sebanyak jika Anda melakukan hemodialisis.

Bila membicarakan tentang pengobatan mana yang lebih efektif, belum ada bukti yang menyatakan secara jelas bahwa satu metode pengobatan lebih baik daripada yang lainnya.

Seperti yang diketahui, tujuan utama pengobatan dialisis adalah memperpanjang dan menjaga kualitas hidup pasien, bukan menyembuhkan gagal ginjal.

Ada beberapa penelitian yang menyatakan bahwa pengobatan hemodialisis lebih memberikan hasil yang optimal untuk perbaikan kondisi pasien dibanding dengan pengobatan CAPD.

Namun, ada juga yang menunjukkan bahwa hasil dari pengobatan dialisis peritoneal (PD) termasuk CAPD tak jauh berbeda dengan hemodialisis, bahkan bekerja sedikit lebih baik pada beberapa pasien.

Untuk memastikannya, sekelompok peneliti dari Singapura pun mengadakan penelitian untuk membandingkan tingkat harapan hidup di antara pasien yang memilih pengobatan hemodialisis dengan pasien yang menjalani pengobatan PD.

Penelitian tersebut melibatkan 871 pasien, 641 pasien memulai pengobatan dengan hemodialisis, sedangkan 230 pasien memulai pengobatan dengan dialisis peritoneal termasuk CAPD.

Kemudian, peneliti melihat perkembangan pasien selama lima tahun sejak memulai pengobatan dengan turut mempertimbangkan faktor kesehatan tubuh pasien dan faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, dan etnis.

Hasil pengobatan di antara keduanya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan

perawatan tubuh pasien kanker

Peneliti tidak melihat adanya perbedaan yang signifikan di antara pasien yang melakukan pengobatan hemodialisis dengan pengobatan dialisis peritoneal termasuk CAPD.

Hasil penelitian memperlihatkan, terdapat 157 kasus kematian pada pasien yang menjalani pengobatan dialisis peritoneal dalam kurun waktu lima tahun tersebut. Sedangkan, terdapat 225 kasus kematian pada pasien yang menjalani pengobatan hemodialisis.

Jika dibandingkan dengan jumlah pasien pada masing-masing pengobatan, persentase kematian dari kelompok dialisis peritoneal memang lebih besar dibandingkan dengan kelompok hemodialisis. Namun, hasil ini juga tidak bisa ditelan mentah-mentah. Faktor-faktor lainnya juga turut menentukan seberapa baik pengobatan bekerja.

Pada kelompok yang menjalani dialisis peritoneal, banyak pasien yang juga memiliki kondisi kesehatan lainnya seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung. Beberapa dari mereka juga memiliki kadar hemoglobin dan protein yang lebih tinggi.

Pengobatan CAPD mungkin akan disarankan kepada pasien yang lebih muda dan lebih sehat. Meski demikian, penelitian lebih lanjut masih harus dilakukan untuk melihat keefektifannya.

Memilih pengobatan untuk gagal ginjal yang tepat

puasa untuk pasien ginjal

Terlepas dari hasil penelitian, pengobatan hemodialisis dan CAPD memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Pengobatan CAPD mungkin akan dianjurkan jika Anda tidak bisa mentolerir perubahan mendadak dalam keseimbangan cairan yang biasanya akan terjadi ketika menjalani hemodialisis. CAPD juga lebih cocok untuk Anda yang memiliki kesibukan dan masih ingin bekerja atau bepergian ke tempat yang jauh.

CAPD atau jenis dialisis peritoneal lainnya tidak disarankan pada pasien yang memiliki bekas operasi besar di sekitar perut, hernia, dan masalah radang usus. Terlebih untuk Anda yang juga memiliki diabetes, cairan dialisis yang digunakan pada pengobatan ini mengandung gula sehingga dikhawatirkan dapat meningkatkan kadar gula darah atau hiperglikemia.

Memang, hemodialisis akan kurang praktis jika dibandingkan CAPD. Namun kelebihannya, Anda akan mendapatkan bantuan dari petugas yang sudah terlatih sehingga kesalahan yang terjadi saat pengobatan sangatlah minim. Anda juga tidak perlu menyiapkan alat-alat di rumah karena semua sudah tersedia di rumah sakit.

Sebenarnya pengobatan ini bisa juga dilakukan di rumah, hanya saja belum banyak rumah sakit atau pusat kesehatan yang menyediakan layanan ini. Anda harus menjalani pengobatan sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Anda juga mungkin akan membutuhkan waktu sekitar dua jam setelah pengobatan sebelum merasa pulih kembali.

Jika Anda masih belum yakin memilih di antara pengobatan hemodialisis dan CAPD, konsultasikan kembali pada dokter untuk menyesuaikan dengan kondisi yang Anda miliki.

Hal yang harus dilakukan saat menjalani pengobatan gagal ginjal

Baik hemodialisis maupun CPAD, pengobatan yang dijalani pun tentunya harus disertai dengan pola hidup yang lebih sehat. Berikut adalah beberapa hal yang sebaiknya Anda lakukan selama menjalani pengobatan:

  • Makan makanan sehat. Batasi makanan dengan kandungan protein, sodium, kalium, dan fosfor yang tinggi. Konsultasikan dengan dokter atau ahli diet untuk menentukan pola makan yang tepat.
  • Konsumsi obat-obatan sesuai dengan aturan yang diberikan dokter.
  • Khusus untuk yang menjalani pengobatan dialisis peritoneal, hindari berendam dengan air panas atau tempat-tempat dengan air yang tidak diberi klorin agar tidak terkena infeksi.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Jangan Disepelekan, Ada Berbagai Efek Samping Cuci Darah (Hemodialisis) yang Mungkin Terjadi

Cuci darah merupakan hal wajib yang harus rutin dilakukan oleh pasien gagal ginjal akut. Meski begitu, ada beberapa efek samping cuci darah di baliknya.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik Januari 21, 2019

Ginjal Polikistik

Penyakit ginjal polikistik adalah salah satu penyakit kelainan genetik. Apakah penyakit ini berbahaya? Siapa saja yang mungkin terkena penyakit ini?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Rena Widyawinata
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z Januari 8, 2019

Hati-hati, 7 Hal Ini Bisa Membuat Tubuh Mengalami Kelebihan Cairan

Tubuh memerlukan cairan tetapi jika kelebihan bisa merusak kesehatan. Untuk mencegahnya, cari tahu dahulu penyebab kelebihan cairan dalam tubuh di sini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Widya Citra Andini
Hidup Sehat, Fakta Unik Januari 5, 2019

Penyebab dan Cara Meredakan Sakit Pinggang Karena Penyakit Ginjal

Penyakit ginjal adalah salah satu penyebab sakit pinggang yang umum. Nah, sakit pinggang karena penyakit ginjal biasanya memunculkan ciri-ciri yang khas.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Atifa Adlina
Nyeri Kronis, Health Centers Desember 6, 2018

Direkomendasikan untuk Anda

Perawatan Pasien Cuci Darah yang Rentan Tertular COVID-19

Perawatan Pasien Cuci Darah yang Rentan Tertular COVID-19

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal tayang April 9, 2020
Apa Itu Prosedur Cimino Dalam Proses Cuci Darah?

Apa Itu Prosedur Cimino Dalam Proses Cuci Darah?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Ihda Fadila
Tanggal tayang Maret 31, 2020
Cara Mengatasi Tubuh yang Demam dan Menggigil Saat Cuci Darah

Cara Mengatasi Tubuh yang Demam dan Menggigil Saat Cuci Darah

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal tayang Agustus 9, 2019
Sebaiknya Berobat ke Mana Jika Anda Perlu Cuci Darah?

Sebaiknya Berobat ke Mana Jika Anda Perlu Cuci Darah?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Diah Ayu
Tanggal tayang Juni 23, 2019